Yogyakarta, HarianBernas.com- Sekolah Sungai telah berkembang menjadi percontohan nasional, khususnya untuk meningkatkan kesadaran masyarakat terkait mitigasi bencana, Jumat (12/8)
“Badan Penanggulangan Bencana Nasional (BNPB) memberikan tanggapan yang cukup baik, bahkan 48 perwakilan fasilitator dari 18 kota/kabupaten di sepanjang aliran Sungai Bengawan Solo yang 'bersekolah' di Sekolah Sungai,” jelas Harris Syarif Usman, Ketua Asosiasi Sungai Yogyakarta.
Sekolah sungai yang semula digagas Asosiasi Sungai Yogyakarta sejak Oktober 2015 di Jetisharjo Yogyakarta ini sudah mempunyai kurikulum pengajaran sendiri tentang mitigasi bencana dan pelestarian lingkungan, serta dapat diterapkan oleh warga di sepanjang bantaran sungai.
Saat ini, Sekolah Sungai masih terbatas untuk warga di bantaran Sungai Code dan Boyong, tapi akan terus diperluas sampai ke seluruh sungai di Kota Yogyakarta.
“Ada banyak masukan yang diberikan warga. Salah satunya, pembentukan kampung tangguh bencana untuk meningkatkan kemandirian warga menanggulangi bencana,” imbuh Harris.
Potensi bencana di bantaran sungai masih tinggi, khususnya saat musim hujan, yaitu luapan air sungai dan tanah longsor.
Sementara itu, Ketua Pemerti Code, Totok Pratopo menyebut Gerakan Restorasi Sungai Indonesia memperoleh tanggapan yang baik dari masyarakat dan berbagai pihak lain.
“Kesadaran masyarakat untuk menjaga kawasan sungai mulai terbangun sedikit demi sedikit namun masih membutuhkan kerja keras agar warga memiliki kesadaran memelihara lingkungannya,” jelasnya.
Kesadaran masyarakat yang masih perlu dibangun, yaitu pengelolan limbah rumah tangga, serta memberikan ruang sempadan sungai agar dapat berfungsi untuk pengaman.
