YOGYAKARTA, BERNAS.ID – Langkah Pemerintah Kota Yogyakarta yang melakukan pemusnahan sejumlah becak bermesin atau yang kerap disebut bentor dalam program pembaruan sarana transportasi, memicu sorotan tajam dari kalangan pegiat seni dan budaya.
Di balik tujuan mulia untuk menciptakan kota yang lebih bersih, aman, dan tertib, cara pelaksanaan yang menggunakan alat berat untuk menghancurkan kendaraan tersebut dinilai melupakan satu hal penting: nilai sejarah dan identitas budaya yang melekat kuat pada becak.
Andre Suryaman, seniman sekaligus budayawan Yogyakarta, mengungkapkan kegelisahannya mendalam usai menyaksikan proses pemusnahan tersebut yang terekam dan tersebar luas di media sosial.
Baginya, kebijakan menata ulang transportasi kota adalah hal yang tepat dan sangat mendukung, namun metode pemusnahan total adalah keputusan yang keliru dan sangat disayangkan.
Baca Juga : Rangkaian HUT Pemkot Jogja 2026, 50 Becak Motor Akan Dihancurkan
“Saya sepenuhnya sependapat dengan tujuan program ini. Yogyakarta butuh udara bersih, keselamatan pengguna jalan harus dijamin, pariwisata dan ekonomi warga harus terus didorong naik. Itu niat yang sangat baik,” ungkap Andre saat ditemui, Kamis (4/6/2026).
“Tapi yang membuat saya tergelitik dan miris adalah caranya. Mengapa harus dihancurkan sampai rata dengan tanah pakai alat berat? Seolah-olah benda ini tidak ada harganya selain sekadar berat besi rongsokan,” imbuhnya.
Lebih dari Setengah Abad Jejak Sejarah
Berdasarkan catatan sejarah yang ditelusurinya, kehadiran becak di Yogyakarta telah dimulai sejak tahun 1940.
Awalnya berfungsi sebagai alat angkut hasil bumi, fungsi becak berubah total pasca masa kemerdekaan menjadi tulang punggung transportasi warga.
Artinya, keberadaan benda ini telah berlangsung lebih dari 80 tahun — jauh melebihi batas usia benda yang dikategorikan sebagai barang antik dan bernilai sejarah.
Lebih jauh lagi, becak telah diakui sebagai bagian dari Warisan Budaya Takbenda (WBTb), bukan hanya milik Yogyakarta, melainkan milik bangsa Indonesia.
“Ini bukan sekadar kendaraan tua. Ini adalah jejak peradaban. Saya yakin pihak pelaksana memiliki niat baik, mungkin ada ketidaktahuan atau tumpang tindih pemahaman, sehingga nilai budaya ini luput dari pertimbangan,” terang Andre.
“Kalau tujuannya penertiban, yang bermasalah sebenarnya adalah mesin tambahannya saja, yang seringkali tidak berstandar dan tidak memiliki identitas. Sedangkan badan dan kerangka becaknya? Itu asli, bernilai seni, dan penuh cerita. Mengapa yang asli itu justru yang dimusnahkan?” tegasnya.
Usulan Solusi: Ubah Sampah Jadi Nilai Tambah untuk Kota
Sebagai seniman yang juga dikenal peduli pelestarian budaya, Andre menawarkan pandangan yang berbeda.
Ia menilai, material becak yang disita atau ditarik itu masih sangat berharga dan bisa diubah menjadi sesuatu yang jauh lebih bernilai jika dikelola dengan kreatif, alih-alih berakhir di tempat pembuangan akhir.
Menurutnya, Yogyakarta adalah rumah bagi ribuan insan kreatif, seniman, dan pengrajin. Material bekas becak tersebut bisa didayagunakan menjadi karya seni instalasi, elemen bangunan, hingga perabot bernilai estetika tinggi yang tetap mengusung ciri khas Yogyakarta.
“Kami berharap pandangannya diubah. Jangan lihat ini sebagai limbah, tapi lihat sebagai bahan baku budaya. Sebagai contoh, kolaborasi dengan instansi terkait seperti PT KAI misalnya. Material ini bisa diolah menjadi kursi ruang tunggu, hiasan dinding, atau karya seni di stasiun yang bergaya khas Jogja,” jelasnya.
“Bayangkan, penumpang bisa duduk nyaman sekaligus melihat sejarah yang dikemas modern. Ini justru akan mengangkat citra instansi dan mempertegas karakter kota kita, bukan sebaliknya menciptakan tumpukan sampah baru,” lanjutnya.
Andre juga mengamati bentuk fisik becak motor yang beredar. Sebagian besar masih mempertahankan wujud asli becak tradisional (sekitar 80 persen), hanya saja “dikawin silang” dengan penambahan mesin.
Menurutnya, solusi paling bijak adalah melepas mesinnya saja untuk dimusnahkan atau didaur ulang standar.
Sedangkan badan becaknya diselamatkan dan dimanfaatkan ulang, bahkan bisa dimodifikasi menjadi becak listrik agar tetap ramah lingkungan namun tidak kehilangan wujud aslinya.
Jangan Dibuang, Kami Siap Mengolah
Di akhir pernyataannya, Andre Suryaman menyampaikan permohonan khusus kepada Pemerintah Kota Yogyakarta dan seluruh pihak terkait.
Baca Juga : TKP Senopati Kini Dijadikan Pangkalan Andong dan Becak
Ia meminta agar sisa-sisa becak yang sudah terlanjur hancur maupun unit yang belum sempat dimusnahkan agar tidak segera dibuang atau dibawa ke pembuangan akhir.
“Kalau ada yang sudah rusak, jangan dibuang dulu. Masih sangat mungkin kita olah, kita rangkai ulang maknanya, dan kita kembangkan menjadi karya baru. Untuk yang belum disentuh, ini peluang emas,” ucapnya.
“Kami dari kalangan seniman dan budayawan menyatakan kesiapan penuh. Kami siap terlibat, siap mendukung, dan siap mendayagunakan aset ini agar tetap bernilai guna,” imbuhnya.
Bagi Andre, modernisasi dan pelestarian budaya bukanlah dua hal yang bertolak belakang. Justru keduanya harus berjalan beriringan.
“Jangan sampai Yogyakarta maju dan modern, tapi malah kehilangan jiwanya. Kami ingin perubahan, tapi kami juga ingin sejarah ini tetap hidup dan terlihat oleh siapa saja yang berkunjung ke kota istimewa ini,” pungkas Andre Suryaman. (cdr)
