SEMARANG, BERNAS.ID – SMA Negeri 3 Semarang menyatakan dukungan penuh terhadap pelaksanaan Indonesia Scientific Forum (ISF) 2026, sebuah webinar nasional dalam rangka Hari Jamu Nasional dengan slogan Bersama Jamu, Indonesia Maju dan tema besar The Art of Nanoimmunoherbogenomics 7.0.
Kegiatan ini dijadwalkan berlangsung pada 28 Mei 2026 pukul 08.30-15.00 WIB melalui Zoom, dengan menghadirkan narasumber multidisipliner dari perguruan tinggi, lembaga riset, organisasi profesi, rumah sakit, komunitas jamu, dan ekosistem inovasi kesehatan.
Dukungan tersebut disampaikan Kepala SMA Negeri 3 Semarang, Bapak Rusmiyanto S.Pd., M.Pd.
Ia menilai ISF 2026 bukan hanya agenda webinar, melainkan ruang belajar bersama yang mempertemukan tradisi, ilmu pengetahuan, pendidikan, teknologi, dan cita-cita kemandirian bangsa.
Baca Juga : Gerakan Minum Jamu Serentak di UGM: Upaya Lestarikan Warisan Budaya Pengobatan Tradisional
Dalam suasana yang hangat, Rusmiyanto juga menautkan kegiatan ini dengan jejak pendidikan yang hidup di sekolah: gagasan besar dapat tumbuh dari ruang kelas, dari hubungan guru dan murid, serta dari keberanian generasi muda membaca masa depan bangsanya sendiri.
“Atas nama SMA Negeri 3 Semarang, saya menyampaikan dukungan penuh terhadap webinar kolaboratif dan inspiratif ini. Saya mengapresiasi dr. Dito Anurogo, M.Sc., Ph.D. melalui International Life Institute, serta seluruh mitra kolaborasi yang telah menghadirkan ruang belajar lintas disiplin,” ujar Rusmiyanto, Jumat (29/5/2026).
Menurut Rusmiyanto, tema ISF 2026 memiliki makna strategis karena mengangkat jamu dan herbal Indonesia dalam kerangka sains modern. Jamu tidak lagi cukup ditempatkan hanya sebagai warisan keluarga atau minuman tradisional.
Dalam konteks hari ini, jamu perlu dibaca sebagai pintu masuk menuju literasi riset, inovasi bahan alam, keamanan penggunaan herbal, pengembangan produk, serta ekosistem kesehatan yang lebih mandiri dan berdaya saing.
“Kegiatan ini bukan sekadar pertemuan ilmiah, melainkan gerakan literasi, riset, kolaborasi, dan diseminasi pengetahuan dan kebijakan untuk mengangkat martabat herbal dan jamu Indonesia melalui bahasa ilmu pengetahuan modern, di ruang digital,” katanya.
Baca Juga : Sambut Hari Jamu 2026, Dewan Jamu Indonesia DIY Siapkan Rangkaian Acara Meriah
ISF 2026 dirancang untuk mendiseminasikan pengalaman dan pengetahuan tentang herbal serta jamu berbasis imunologi dan teknologi omik. Forum ilmiah ini menyasar dosen, guru, mahasiswa, masyarakat umum, pemerhati, serta periset jamu dan herbal.
Inisiator kegiatan adalah International Life Institute (ILI) yang berkolaborasi dengan Universitas YARSI, Vascular Indonesia, Masyarakat Bioinformatika dan Biodiversitas Indonesia (MABBI), serta Global Medika Konsultan Indonesia.
Sejumlah mitra kolaborator juga terlibat, antara lain Perkumpulan Kesehatan Ethno Wellness Indonesia (PERKEWINDO), PDHMI, Vijja Care, Asosiasi Wisata Medis Indonesia (AWMI), KAIST MEDIKA, dan Sciencepreneur.
Komposisi narasumber menunjukkan karakter multidisipliner forum ini. Dalam ToR kegiatan, tercantum narasumber dari Universitas Gadjah Mada, Universitas Hasanuddin, Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), FKIK Universitas Muhammadiyah Makassar, PDHMI, MABBI, Global Medika Konsultan Indonesia, RSAU Esnawan Antariksa, Politeknik Perkapalan Negeri Surabaya.
Topik yang dibahas membentang dari immunoherbalmedicine, kelor, bahan baku obat tradisional, nanoherbalmedicine, etika dan legalitas integrasi jamu dalam sistem kesehatan, bioinformatika, personalisasi herbal medicine, sampai pemanfaatan AI di bidang bioinformatics.
Bagi SMA Negeri 3 Semarang, dukungan terhadap forum ini sejalan dengan semangat sekolah dalam menumbuhkan budaya literasi, riset, dan kolaborasi.
Sebagai sekolah nasional yang berbasis sekolah riset nasional, SMA Negeri 3 Semarang memandang kegiatan seperti ISF 2026 sebagai kesempatan untuk memperluas cakrawala siswa, guru, orang tua, dan masyarakat mengenai cara berpikir ilmiah terhadap kekayaan hayati Indonesia.
Dukungan itu tidak berhenti pada seremoni, tetapi diarahkan pada kesadaran bahwa sains dapat berangkat dari hal-hal yang dekat dengan kehidupan sehari-hari, termasuk tanaman obat di rumah, kebun sekolah, pasar tradisional, hingga pengetahuan lokal masyarakat.
Rusmiyanto menekankan bahwa Indonesia memiliki biodiversitas yang sangat kaya, mulai dari kunyit, temulawak, jahe, kencur, meniran, sambiloto, kelor, pegagan, hingga berbagai tanaman lain yang selama ini dekat dengan kehidupan masyarakat.
Potensi tersebut, menurutnya, tidak boleh berhenti sebagai bahan mentah. Kekayaan alam perlu didorong naik kelas menjadi produk herbal, jamu modern, fitofarmaka, bahan baku obat, riset biomedis, serta inovasi kesehatan yang dapat memberi nilai tambah bagi bangsa.
“Kedaulatan jamu dan herbal Indonesia berarti kita mampu menanam, meneliti, mengolah, memproduksi, menguji, meregulasi, memasarkan, dan menggunakan kekayaan alam kita sendiri secara bermartabat,” tutur Rusmiyanto.
Pesan tersebut penting disampaikan kepada generasi muda. Siswa tidak hanya didorong menjadi pengguna teknologi, tetapi juga pembaca masalah, penanya yang kritis, penulis gagasan, dan calon peneliti muda.
Kegiatan sederhana seperti mengenal tanaman obat di sekitar rumah, menyusun proyek riset kecil, membuat herbarium digital, menulis artikel ilmiah populer, serta mempelajari keamanan penggunaan herbal dapat menjadi awal pembentukan budaya ilmiah yang lebih kuat.
Rusmiyanto juga menggarisbawahi peran guru, orang tua, dan masyarakat dalam memperkuat ekosistem tersebut. Guru dapat membimbing literasi sains dan teknologi. Orang tua dapat menanamkan kebiasaan hidup sehat.
Masyarakat dapat menjaga lingkungan agar sumber daya hayati tidak rusak. Dari lingkaran kecil itulah, menurutnya, cita-cita besar tentang kedaulatan jamu dan herbal dapat bergerak lebih nyata, dan diinisiasi melalui forum virtual ISF 2026 ini.
Selanjutnya, Rusmiyanto mengaitkan jamu dan herbal dengan Sustainable Development Goals (SDGs).
Baca Juga : Dewan Jamu Indonesia DIY dan DPRD Sinergi Jadikan Jamu Simbol Kesehatan Modern
Ia menilai isu jamu bersentuhan dengan tujuan kehidupan sehat dan kesejahteraan, pendidikan bermutu, pertumbuhan ekonomi inklusif, inovasi, konsumsi dan produksi bertanggung jawab, ekosistem daratan, serta kemitraan.
Dengan kata lain, jamu tidak dipandang sebagai isu tunggal kesehatan, tetapi bagian dari simpul besar antara pendidikan, ekonomi, lingkungan, budaya, dan kolaborasi.
Meski memberi dukungan terhadap pengembangan jamu dan herbal, SMA Negeri 3 Semarang juga mendorong sikap bijak.
Rusmiyanto mengingatkan bahwa penggunaan herbal perlu ditempatkan secara rasional, aman, dan tidak menggantikan layanan medis ketika pengobatan dokter memang diperlukan.
Pesan ini menjadi penting karena literasi jamu tidak hanya membicarakan manfaat, tetapi juga mutu, keamanan, klaim kesehatan, regulasi, serta tanggung jawab etis dalam menyampaikan informasi kepada publik.
“Jamu bukan alasan untuk menolak pengobatan medis yang diperlukan. Untuk ibu hamil, anak-anak, lansia, penderita penyakit kronis, atau orang yang sedang minum obat dokter, penggunaan herbal perlu lebih hati-hati dan sebaiknya dikonsultasikan kepada tenaga kesehatan,” tegasnya.
ISF 2026 juga diproyeksikan memiliki tindak lanjut dalam bentuk publikasi media cetak atau daring, artikel jurnal pengabdian masyarakat, atau buku, menyesuaikan kapasitas panitia dan tim penyelenggara.
Keberhasilan forum bukan hanya diukur dari jumlah peserta, melainkan juga dari kepuasan peserta, keterlibatan diskusi, manfaat jejaring ilmiah, kesiapan panitia, kelancaran koordinasi, kualitas pelaksanaan Zoom, penguatan kapasitas kolaboratif lintas institusi, literasi riset herbal modern, serta peluang publikasi pascakegiatan.
Kehadiran SMA Negeri 3 Semarang sebagai sekolah nasional berbasis riset sebagai mitra dan kolaborator dalam kegiatan ISF 2026 ini memberikan nuansa edukasi dan literasi teknologi yang kuat.
Sekolah tidak hanya hadir sebagai institusi pembelajaran formal, tetapi juga sebagai ruang yang menyiapkan generasi muda untuk memahami sains, merawat tradisi, dan berani berkolaborasi.
Dalam konteks inilah, dukungan SMA Negeri 3 Semarang menjadi bagian dari gerakan yang lebih luas: membangun jembatan antara akar budaya Indonesia dan masa depan ilmu pengetahuan.
Rusmiyanto berharap ISF 2026 dapat berjalan lancar, bermanfaat, dan melahirkan jejaring baru untuk masa depan jamu Indonesia yang lebih ilmiah, berdaya saing, dan menyehatkan bangsa.
Ia menilai forum ini dapat menjadi langkah kecil yang berdampak besar, dari literasi menuju riset, dari riset menuju inovasi, dari inovasi menuju kemandirian, dan dari kemandirian menuju kedaulatan Indonesia.
“Semoga kegiatan ini menjadi langkah kecil yang berdampak besar: dari literasi menuju riset, dari riset menuju inovasi, dari inovasi menuju kemandirian, dan dari kemandirian menuju kedaulatan Indonesia,” pungkasnya.
Dengan dukungan tersebut, SMA Negeri 3 Semarang menegaskan kesiapannya untuk berkolaborasi dengan semua pihak demi mewujudkan Indonesia Jaya.
Melalui ISF 2026, sekolah, peneliti, tenaga kesehatan, praktisi herbal, komunitas biodiversitas, dunia pendidikan, dan masyarakat diajak bergerak bersama: menjaga warisan jamu, menguatkan riset, dan menempatkan kekayaan alam Indonesia dalam percakapan ilmiah yang lebih luas, lebih aman, dan lebih bermartabat. (*)
