Musik, tak ada kata yang habis untuk membahasnya. Mungkin karena hampir semua orang tak dapat hidup tanpa musik. Dengan musik semua terasa berwarna. Ini pula yang dirasakan perempuan berkulit sawo matang ini. Lourentia Kinkin adalah seorang penyanyi yang memulai karir bernyanyi di Yogyakarta.
Sejak kecil, Kinkin sudah mencintai dunia tarik suara. Ia mengawali rasa cintanya terhadap musik dengan cara mengikuti kegiatan paduan suara di sekolah. Ia memulai keseriusannya, pada musik pada tahun 2015. Berawal dari sebuah ketidaksengajaan menggantikan vokalis sebuah band temannya pada saat kuliah. Pada 2017, perempuan asal madiun ini meyakinkan diri untuk meluncurkan single. “Pada tahun itu aku berpikir, tidak mungkin reguleran saja. Masa tidak ada sesuatu yang baru” tandasnya.
Ia telah menciptakan puluhan lagu sendiri, meskipun saat ini yang direalisasikan dalam satu album baru berjumlah sembilan track. Hampir seluruh lagu-lagu tersebut terinspirasi dari lamunan, pengalaman pribadi, dan lingkungan sekitarnya. Namun, siapa sangka dari hal-hal sederhana ini, seorang Lourentia Kinkin berhasil mewujudkan album yang telah lama dicita-citakannya. Lagu-lagu yang diciptakan begitu dekat dengan kejadian yang mungkin saat ini sering kita alami dilingkungan sekitar.
Kinkin mengaku mendapatkan inspirasi bermusik dari lamunannya ketika mengingat kejadian-kejadian unik di sekitarnya. “Salah satu lagu yang bisa dijadikan contoh yang berjudul apa kabar jakarta. Lagu ini tidak terduga, aku membuatnya di kereta menuju Jakarta. Dalam lamunanku saat itu, sepertinya unik juga kalau bikin lagu tentang perkotaan” tandasnya. Ia selalu peka terhadap sekitar, mungkin ini pula yang menjadi penanda atau karakteristiknya saat menciptakan karya. Ia menciptakan lagu dari pengalaman pribadi dan sekitarnya karena meyakini bahwa hal tersebut juga dekat dengan para pendengarnya.

“Sebenarnya lagu-lagu yang aku ciptakan inspirasinya dari mana saja, dekat dengan sekitarku” tandasnya. Salah satunya Album “Daydreaming: From Your Bedroom” yang menggambarkan kompleksitas perasaan. “Album ini misalnya, aku mendapat inspirasi dari kegiatan yang ku alami pandemi 2020 kemarin” tambahnya kepada tim bernas.id. Lewat album ini, ia ingin mengajak pendengar untuk menyelami lautan perasaan yang mendadak muncul ketika kita sedang melamun. “Aku menciptakan lagu sebenarnya selain karena memang mencintai musik. Aku juga ingin menjadikan karya-karyaku sebagai pengingat hal monumental dalam hidup” tandasnya.
Perempuan manis ini, berpesan pada pembaca, musisi, atau bagi yang ingin bermusik bahwa apapun alasan utama anda bermusik, untuk dapat bertahan dibutuhkan karakter dan konsistensi. “Sebenarnya untuk bermusik dibutuhkan konsistensi. Pernah kehilangan inspirasi dan kreativitas, dipaksakan menulis lagu juga tidak keluar idenya. Cobalah lihat sekitarmu untuk menemukan rasanya kembali” tambahnya.
Menurutnya menemukan teman bermusik yang pas, juga merupakan salah satu hal penting. Terbukti dari albumnya, selama proses produksi berjalan ia menggandeng partner yang dipercayai seperti Enricko Rahayaan sebagai music producer, music director sekaligus keyboardist. Ia juga mempercayakan Agung Santoso, sebagai gitaris inti. Teman atau partner bermusik yang pas akan membantu kita dalam menemukan kembali inspirasi dan motivasi ketika sedang krisis kreativitas. “Carilah partner yang menilai musikmu sama denganmu. Musik itu ibarat adonan, kita dan partner harus tahu adonan ini akan jadi Bolu kukus atau Bakpau. Harus punya visi misi yang sama” tandasnya.
