BANTUL, HarianBernas.com – Bupati Bantul, Yogyakarta, Suharsono menginginkan evaluasi terhadap acara Bantul Ekspo di Pasar Seni Gabusan karena adanya sejumlah catatan, Jumat (12/8/16).
“Adanya PKL di Bantul Ekspo wajar karena ingin cari rejeki. Namun ke depan yang dibutuhkan, penataannya. Kalau ada pungutan, jangan dipatok,” imbaunya.
Bupati Suharsono memberikan catatan dalam penyelengaraan Bantul Ekspo seperti adanya uang pungutan dari stan di luar dari Bagian Humas Pemkab selaku panitia dan pihak ketiga, serta stan pedagang kaki lima (PKL).
Bantul Ekspo telah menjadi agenda tahunan Pemkab Bantul dalam rangka peringatan Hari Jadi Kabupaten Bantul. Pada tahun 2016 ini, Bantul Ekspo diadakan dari tanggal 1-11 Agustus 2016 di Pasar Seni Gabusan dengan pameran pembangunan dan produk kerajinan.
Suharsono memberikan solusi tentang pungutan kepada PKL, misal dengan menyediakan kotak-kotak kontribusi untuk menampung uang dari pedagang. Nantinya, uang itu akan dipakai untuk kebersihan kawasan Pasar Seni Gabusan.
“Para pedagang harus bertanggung jawab dengan kebersihan lokasi. Sebab jika bersih, pengunjung akan nyaman,” imbuh Suharsono.
Suharsono juga mengkritik penataan stan Bantul Ekspo 2016 yang kurang tepat, terutama stan di barisan depan atau sekitar pintu masuk arena yang menghadap ke barat. Seharusnya stan di dekat pintu masuk, ada yang menghadap ke arah timur, tidak ke barat semua,
?Kalau begini kan yang kelihatan belakangnya,” imbuhnya.
Selain itu, Bupati Bantul juga menyoroti stan-stan kecamatan. Sebaiknya, kecamatan mempunyai stan baku di kawasan Pasar Seni Gabusan karena Bantul Ekspo menjadi kegiatan rutin tahunan Pemkab Bantul. Bongkar pasang stan setiap tahun dinilai tidak efektif dan dirasa sia-sia. Stan baku akan bisa digunakan kecamatan untuk memajang beragam produk unggulan di hari-hari biasa.
“Perlu ada pertimbangan untuk merealisasikan stan baku ini. Dengan catatan, penyelenggaraan Bantul Ekspo masih di kawasan Pasar Seni Gabusan,” imbuhnya.
