JAKARTA, BERNAS.ID – Pekan Raya Jakarta (PRJ) 2025 kembali digelar, namun tahun ini justru menuai banyak keluhan dari para pengunjung. Bukan lagi jadi ajang hiburan rakyat, PRJ kini dianggap terlalu mahal dan terlalu dikomersialkan. Pengunjung dari berbagai wilayah Jabodetabek hingga luar daerah mengaku kecewa dengan tingginya harga tiket, mahalnya harga makanan, serta sulitnya akses parkir.
Jika di masa lalu PRJ dikenal sebagai tempat hiburan murah meriah yang ramah kantong, kini justru sebaliknya. Harga tiket masuk (HTM) di akhir pekan mencapai Rp60 ribu per orang, belum termasuk biaya tambahan jika ingin menyaksikan pertunjukan musik yang dulunya gratis.
Baca Juga : Pemprov DKI Siapkan Festival Budaya Kolosal di CFD
“Sekarang kalau mau nonton konser di dalam PRJ harus bayar lagi. Wah, sudah nggak asyik. Semua serba bayar mahal. PRJ sekarang terasa bukan buat rakyat kecil lagi,” keluh Nira Marta Ayu, pengunjung asal Jatinegara, Sabtu (28/6/2025) malam.
Harga makanan di dalam area PRJ juga dinilai tak masuk akal. Dessy Indriani, kakak Nira, mengaku harus membayar Rp50–60 ribu hanya untuk seporsi nasi Padang dengan ayam dan kuah sayur, tanpa minuman. “Kalau makan di luar PRJ, bisa cuma setengahnya,” ujarnya.
Masalah tak berhenti di situ. Pengunjung bernama Dicky, yang datang bersama istri dan tiga anak, mengeluhkan lamanya waktu yang dibutuhkan untuk mencari tempat parkir. “Pulangnya juga parah, macet panjang, antre keluar bisa sejam lebih. Bikin emosi,” ungkapnya.
Baca Juga : Pemprov DKI Jakarta Gelar Trash Fest 2025 untuk Peringati HPSN
Tak hanya soal tiket dan makanan, harga barang-barang di stand juga dinilai mencekik. Sejadah yang biasa dijual Rp50 ribu di pasar, di PRJ bisa tembus Rp90 ribu. Tas kecil dari kulit dibanderol Rp350 ribu hingga Rp1 juta, padahal di pusat perbelanjaan hanya sekitar Rp150–300 ribu.
“Katanya harga pabrik, tapi kenyataannya malah jauh lebih mahal. Nggak ada bedanya sama mall, bahkan lebih mahal. PRJ sekarang cuma jual nama,” kritik Dessy, yang mengaku rutin datang ke PRJ tiap tahun tapi kali ini sangat kecewa.
Kondisi serupa juga terlihat di banyak stand lain. Kaos oblong dijual di atas Rp75 ribu, celana jeans di kisaran Rp250–350 ribu. Alhasil, pengunjung lebih banyak hanya duduk-duduk di area publik sambil menikmati jajanan ringan di harga Rp10–20 ribu. Produk rumah tangga, elektronik, hingga kendaraan bermotor banyak yang hanya dilihat tanpa dibeli.
Melihat kondisi ini, sebagian pengunjung berharap Pemerintah Provinsi DKI Jakarta turun tangan langsung dalam pengelolaan PRJ, bukan murni diserahkan ke pihak swasta. “Kalau dikelola pemda, mungkin masih ada rasa empatinya untuk masyarakat. Sekarang semuanya serba komersial,” pungkas Dicky.
PRJ 2025 tampaknya tak lagi jadi pesta rakyat, melainkan jadi ajang bisnis yang menjauh dari semangat awalnya. (DID)
