Bernas.id – Ada cerita yang membuat orang-orang Kedung Pingit mengingatnya dengan hati pilu setiap datang musim penghujan. Cerita tentang kutukan entung jati beracun yang bisa membunuh siapa saja yang memakannya. Peristiwa mengerikan puluhan tahun lalu yang terjadi setelah pembantaian orang-orang bermata sipit yang dihabisi di pedalaman hutan Gunung Pandan. Tak ada laki-laki dari kelompok mereka tersisa setelah kejadian kelam itu. Kejadian yang tabu dan menakutkan untuk diceritakan secara turun-temurun kepada anak cucu penghuni desa-desa di Gunung Pandan.
Peristiwa itu terjadi pada sebuah malam, ketika sekelompok orang bersenjata yang berasal dari tanah Sunda terpaksa harus menarik diri dari daerah van Mook ke wilayah Republik berdasarkan perjanjian Renville. Mereka hijrah ke arah timur. Nahas, dalam perjalanan jauh ke timur itu mereka kehabisan bekal. Entah apa sebabnya, orang-orang bermata sipit yang ada di kota sebelah tenggara Gunung Pandan diminta sebagai kelompok yang harus menanggung kebutuhan mereka. Tidak adanya titik temu atas permintaan itu yang menjadikan peristiwa kelam terjadi.
Baru kali ini ada musim entung jati menyerupai kiriman tenung beracun. Dugaan demi dugaan menggelinding seperti bola liar. Orang-orang Kedung Pingit mulai menghubung-hubungkan kemunculan entung jati beracun itu dengan peristiwa pembunuhan ratusan orang bermata sipit yang digiring dari kota menuju pedalaman hutan Gunung Pandan. Dugaan itu semakin kuat manakala Tardjiman, lelaki yang menjadi penggali kuburan massal mayat-mayat korban pembantaian menjadi orang pertama yang mati setelah keracunan entung jati. Sebelum menemui ajal, Tardjiman menyebut kata-kata ?Orang China? sambil telunjuknya menunjuk arah tempat pembantaian, lalu memuntahkan puluhan ekor entung jati dari perutnya. Disusul kematian-kematian penduduk lain dengan kondisi serupa. Tubuh mereka membiru, mata mendelik, dan muntah-muntah sambil mulutnya meracau tak karuan.
Entung-entung jati di musim penghujan kali ini bukan entung biasa. Ukuran tubuhnya lebih gemuk, hampir tiga kali dari musim-musim lalu. Ia mengandung racun yang lebih berbisa dari gigitan ular weling. Mematikan siapa saja yang memakannya.
Biasanya, ketika musim penghujan datang seperti ini, ratusan ekor entung yang banyak ditemukan di tumpukan daun jati kering menjadi santapan kesukaan orang-orang. Ia menjadi menu makanan tambahan yang paling disukai penghuni di sepanjang kaki dan lereng Gunung Pandan.
Tetapi musim ini tidak seperti musim-musim lalu. Tersiar kabar yang membuat gempar Desa Kedung Pingit. Puluhan orang mati keracunan. Pagi hari memakan bothok entung jati, siangnya akan menemui ajal. Sore menyantap entung jati goreng, malamnya akan meninggal. Kasak-kusuk mengenai entung jati yang membawa kutukan mulai merebak.
Entung-entung jati ini pertama muncul dari tengah hutan, persis di tempat terjadinya pembantaian ratusan orang bermata sipit. Ia datang membawa dendam. Tubuh mereka mengandung rasa kesedihan yang mendalam. Kesedihan yang kemudian berubah menjadi kebencian. Tak ingin ancaman entung-entung jati semakin menyebar, orang-orang akhirnya sepakat membakar pohon-pohon jati dan guguran daunnya di tempat kematian orang-orang bermata sipit.
?Entung-entung jati itu telah dirasuki amarah dan dendam. Percuma melawannya dengan api,? ucap seorang laki-laki tua, mencegah niat orang-orang yang datang membawa minyak tanah.
Entah berasal dari mana, laki-laki tua itu sudah ada di tengah hutan, persis di tempat terjadinya pembantaian orang-orang bermata sipit beberapa waktu lalu.
?Dengan cara apa entung-entung jati ini bisa dikembalikan ke kodrat aslinya??
?Pulanglah, Kalian. Biar aku saja yang berbicara dengan mereka.?
Orang-orang saling pandang. Antara percaya dan tidak percaya. Bagaimana manusia bisa berbicara dengan entung jati?
Saling bisik bahwa laki-laki tua yang ada di hadapan mereka bukan orang sembarangan, terlihat dari penampilannya yang dingin dan tenang, membuat orang-orang yang semula ingin memberangus tempat itu menurut. Mereka membubarkan diri, kembali ke desa.
Beberapa saat setelah meninggalkan laki-laki tua, orang-orang mendengar bunyi gemerasak dari tempat pembantaian orang-orang bermata sipit. Angin berembus kencang. Menerbangkan guguran daun-daun jati yang habis di musim kemarau lalu. Suara ranting patah dan pohon tumbang terdengar tiada henti. Saat itulah mereka percaya bahwa sedang terjadi pertarungan antara laki-laki tua tadi dengan entung-entung jati pembawa kutukan dan dendam.
Mereka tidak salah menebak. Di tengah hutan, tempat terjadinya pembantaian orang-orang bermata sipit yang diyakini orang-orang Kedung Pingit sebagai bermulanya entung-entung jati beracun, memang sedang terjadi pertarungan batin antara sosok laki-laki tua dan entung-entung jati.
?Saudara-saudaraku, yang meminjam tubuh entung-entung jati.? Laki-laki tua itu berkata pelan, suaranya serak dan berat, tetapi terdengar tenang ?Apakah kalian sudah lupa dengan takdir Tuhan??
?Siapa kau??
?Tidak penting siapa aku. Aku datang untuk mengingatkan kembali ajaran mulia leluhur kalian. Bahwa kelahiran, jodoh, rezeki, dan kematian adalah takdir Tuhan.?
?Orang-orang dari barat itu telah merampas takdir Tuhan.?
?Apa yang telah kalian lakukan, Saudara-saudaraku? Apa yang kalian inginkan? Apakah kalian merasa puas jika telah membunuh orang-orang yang tak tahu apa-apa itu??
?Mereka membantai kami. Hutang kematian harus ditebus dengan kematian.?
?Tuhan Maha Membolak-balikkan Nasib. Tak perlu kalian menjadi penghukum bagi manusia yang menurut kalian berdosa atas kematian kalian. Biarkan tangan Tuhan yang bekerja.?
?Apakah Tuhan masih berdiri di semua golongan manusia, termasuk kami??
?Tentu saja.?
Obrolan antara laki-laki tua dan entung-entung jati itu berada pada relung hati masing-masing. Entah bagaimana kelanjutan obrolan mereka, entung-entung jati kemudian seperti mengalah. Tubuh mereka mengecil seukuran asalnya. Suara gemerasak dari patahan ranting dan pohon tumbang mendadak reda. Angin juga berhenti berembus.
Sesaat semuanya hening.
Laki-laki tua itu kemudian memungut entung-entung yang banyak berserakan di bawah daun jati kering, membawa ke sebuah rumah terdekat, lalu meminta memasakkan untuknya. Di hadapan orang-orang Kedung Pingit yang belum bisa menghilangkan rasa takut atas kutukan entung jati, laki-laki tua itu memakan dengan lahap. Satu per satu orang-orang ikut memakannya. Tak ada lagi entung jati beracun. Tak ada pula kematian akibat dendam pembantaian orang-orang bermata sipit dari kota.
Siapa dan dari mana asal lelaki tua itu tidak pernah ada yang tahu. Konon ada yang melihat dia datang dari arah hutan Gunung Wilis, sebuah gunung yang berbatasan langsung dengan kaki Gunung Pandan di sebelah selatan. Konon pula dia adalah penghuni asli pedalaman Gunung Pandan. Orang-orang Kedung Pingit kemudian mengenalnya dengan sebutan Ki Ageng Pandan Wilis.
Aku mendengar cerita itu dari Mbah Soma. Kepadaku, satu dari sedikit saksi peristiwa kelam di Kedung Pingit itu menuturkan kembali dengan suara berat. Tentang ketegangan yang sempat terjadi antara kelompok pembantai dengan tentara-tentara yang bergerilya di sekitar Gunung Pandan. Sebagai sesama laskar republik, mereka tidak menyukai aksi brutal kepada etnis tertentu.
Tetapi dari raut muka saat bertutur, aku melihat guratan wajah penuh kekhawatiran dari Mbah Soma. Aku bisa menangkap tatapan matanya yang berpindah-pindah.
Aku tahu ada sesuatu yang disembunyikan pada ceritanya. Tentang sosok ayahnya?Mbah Karta?yang juga buyutku. Sebagaimana kasak-kusuk yang pernah kudengar bahwa ayah Mbah Soma yang seorang pejuang itu ikut andil membantu para pembantai yang menyebut diri sebagai kelompok tentara yang sedang hijrah dari daerah Sunda. (*Heru Sang Amurwabumi)
