Oleh : Yohanes Widodo
Jogja, HarianBernas.com – Bisa dibilang, era reformasi adalah era musim semi sehingga media dapat tumbuh bak jamur. Di era Orde Baru hanya terdapat 289 media cetak, setahun setelah reformasi jumlah media cetak melonjak menjadi 1.687 penerbitan (Antaranews, 15/2/2008). Rata-rata, sehari terbit lima media massa baru.
Setelah musim semi, datanglah musim gugur. Ladang subur itu sekaligus kuburan massal. Menurut Dewan Pers (2014), jumlah total media cetak yang terbit di Indonesia tercatat 567 media cetak, selebihnya atau 71 persen sisanya mati alias bangkrut. Kematian media dianggap hal wajar, tak ada yang menangisi. Sejumlah pakar media juga telah meramalkan suatu saat nanti koran, tabloid, dan mungkin majalah diyakini akan punah.
Jika sebelumnya kematian itu banyak pemain baru, kini kematian itu menimpa media-media yang diterbitkan oleh pemain lama dan imperium media seperti Kelompok Kompas Gramedia (KKG). Dari 60 lebih brand majalah dan tabloid milik KKG, sembilan media di antaranya ditutup: Majalah CHIC, Tabloid Soccer, Majalah Forsel, Majalah Ide Bisnis, Majalah Instyle, Majalah More, Majalah MSLiving, Majalah Fortune Indonesia, dan Digital Eight. Tabloid Bola, pionir media olah raga yang menerbitkan Harian Bola, akhirnya juga ikut menyerah.
Baca juga: Mengenal Teks Berita, Ciri-ciri, Jenis, dan Contoh Penulisannya
Sebelumnya ada Tabloid Prioritas, Koran Jurnal Nasional, Businessweek Indonesia dan Readers Digest Indonesia berhenti terbit. Bloomberg TV Indonesia menghentikan siaran. Koran sore Sinar Harapan mengumumkan penghentian terbit di akhir 2015. Media online seperti Majalah Detik dan Majalah MALE juga menghentikan layanan.
Media memilih gulung tikar, ganti format, atau 'sekadar' melakukan efisiensi ekstrem. Koran Suara Merdeka yang terbit di Semarang memangkas halamannya, begitu juga Republika. Koran Tempo mematikan edisi minggunya. Koran Jakarta Globe dan Suara Pembaruan juga terindikasi sakit melihat jumlah iklannya yang minim.
It’s all about business
Lengkap sudah kita saksikan satu per satu jenis media tutup, atau setidaknya mengurangi karyawan: mulai dari harian, mingguan, bulanan, sampai TV. Lantas, apa yang menyebabkan media-media tersebut mati? Tak lain karena pertimbangan bisnis. Kita berada di era industri sehingga motivasi utama dan pertimbangan keberadaannya melulu karena pertimbangan bisnis. Visi dan misi boleh tinggi, namun jika bisnis tak lagi menjanjikan, siapa mau rugi?
Pasar media cetak makin jatuh sejak era dot-com muncul yang menyebabkan pemasukan menurun. Pasar ingin untung, namun kondisinya sulit menjual media cetak selain melalui pembaca. Jumlah pembaca menurun, akibatnya pendapatan iklan juga menurun. Pengiklan tidak lagi memerlukan koran untuk menjangkau target audience, pembaca juga tidak mau lagi membayar untuk mendapatkan berita. Akibatnya, jurnalis kehilangan pekerjaannya atau menjadikan pekerjaannya tak lagi sebagai watch dog namun lebih pada upaya meningkatkan search engine optimation (SEO).
Baca juga: Teks Eksplanasi Adalah Kalimat Penjelasan, Benarkah? Ini Pengertian dan Ciri-cirinya!
Tahun-tahun ini situasi ekonomi juga tak kondusif. Dolar sempat meroket, akibatnya biaya produksi media ikut menjulang, dan daya beli masyarakat menurun. Tekanan dunia digital terhadap bisnis media cetak juga makin besar ditambah persaingan sesama media cetak yang ketat. Banyak media terpuruk karena tirasnya tergerus dan perolehan iklannya turun. Di sisi lain, ada kecenderungan media tak memedulikan pembaca, sehingga menampilkan isi yang tak menarik. Secara global juga terjadi perubahan perilaku pembaca. Mereka cenderung meninggalkan media mainstream dan lebih memilih media online atau media sosial yang cepat dan gratis.
Konsekuensi bagi (calon) jurnalis
Konvergensi media —menggabungkan televisi, radio, dan media cetak dalam media digital—kini banyak dilakukan sebagai terobosan seperti yang dilakukan Kompas. Di sini jurnalis dituntut multiskill: bisa menulis, memotret, membuat video dan editing. Seseorang harus dapat menjadi jurnalis, fotografer, videojournalist dan editor.
Lantas apa yang harus dilakukan oleh (calon) wartawan? Clay Shirky dalam tulisannya berjudul Last Call: The end of The Printed Newspaper (19/8/2014) bertanya kepada wartawan, editor, dan akademisi, apa yang harus dilakukan jurnalis agar siap jika suatu saat saat medianya ditutup. Ada tiga jawaban utama dia kumpulkan. Pertama, jurnalis harus mampu memahami data dan menyajikannya dengan baik. Kedua, jurnalis harus memahami bagaimana media social dapat digunakan sebagai alat bantu di ruang redaksi. Ketiga, jurnalis harus mampu membangun kerja sama dalam tim dan dan menghasilkan hal-hal baru.
Bagian pertama banyak dibicarakan di kalangan jurnalisme sebagai jurnalisme data (data journalism). Dengan kata lain, data adalah bagian dari jurnalisme. Berita yang tak lagi baru bisa dilengkapi data berupa tabel atau chart. Sebagai contoh, ProPublica selalu mengaitkan database untuk menyampaikan informasi. Intinya, wartawan harus dengan familiar dengan pencarian, pemahaman, dan penyajian data.
Baca juga: 18 Jenis Konjungsi, Pengertian, dan Contoh Kalimat Terlengkap
Kedua, wartawan harus belajar menggunakan media sosial untuk mencari bahan dan sumber berita. Media sosial umumnya dianggap sekadar media pemasaran atau media yang memungkinkan akses langsung ke masyarakat. Media sosial juga bagian dari jurnalistik. Ia mencontohkan, penggunaan media sosial mulai dari foto-foto pendaratan pesawat di Sungai Hudson hingga analisis tentang laporan keuangan parlemen, bergantung pada relasi ruang redaksi dengan dunia luar. Wartawan harus mau melihat percakapan di Facebook dan foto di Instagram untuk mencari ide cerita; melalui interaksi di Twitter atau WeChat seorang wartawan bisa menemukan sumber kunci atau relawan pemberi informasi.
Ketiga, jurnalisme menjadi seperti laiknya tim olahraga—melibatkan teamwork. Bagian yang mengurusi integrasi antara teks dan visual, bagian yang mengurusi database pembaca, juga bagian yang mengurusi liveblogging untuk breaking news—semua membutuhkan kolaborasi lebih kuat dari pada model lama ala 'satu berita, satu byline'. Kerja sama tim menjadi kunci, termasuk bereksperimen dengan alat-alat atau teknik baru.
Biasanya akan muncul keberatan terkait keterampilan mendapatkan dan mengolah data, menguasai media sosial, dan kerja sama tim karena tuntutan perubahan. Kapan wartawan punya kesempatan untuk belajar keterampilan-keterampilan baru? Selama ini pengembangan profesional jurnalis dilakukan melalui penilaian, penawaran desk atau beat baru, atau dikirim keluar untuk pengembangan karir. Di sisi lain, media cetak harus bertarung untuk tetap bisa survive, sehingga tak ada lagi waktu atau sumber daya selain ‘mempertahankan layanan’.
Baca juga: Inilah 6 Cara Meningkatkan Domain Authority (DA) yang Efektif
Kematian sebuah koran menyedihkan, tapi ancaman hilangnya SDM jurnalis adalah bencana. Sebagai (calon) wartawan, saatnya Anda belajar mandiri; belajar sesuatu di luar rutinitas pekerjaan Anda saat ini. Bisa jadi ini akan sulit. Bos tak akan banyak membantu, tapi jika dilakukan, ini bisa merupakan lompatan besar. Melakukan sesuatu akan lebih baik daripada tidak melakukan apapun. Jika tidak, Anda tidak akan berhasil dalam jurnalisme. ***
Yohanes Widodo, Dosen Prodi Ilmu Komunikasi FISIP Universitas Atma Jaya Yogyakarta
