Bernas.id – Andar Rujito, Kepala Sekolah SMA BOPKRI 1 Yogyakarta, Kepada Bernas.id, Selasa (13/2), menjelaskan bahwa dibandingkan lebih dari 30 tahun yang lalu, tentu anak sekarang memiliki perilaku, pemahaman, dan budaya yang berbeda seiring dengan kemajuan dan perubahan jaman. Perubahan tata pola kehidupan akibat pengetahuan, teknologi informasi, transportasi, dll., telah merubah cara pandang generasi muda (anak sekolah) dalam memahami nilai-nilai kehidupan.
Nilai-nilai kebaikan, kesantunan dan kasih sayang seakan sulit dipahami dan dimaknai dlm kehidupan sehari hari, karena hanya diujarkan atau disampaikan dlm bentuk pesan-pesan dari mulut orang tua/guru kepada anak didik. Sementara aplikasi dari nilai-nilai tersebut menjadi sulit ditemukan dlm kehidupan senyatanya. Bahkan ?keteladanan? menjadi sesuatu yang sangat mahal karena jarang ditemukan. Tentu semua orang tua/ guru telah memberikan nasehat atau petuah, tetapi menjadi tidak berarti manakala orang tua, dan masyarakat tidak mampu memberi contoh.
Apalagi anak sekarang, lanjut Andar, telah memiliki ketergantungan terhadap alat-alat komunikasi dan hiburan seperti HP atau gadjed lainnya. Fitur-fitur dan pilihan program serta layanan telah merampas peran orang tua. Justru yg terjadi adalah munculnya bayangan, khayalan dan imajinasi ke hal- hal yang melemahkan semangat belajar, mandiri, daya juang dsb. Yang diajarkan adalah cara-cara instant. Sementara itu peran agama lebih kepada verbalitas semata, kdng terjebak pada simbul-simbul yang jauh dari makna religiusitas yang hakiki.
Dikatakan Andar, karena adanya perubahan cara pandang anak didik terhadap pola perilaku kehidupan, sudah seharusnya ada perubahan pula/penyesuaian dalam pendidikan dan pengajaran baik yang dilakukan oleh orang tua, sekolah maupun masyarakat. Cara pendewasaan karakter atau pribadi harus melibatkan dunianya anak sekarang, tidak cukup hanya dengan pesan dan petuah tetapi lebih daripada itu harus melalui pembiasaan hidup. Dan ini menjadi efektif manakala ketiga pusat pendidikan, yaitu keluarga (yang utama), sekolah dan masyarakat, bersama-sama mengondisikan.
Sungguh tidak akan banyak berarti kalau nilai-nilai keutamaan manusia tersebut hanya diajarkan melalui sekolah semata. Sekolah tidak akan pernah mampu membentuk dan mengembangkan sikap hidup positif, tanpa dukungan orang tua dan pengkondisian di tengah masyarakat. Anak ?nakal? adalah gambaran ketidakberhasilan dari orang tua, sekolah dan masyarakat bersama.
Penanganan anak-anak yang dikategorikan ?nakal atau bermasalah? tentu harus dilakukan dengan komprehensif, baik dari aspek perkembangan jiwa anak maupun dari aspek nilai kepatutan yang ada di masyarakat. Tidak bisa anak dipandang sebagai ?biang keladi semata?, tetapi bisa saja anak justru menjadi ?korban? ketidakmatangan atau kegagalan kita sebagai orang tua/sekolah dan masyarakat. Karena itu dalam penanganan anak yang bermasalah seperti ini harus menggunakan pola yang konsisten, menyeluruh, dan berkesinambungan serta melihat kasus per kasus dari masing-masing anak. Tidak bisa digeneralisi, serta tetap mengedepankan masa depan anak.
