HarianBernas.com – Dr.Ing.Ir.Agus Maryono menekuni karirnya sebagai dosen di bidang sumber daya air di Universitas Gadjah Mada, khususnya sungai, banjir, kekeringan, dan lingkungan sebagai major, serta pembakit listrik sebagai minor.
Untuk membagikan ilmunya kepada sesama, ia begitu akrab dengan media sosial sehingga memanfaatkan medsos seperti FB, twitter, WA, youtube, dan lain-lain. Pengetahuan tentang sosialnya didapat dari diskusi dengan istri Dra. widati AM Lic.rer.reg, ketua Lppm STPMD APMD saat sama-sama sekolah di Jerman.
Lulusan S3 bidang Hidro dari University of Karlsruhe, Jerman ini sebetulnya mulai menyukai bidang air sejak kecil karena sosok Bapak, Wagiyono Puspo Haryono, pegawai PU untuk sumber daya air yang mulai dari menjadi juru pengairan, mantri pengairan, dan wakil kepala cabang dinas pengairan di Sukoharjo. ?Pada saat itu, saya selalu diajak ke sungai, saluran irigasi waduk, bendungan. Di bawah sadar saya, terus tumbuh kesukaan saya dengan air. Saat itu, saat memilih jurusan Hidro, Sumber Daya Air, di Teknik Sipil UGM selain karena bermimpi tentang banjir besar Nabi Nuh.?
Setelah hampir 7,5 tahun belajar dan riset di Jerman, penulis delapan judul buku tentang sungai ini memilih kembali ke Indonesia. ?Permasalahan air di Indonesia sangat luar biasa besarnya, baik dari kualitas dan kuantitas. Sekitar tahun 2000-an, secara kualitas, air sungai-sungai di Indonesia itu kotor sekali. Mulai dari limbah industri dan limbah rumah tangga, semua masuk ke sungai. Belum ada yang mengurusi.
Secara kuantitas, banjir terjadi saat musim hujan, kekeringan saat musim kemarau, kebutuhan air meningkat, kesehatan masyarakat menurun karena kurang air bersih, problem masyarakat pesisir terus meningkat, serta di pegunungan longsor dan erosi terjadi.?
Sejak tahun 2000, ia bersama kawan-kawannya di UGM dan di luar, serta masyarakat memikirkan bagaimana menyelesaikan masalah sungai, terutama kualitasnya. ?Kita mulai membantu menghidupkan komunitas sungai, misal komunitas code, komunitas gajah wong, dst. Tahun 2014 awal, WhatApp muncul sehingga dalam waktu cepat, orang bisa berhubungan dengan cepat dengan membuat grup. Saat itu, terjadilah revolusi di bidang pengolahan sumber daya air, khususnya munculnya grup komunitas sungai di WA. Saya menjadi administrator.
Grup 1 GRS (Gerakan Restorasi Sungai) di Yogjakarta, Grup 2 GRS Jakarta-Bogor, Grup 3 GRS Bandung, Grup 4 GRS Solo dan Surakarta, Grup 5 GRS Semarang, Grup 6 GRS Surabaya, Grup 7 GRS Klaten, Grup 8 Makassar, dst. Sampai sekarang, ada 24 grup. Terakhir, grup WA di Ambon, Maluku.
Grup WA ini khusus untuk peduli sungai, misal membersihkan sungai, memelihara sungai, menanami pinggiran sungai, dan mematok sempadan sungai. Tujuannya memulihkan kembali fungsi dan kondisi sungai sejauh mungkin ke kondisi semula. Akan terus bergerak terus sampai Jambi, Aceh, ke seluruh Indonesia. Gerakan ini tidak memakai ketua, tapi kesadaran yang terus muncul. WA hanya komunikasinya, mereka bekerja dengan komunitasnya.?
Restorasi sungai terdiri dari restorasi hidrologi pemulihan kualitas dan kuantitas air. Ekologi pemulihan flora dan fauna. Morfologi pemulihan bentuk dan alur sungai sempadan sungai. Pemulihan sosial ekonomi budaya cinta sungai dan restorasi pemulihan kelembagaan dan peraturan sungai.
Selain sungai kotor, permasalahan yang terjadi di sungai adalah merangseknya atau bergeraknya pemukiman ke sungai. ?Mengambil bantaran banyak sekali dan sekarang masih berlangsung. Cara menghentikannya, sosialisasi bahwa itu tidak benar. Kalau ada pengembang yang membeli tanah dan membangun di sekitar sungai, kita protes bahwa itu adalah hak milik sungai sehingga tidak ada penyerobotan sempadan sungai. Boleh dimiliki, tapi tidak boleh dibangun permanen.?
Untuk masalah terkait kesadaran masyarakat atau ilmu tentang sungai, di Jogja sudah cukup tinggi. ?Artinya, di Jogja seringkali ada berita-berita tentang sungai, minimal satu minggu sekali. Kesadaran dengan sekolah sungai di GRS. Yang dipelajari, ilmu tentang sungai, sungai itu apa, batasannya apa, sempadan itu apa, hidrologinya seperti apa, morfologinya kayak apa, tamannya seperti apa, dan seterusanya.
Sekolah sungai, satu sekolah yang informal. Semua orang bisa membikin. Materi terserah kelompok masyarakat gerakan restorasi sungai, sangat fleksibel sekali, misal diisi penyakit terkait sungai. Gerakan sekolah sungai adalah spirit atau roh yang berjalan ke mana-mana. Siapapun yang mau mengadakan sekolah sungai, silakan.?
Bagi lulusan teknik sipil UGM ini, tantangannya ke depan terkait masalah sungai adalah secepat mungkin menumbuhkan komunitas sungai yang saat ini baru berjumlah 24 grup GRS di Indonesia karena sungai besar di Indonesia berjumlah 6000. ?Dalam jangka panjang, semua sungai itu ada yang jaga, yaitu masyarakatnya supaya tetap bersih. Semua orang boleh melakukan sesuatu untuk sungai asal mengikuti 6 aturan, yaitu 1.Sungai Bersih, 2.Sungai Sehat, 3.Sungai Produktif, 4.Sungai Aman, 5.Sungai Lestari, dan 6.Sungai Bermanfaat untuk Semuanya.?
Karena sistem organisasi GRS adalah network maka sistemnya gerakan. ?Gerakan itu tidak ada ketuanya. Struktur organisasinya, network. Sistem organisasinya, kesepahaman dan kesepakatan. Hal yang membantu GRS dari UGM dan komunitas sungai. Kita harus mengubah pikiran, saya dibantu siapa, bukan. Saya melakukan, yang lain juga melakukan. Saya mengawali grup komunikasi WA di seluruh Indonesia dan membangun di berbagai tempat.?
Memanen Air Hujan
Selain Gerakan Restorasi Sungai, pria kelahiran Sukoharjo ini juga menggencarkan Gerakan memanen air hujan. ?Satu upaya bersama yang didorong oleh motivasi, spirit, roh yang tinggi (gerakan) untuk menjadikan hujan sebagai potensi air bersih. Jadi, air bersih untuk masyarakat, air hujan tidak menyebakan banjir, dan tidak menyebabkan kekeringan.
Diupayakan air hujan itu bisa bernilai bagi semua orang. Sumber daya air di Indonesia mengalami ancaman ke depan, misal Jogja itu kalau musim hujan bisa banjir di Code dan Winongo, airnya banyak, tapi air tanah turun terus. Setahun sampai 50 cm karena pengisian air tanahnya kurang karena lahan sudah ditutup dengan banyak beton dan di Merapi sana pastinya sudah banyak pertumbuhan hunian.?
Bagi penyuka hobi menyanyi dan bermain gitar ini, hujan itu menjadi bagian penting yang harus kita perhatikan. ?Memanen itu sebetulnya istilah lain dari mengelola. Bagaimana hujan itu bisa kita tangkap dan tampung untuk kebutuhan mandi, mencuci, dan sebagainya. Kelebihannya, kita masukan ke tanah untuk mengisi air tanah.
Kalau setiap orang melakukan itu maka sebenarnya dia sudah terhindar dari kekeringan karena kualitas air hujan untuk minum bagus, kebutuhan air yang lain juga bagus, dan mengisi air tanah juga bagus. Kita tidak akan kekeringan karena sudah menampung di dalam tanah dengan injeksi langsung ke tanah atau di samping menampung di luar tanah dengan tanah.?
Di Indonesia sudah banyak untuk gerakan memanen air hujan dengan grup WA yang beranggotakan 233 anggota yang terdiri dari banyak kalangan. ?Kita berkampanye dengan pikirannya dulu. Pikirannya berubah dulu karena pikiran itu dasar untuk perubahan. Dari pikiran yang berubah, ia menemukan sesuatu, lalu melakukan tindakan. Grup memanen hujan belum sedahsyat GRS.?
Menurut pengagum Nabi Muhammad ini, hujan menimpa setiap orang sebagai rahmat, tapi orang belum melihat hujan itu perlu diselamatkan. ?Kesadaran itu belum ada. Kita itu kalau melihat hujan deras hanya masih melihat. Belum berpikir ini air bersih, ini untuk apa ya, belum. Butuh waktu lama untuk menyadarkan orang tentang air hujan. Hujan itu adalah air yang paling bersih di dunia karena air hujan hasil destilasi dari air laut.?
Baginya bidang yang digeluti ini penting dilakukan dan dibagikan kepada masyarakat karena penyelesaian sumber daya air, gerakan restorasi sungai dan memanen air hujan tidak bisa dikerjakan orang per orang atau Pemerintah saja. ?Karena luasnya dan begitu besar volume masalahnya, urusan air itu, urusan kita bersama.?
Untuk itu, ahli hidrologi UGM ini membagikan inspirasi. ?Karena ini sifatnya gerakan, siapapun yang membaca artikel ini, semoga akan tersentuh dan akan tumbuh hatinya untuk ikut dalam gerakan restorasi sungai dan gerakan memanen air hujan. Sungai itu akan ada dalam jarak satu kilometer, meskipun sungai kecil.
Selain itu, akan muncul keinginan untuk bergabung dengan komunitas sungai yang sudah ada atau membuat kelompok sendiri untuk melihat sungai dan apa yang bisa dikerjakan, misal kalau ada sampah, ambil sampahnya, ikut mengupload foto di media sosial tentang sungai, dan kalau ada yang mau membuang sampah di sungai, kita tahan, dll.?
Dalam gerakan restorasi sungai, yang ingin diembuskan adalah cinta dan kebersamaan (networking dan gotong royong). ?Cinta harmoni yang progresif menghasilkan produk maka cintailah sungai karena menurut Slamet Raharjo, sungai itu ibu kita. Kita belum ada, sungai sudah ada. Memberi air, ikan, dan kayu pada kita. Peradapan itu dari sungai. Ibu kita ini sedang sakit saat ini karena sampah limbah industri, limbah domestik, atau terus dipepet oleh hunian.?
Data Profil
Nama: Dr.Ing.Ir.Agus Maryono
Pekerjaan: Dosen Teknik Sipil Sekolah Vokasi, UGM, Dosen Pasca Sarjana UGM untuk Magister Teknologi Pembangunan Berkelanjutan (MTPB), dan Dosen untuk S2 tentang Magister Teknik Sistem, Fakultas Teknik, UGM.
Buku yang diterbitkan: ?Eko-Hidraulik Pengelolaan Sungai?, ?Menangani Banjir, Kekeringan dan Lingkungan?, ?Restorasi Sungai?, ?Tangga Ikan Fishway?, ?Hidrolika Terapan?, ?Pedoman Memanen Air Hujan?, ?Pola Pikir Sistem?, dan ?Pengelolaan Kawasan Sempadan Sungai?
Penghargaan: Pelopor Restorasi Sungai di tahun 2015 dari Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan sebagai dan penulis artikel terbaik nasional ke-PU-an 2009 dalam rangka HUT ke-64 Departemen Pekerjaan Umum (DPU).
No HP (WA): 0811254254, email: agusmaryono@yahoo.com, FB: agusmaryono, dan Youtube: Agusmaryono. Kantor: Kampus Bulaksumur, UGM, Jl. Kaliurang KM 4,5, Yogyakarta
