AMBON, HarianBernas.com–Dari total wilayah geografis Maluku, sebanyak 93 persen terdiri dari laut dan hanya 7 persen wilayah daratan. Hal ini mempengaruhi karakter orang Maluku yakni mencair dan tidak menutup diri pada perbedaan.
Menurut pakar filsafat asal Ambon Prof Aholiab Watloly, kemajemukan dari daerah kepulauan dan lautan yang merupakan realitas pembentuk lingkungan merupakan nilai dasar yang membentuk karakter orang Maluku. Mereka bersifat cair, mengalir dan tidak menutup diri terhadap perbedaan karena fungsinya menghubungkan satu wilayah dengan yang lain.
Baca juga: Rumah Joglo, Rumah Adat Jawa yang Memiliki Banyak Keunikan
Dikatakan, nilai-nilai dasar karakter manusia membentuk intelektual, moral dan kejiwaan yang tampak dalam perilaku dan tindakan. Dan sebagai daerah dengan karakteristik kepulauan dan dikelilingi laut yang membentang luas lebih dari besar daratan , orang Maluku teradaptasi oleh alam. “Mereka memang terlihat keras tapi sesungguhnya tidak seperti yang terlihat. Mereka sesungguhnya halus,” kata Guru Besar Filsafat pada Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (FISIP) Unpatti ini.
Menurut Prof Aholiab, karakter orang Maluku juga terlihat dari kentalnya budaya kekerabatan dalam pandangan hidup orang Maluku.. Mereka tidak mengindahkan perbedaan budaya dan kesukuan tertentu. Dikatakan, tiap pulau memiliki nilai masing-masing karena mempunyai kebudayaan dan lingkungan yang berbeda-beda. Namun, nilai perbedaan tidak bersifat anarkis, karena orang Maluku sangat terbuka dan saling menerima sebagai orang basudara (bersaudara).
Dengan modal karakter yang majemuk, menurut Prof Aholiab, mereka keras tapi terbuka dan menerima perbedaan. Dan secara hakiki sejak dilahirkan orang-orang Maluku telah memiliki ciri dari Bhineka Tunggal Ika. “Tak bisa disangkal kita semua berasal dari basis-basis kesukuan yang berbeda tapi bangsa ini tanpa keaslian suku bukanlah Indonesia. Hal ini menjadi kamar-kamar untuk membangun rumah bersama. Ke-Maluku-an orang Maluku tidak menjadi ancaman bagi orang lain, tapi menjadi orang Indonesia karena kita orang Maluku,” kata Prof Aholiab.
Baca juga: Mengenal Keunikan Rumah Adat Jambi yang Memiliki Ukiran Eksotik
