BANTUL, HarianBernas.com– Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD), Kabupaten Bantul, Yogyakarta, refleksi 10 tahun gempa bumi dapat menjadi momentum untuk meningkatkan kesiapsiagaan masyarakat terhadap bencana gempa bumi,Kamis (26/5).
“Refleksi gempa 10 tahun ini diharapkan menjadi momentum bermakna bagi masyarakat Bantul yang selama ini tidak mengira dan menduga bahwa Kabupaten Bantul punya potensi bencana dahsyat,” terang Kepala BPBD Bantul Dwi Daryanto di Bantul.
Gempa tektonik berkekuatan 5,9 SR pada 27 Mei 2006 berdampak pada kerusakan infrastruktur ataupun korban jiwa.
Bantul menjadi wilayah yang terparah karena pusat gempa bumi 10 tahun silam itu sehingga mau tidak mau, suka tidak suka harus selalu meningkatkan kesiapsiagaan bencana karena kapanpun dan di manapun, kita harus terus berupaya terlibat dalam pengurangan risiko bencana, imbuh Dwi Daryanto.
“Saat peristiwa itu, masyarakat Bantul tidak siap sehingga korban jiwa di Bantul mencapai 4.100 jiwa lebih dengan kerugian hampir sebesar Rp28 triliun. Kurang dari satu menit, tingkat kerugian sedemikian dahsyat,” terangnya.
Bersamaan dengan refleksi 10 tahun gempa bumi Yogyakarta, BPBD Bantul dengan persetujuan Gubernur DIY, Sri Sultan HB X membangun sebuah prasasti yang menjadi 'penanda' di wilayah pusat episentrum gempa 2006 di Potrobayan, Desa Srihardono Pundong.
“Supaya masyarakat selalu ingat musibah yang menjadi sejarah, bahkan lebih dari itu, tidak hanya ingat, tapi lebih menyiapkan diri dan keluarga agar lebih waspada terhadap bencana alam,” imbuhnya.
Komitmen dari Pemkab Bantul untuk pengurangan risiko bencana gempa, digalakkan pembentukan desa tangguh bencana dan sekolah siaga bencana, terutama di kawasan yang menjadi dampak gempa bumi 10 tahun lalu.
