YOGYAKARTA, BERNAS.ID – Bahasa, sastra dan aksara Jawa memang perlu dilestarikan, terutama melalui proses digitalisasi yang kini sudah dilakukan. Namun sayang, penulisan bahasa Jawa saat ini jarang dilakukan menggunakan aksara Jawa, lebih sering menggunakan aksara latin. Sehingga pemakaian aksara Jawa harus lebih ditingkatkan lagi.
Hal tersebut disampaikan Mas Lurah Dwijasetyaprasetya Prasaja dari Kawedanan Ageng Punakawan Panitra Pura Karaton Ngayogyakarta, Rabu 31 Juli 2024. Ia menyampaikannya dalam FGD Perda No 4 Tahun 2011 tentang Tata Nilai Budaya Yogyakarta di DPRD DIY.
“Dan kalau [bahasa Jawa] tidak ditulis dalam aksara aslinya, kadang pembacaannya bisa keliru,” ujar dia.
Baca juga: Translate Bahasa Jawa: Tingkatan (Kromo) dan Struktur Penulisan
Selain pembacaan yang keliru, pemakaian bahasa Jawa yang diterjemahkan dari atau ke bahasa lain lewat media sosial sering kali keliru. Sebab kecerdasan buatan dari media sosial tidak mengenal idiom, sehingga air mata bisa diterjemahkan menjadi banyu mata.
“Padahal ada kata yang benar yaitu luh,” kata dia.
Baca juga: Penyusunan Perda Bahasa Jawa Dianggap Penting untuk Persatuan Bangsa
Muhammad Bagus Febriyanto selaku akademisi dari UIN Sunan Kalijaga selalu pembicara lain menyampaikan, untuk penyelamatan sastra Jawa, pihaknya bersama Pura Pakualaman kini sedang mengupayakan digitalisasi 130 naskah kuno dari DIY, bekerjasama dengan British Library.
Terkait pemakaian bahasa Jawa, menurut dia, mengutip data BPS, sekarang masih ada 80 juta orang yang menggunakan bahasa Jawa untuk berkomunikasi.
“Namun bahasa Jawa juga telah mengalami kemunduran, dengan angka turun sekitar 0,8 persen. Di lingkungan keluarga, hanya 73 persen orang Jawa yang menggunakan bahasa daerahnya,” kata dia.
Ia pun menyayangkan anak muda sekarang yang menganggap bahasa Jawa sebagai sesuatu yang kuno. Ia juga mengkritik rumusan Trigatra Bangun Bahasa dari Pemerintah di mana bahasa daerah dianggap hanya sebagai sesuatu yang dilestarikan, bukan sesuatu yang dipakai dan diaktualisasikan.
“Ini perlu dikritisi,” kata dia. (den)
