YOGYAKARTA, BERNAS.ID — Ruwahan yang identetik dengan membuat kue apem dan perlengkapannya, seperti ketan dan kolak, sebagai bentuk nilai-nilai budaya keberadaannya semakin tergerus oleh erosi zaman yang bersifat praktis.
Hal itu, disampaikan oleh Camat Kraton Drs. S Widodo Mujiyatno, Minggu (21/04/2019), pada acara Saresehan Budaya Ruwah Gumregah #3, bertajuk ?Budaya Ruwahan dan Budaya Adiluhung Yogyakarta, di nDalem Madukusuman, Jalan Langenastran, Yogyakarta.
?Budaya Ruwahan yang identik dengan membuat apem dihantarkan dari rumah ke rumah, lantas perkembangannya menjadi membuat bersama-sama tingkat dasa wisma, kemudian RT, RW, dan akhirnya dibuat sekampung dalam bentuk lomba. Budaya ini tentunya perlu ditularkan sebagai tugas generasi muda, jangan sampai sebagai nilai-nilai budaya tergerus oleh erosi zaman yang bersifat praktis,?papar Widodo.
Widodo, selanjutnya, mengatakan, bahwa sebagai pribadi sebenarnya tidak begitu sependapat, budaya Ruwahan yang diimplementasikan dengan membuat gunungan apem yang diperebutkan.
?Saya sering menyaksikan budaya Ruwahan, berupa pembuatan gunungan apem yang kemudian diperebutkan oleh masyarakat. Acara budaya semacam itu memang menambah kemeriahan, namun sangat disayangkan banyak apem yang berjatuhan dan menjadi mubazir karena terinjak-injak peserta,?jelas Widodo.
Acara saresehan budaya tersebut merupakan bagian kegiatan Ruwah Gumregah #3 yang sebelumnya diawali dengan lomba masak dan menyusun kue apem antar RT se Kampung Langenastran, Yogyakarta. Ruwah Gumregah telah ditetapkan menjadi agenda kegeiatan tahunan Kampung Wisata Budaya Langenastran, Yogyakarta, sejak tahun 2017 disamping kegiatan tahunan lainnya.
Saresehan Budaya Ruwah Gumregah #3 menghadirkan nara sumber Drs. Purwadmadi (Tenaga Ahli Parampara Praja DIY dan Pengamat Kebudayaan), Drs. Wahyu Kiswoyo, MSi (Akademisi dan Pengamat Keistimewaan DIY), dan sebagai moderator Dr. Amiluhur Soerasa, SE, MM, MSi (Akademisi dan Pakar Wisata Budaya).
Drs. Purwadmadi memaparkan ruwahan dalam perspektif adat dan tradisi, dengan mengupas tembang (lagu) Pupuh Sinom, pada 12 atau tembang terakhir Serat Kalatidha, karya RNg Ranggawarsita. Sementara itu, Drs. Wahyu Kiswoyo, MSi memaparkan tentang Budaya Hadilhung Keraton Ngayogyakarta Hadiningrat, karya Drs H. GBPH Yudaningrat, MM.
Acara saresehan budaya, juga dihadiri oleh Lurah Panembahan Purnama, SE, Pengurus RW 01 – RW 18 se Kelurahan Panembahan, Tokoh Masyarakat,Pengurus Kampung dan seluruh Ketua RT Langenastran, Kecamatan Kraton, Yogyakarta. (ted)