YOGYAKARTA, BERNAS.ID – Program pemerintah dalam mengembangkan perhutanan sosial berisiko tidak akan bertahan tanpa pengelolaan yang profesional. Sementara target alokasi perhutanan sosial yang dicanangkan pemerintah mencapai seluas 12,7 juta hektar dengan hak pengelolaan diberikan kepada masyarakat.
“Program pemerintah untuk mengembangkan perhutanan sosial bisa menjadi sebuah potensi besar jika terkelola dengan baik,” tutur Dekan Fakultas Kehutanan Institut Pertanian (Instiper) Yogyakarta, Rawana, saat menyampaikan keterangan pers terkait Summer Course di Ektens Coffe and Space, Bantul, Yogyakarta, Jumat (1/8/2025).
Menurutnya, pendampingan yang baik menjadi salah satu kunci keberhasilan program perhutanan sosial. Ia mengatakan masyarakat tidak teredukasi dalam pengelolaan kawasan hutan. Akibatnya tak mampu memberikan nilai ekonomi dan pelestarian lingkungan.
Baca Juga : IAW Desak Presiden Prabowo Redefinisi Hutan untuk Benahi Sawit Nasional
Oleh sebab itu, Fakultas Kehutanan dan Pusat Sains Lanskap Berkelanjutan (PSLB) Institut Pertanian Stiper (Instiper) Yogyakarta menggelar Summer Course pada 4-8 Agustus 2025 di Ungaran dan Temanggung, Jawa Tengah. Tema yang diusung “Nurturing Agropreneurs: Mendorong Profesionalisme Pendamping Agroforestri untuk Lanskap Berkelanjutan”.
Rawana berharap summer course ini mampu membekali tenaga pendamping kehutanan yang tangguh dan terampil sangat dibutuhkan untuk mengelola hutan. Pendamping nantinya akan dibekali kemampuan teknis, pengetahuan, serta jejaring.
“Ini menjadi peluang besar karena olokasi perhutanan sosial yang dicanangkan pemerintah mencapai seluas 12,7 juta hektar dan baru sekitar 8 juta terealisasi dengan melibatkan kelompok tani,” terangnya.
Hal itu juga ditegaskan oleh Direktur Pusat Sains Lanskap Berkelanjutan Instiper Yogyakarta, Dr Agus Setyarso. Menurutnya, perhutanan sosial berbasis agroforestry industrial diperkirakan tidak akan sustain jika tanpa ada pendampingan yang serius.
Oleh sebab itu, goal utama summer course ini agar para penggiat dan pendamping perhutanan sosial makin ahli secara profesional dalam usaha agroforestry berkelanjutan dari hulu sampai hilir.
Ia mengatakan secara spesifik diperlukan komitmen semua pihak untuk menjaga lanskap agroforestry agar tetap sustain.
Baca Juga : Perjuangan Anak Buruh Pabrik Kayu Diterima Kuliah Gratis di Fakultas Peternakan UGM
Summer course ini juga berupaya melakukan upgrade ilmu dan skill pendampingan untuk pengembangan agroforestry berbaşis kayu ringan yang punya nilai ekonomi tinggi dan tahan banting terhadap perubahan iklim.
Summer course juga untuk boost kapasitas untuk mengawal produk & layanan agroforestri sepanjang rantai nilainya.
Adapun output Summer Course ini agar peserta mendapat insight dan skill bagaimana memanajerial lanskap berkelanjutan memakai pendekatan agroforestry industrial.
“Targetnya peserta lulus penilaian kompetensi sebagai pendamping agroforestry industrial,” ucapnya.
Dampak setelah mengikuti course ini, peserta diharapkan bisa upgrade praktik dan efektivitas pengelolaan lanskap agar makin sustain dari sisi tata air, keanekaragaman hayati ketahanan iklim, sampai meningkatkan kualitas hidup masyarakat. (Age)
