MAGELANG, BERNAS.ID – Bertepatan dengan kegiatan Festival Lima Gunung XXIII yang berlangsung di Dusun Keron, Desa Krogowanan, Kecamatan Sawangan, Kabupaten Magelang, Komunitas Lima Gunung mendapatkan penghargaan Akademi Jakarta. Penghargaan dari Akademi Jakarta tersebut diterima pada 23 September atau dua hari menjelang pembukaan Festival Lima Gunung XXIII.
‘’Penghargaan yang kami terima tersebut berupa patung dengan warna keemasan dari diterima perwakilan Komunitas Lima Gunung, Endah Pertiwi dan Lyra de Blaw di Jakarta,’’ kata Ketua Komunitas Lima Gunung, Sujono, Minggu (29/9/2024).
Penghargaan tersebut juga diikutsertakan dalam kirab puncak Festival Lima Gunung, Minggu (29/9/2024). Sejumlah kesenian tradisional dari para seniman petani gunung mengikuti kirab keliling kampung Dusun Keron pada penutupan Festival Lima Gunung tersebut. Menurut Sujono, penghargaan tersebut diterima Komunitas Lima Gunung sebagai bentuk apresiasi seni sepanjang Festival Lima Gunung tersebut digelar pertama kali pada tahun 2001 silam.
Baca juga: Festival Lima Gunung 2024 Hadirkan 120 Kelompok Kesenian dari Berbagai Daerah dan Mancanegara
Ia menambahkan, Komunitas Lima Gunung tidak menduga meraih penghargaan, karena selama 23 tahun para seniman petani gunung menjalani dan menghidupi berbagai aktivitas kesenian rakyat dan tradisi desa dari lima gunung. Komunitas seniman petani berasal dari lereng lima gunung yang mengelilingi Kabupaten Magelang, yakni Merapi, Merbabu, Andong, Sumbing, dan Menoreh.
Baca juga: Festival Lima Gunung XVI 2017 Festival “Bersponsor” Tuhan
Penggiat Komunitas Lima Gunung, Lyra de Blaw menambahkan, salah satu alasan Akademi Jakarta memberikan penghargaan tersebut, karena Komunitas Lima Gunung selama 23 tahun terakhir berhasil menggelar pesta kesenian rakyat dengan modal swadaya, swadana dan gotong royong dari masyarakat.
Dalam setiap menggelar Festival Lima Gunung, pihaknya tidak pernah meminta bantuan sponsor dari pihak manapun. Padahal untuk pendanaan festival tersebut memakan biaya yang cukup besar.
“Faktor lainnya, yakni Komunitas Lima Gunung tetap konsisten berkarya dalam berbagai kondisi. Bahkan, saat pandemi COVID-19 silam kami tetap menggelar festival meskipun dengan segala keterbatasan dan pembatasan,’’ kata Lyra yang juga pimpinan Sanggar Tari Srikandi Kota Magelang ini.
Festival Lima Gunung tahun ini dengan tema “Wolak-Waliking Jaman Kelakone” berlangsung selama lima hari, 25-29 September 2024. Sedikitnya 125 kelompok kesenian dengan total sekitar 2.000 personel terlibat dalam kegiatan tersebut. Tidak hanya dari grup-grup seniman dari Komunitas Lima Gunung, penampil juga berasal dari berbagai daerah di Indonesia bahkan dari Meksiko dan Jepang juga turut serta memeriahkan acara tersebut. (den)
