TABANAN, BERNAS.ID – Petani di kawasan Warisan Budaya Dunia (WBD) Jatiluwih, Kawiyasa, menyuarakan kegelisahan para petani terkait minimnya kesejahteraan yang mereka rasakan, meskipun kawasan tersebut telah menjadi daya tarik wisata yang mendunia.
“Petani di Jatiluwih sampai sekarang masih belum sejahtera,” ujarnya saat dihubungi, Senin (15/7/2025). Menurutnya, salah satu penyebab utama kondisi tersebut adalah sistem pengelolaan hasil dari sektor pariwisata yang tidak menyentuh langsung petani secara individu.
Baca Juga : Irigasi Rusak, Ratusan Hektar Sawah di Jatiluwih Terancam Kering
Pembagian pendapatan selama ini, lanjut Kawiyasa, masih bersifat kolektif dalam lingkup kelompok, sehingga tidak berdampak langsung pada petani perorangan. “Kalau dibagi perseorangan belum bisa, masih di tingkat kelompok,” katanya.
Kawiyasa juga menyoroti lemahnya perhatian pengelola terhadap kebutuhan dasar petani. Bantuan bibit, misalnya, tidak sesuai dengan luas lahan yang digarap. “Saya punya lahan 12 are, harusnya butuh 5 kilogram bibit, tapi hanya dikasih 3 kilo. Jadi kurang,” keluhnya.
Ia menyebut pengelolaan bantuan tersebut berada di bawah kewenangan DTW Jatiluwih. Meski dana yang digunakan berasal dari “uang subak”, peran DTW lebih dominan sebagai pengelola, bukan pemberi keputusan.
Baca Juga : Petani Jatiluwih Keluhkan Pembagian Hasil Wisata yang Tak Adil
“Uangnya itu uang subak, tapi mereka yang mengelola. Harusnya bisa lebih transparan dan memenuhi kebutuhan petani sedikit demi sedikit,” tambahnya.
Terkait rencana penyelenggaraan festival tahunan di kawasan Jatiluwih, Kawiyasa mengakui munculnya kegelisahan di kalangan petani, meski tak semua secara terbuka menyatakan penolakan. “Petani sih nggak terang-terangan nolak, tapi juga nggak setuju. Ya, cuma diam saja,” ucapnya.
Menurutnya, kekhawatiran petani terkait festival bukan tanpa alasan. Mereka merasa kegiatan tersebut bisa berpotensi mengganggu awig-awig (aturan adat) subak dan pelestarian sistem pertanian tradisional yang selama ini dijaga.
“Kalau festivalnya tidak memperhatikan keseimbangan dengan subak, ya khawatir saja. Apalagi kalau tidak ada dampak langsung terhadap kesejahteraan petani,” ungkapnya.
Di tengah geliat pariwisata dan status Jatiluwih sebagai situs UNESCO, Kawiyasa berharap ada perhatian yang lebih adil bagi para petani. “Harapan kami sederhana saja. Ada pembagian hasil yang sesuai, dan kesejahteraan petani benar-benar diperhatikan,” tutupnya. (DID)
