Bernas.id – Kini kejadian korupsi makin merajalela di negeri kita. Seolah-olah korupsi menjadi ajang kejuaraan bagi para petinggi negara. Layaknya pemenang satu-persatu dari mereka akan dipajang di berbagai media. Sangatlah disayangkan, pendidikan tinggi yang telah dicapai tak setara dengan standar moral yang mereka miliki. Runtuh segala komitmen yang sudah dilayangkan di awal masa menjabat. Sejauh mana sesungguhnya tingkat pendidikan mempengaruhi kenaikan kasus korupsi? Mengapa pejabat yang bergelar justru tak patut dicontoh oleh rakyat? Pendidikan apa yang sebenarnya tidak digenggam kuat oleh mereka?
Pendidikan dalam bahasa Inggris dikenal dengan education. Sedangkan dalam bahasa latin disebut educatum. Educatum bersumber dari dua kata, yakni E dan Duco. E yang berarti perkembangan luar dalam atau perkembangan dari sedikit menuju banyak. Sedangkan Duco berarti sedang berkembang. Singkatnya, pendidikan adalah usaha mengembangkan kemampuan diri. Seyogyanya pendidikan tidak terpaku hanya pada tingkatan akademik melainkan juga tidak melupakan pendidikan moral.
Menurut Imam Sukardi, “Moral adalah kebaikan-kebaikan yang disesuaikan dengan ukuran-ukuran tindakan yang diterima oleh masyarakat atau umum, meliputi kesatuan sosial maupu lingkungan tertentu.”
Jadi, pendidikan moral adalah usaha kemampuan mengembangkan diri sesuai dengan ukuran tindakan yang diterima di tengah masyarakat sebagai sebuah kebaikan.
Pendidikan moral tak pernah dikhususkan diajarkan dalam sekolah. Berbeda dengan pendidikan yang berujung pada gelar. Bagaimana caranya kita menerapkan pendidikan moral pada anak agar mentalnya tak berpotensi berkorupsi?
Jujur
Sedari kecil anak haruslah dididik menjadi anak yang jujur. Mengatakan hal-hal yang ia lakukan dengan penjelasan yang benar. Arahkan anak agar mampu mengungkapkan segala hal dengan apa adanya. Dekati dengan hati lalu bimbing dengan baik. Sesekali sebagai orang tua boleh saja menerapkan teori hukuman secara ringan jika anak berbohong. Misal dengan memintanya menghafal pelajaran tertentu. Lama-kelamaan bukan tidak mungkin jujur menjadi sikap yang mendarah daging bagi si anak. Beritahu anak bahwa ada pengawas yang senantiasa memperhatikan gerak-geriknya. Tanamkan pada dirinya tentang rasa was was merasa dilihat oleh Pencipta.
Adil
Ini juga termasuk pendidikan moral yang esensial. Anak harus dibuat mengerti bahwa setiap diri harus berkelakuan adil. Bukan dengan membagi sama rata, namun membagi sesuai porsi kebutuhan. Dengan membiasakan diri bersikap adil diharapkan anak mampu melaksanakan amanah secara baik. Tidak melenceng layaknya keluar dari porsi yang seharusnya bisa dia bagi dan dia terima.
Disiplin
Tanamkan pada anak untuk melakukan tugas secara tepat. Tepat sasaran, waktu juga tujuan. Jika anak telah memahami tentang pentingnya disiplin, imbasnya adalah kepekaan mereka terhadap tanggung jawab. Ketika tujuan sudah tepat, maka keinginan takkan muluk. Tidak berharap lebih hingga uang banyak yang ada di depan mata pun ia enggan untuk mengambilnya.
Jujur, adil dan disiplin tak bisa dipelajari sehari dua hari. Pendidikan moral mengenai sikap-sikap tersebut harus dibuatkan pola yang berkualitas dari pihak orang tua. Jadikan anak pintar dalam akademik dan pengendalian diri. Belajarlah menjadi pendidik yang peduli terhadap bangsa dengan menanamkan pendidikan moral agar terhindar dari godaan korupsi
