Bernas.id – Aisyah radhiyallahu anha memiliki wawasan yang sangat luas, ia juga menguasai masalah-masalah keagamaan baik hal itu dikaji dari Alquran, hadis, maupun ilmu fiqih. Abu Musa al-Asya Ari berkata, ?Setiap kali kami menemukan kesulitan, kami temukan kemudahannya pada Aisyah.? Para sahabat sering meminta pendapat Aisyah jika menemukan masalah yang sulit mereka selesaikan sendiri. Aisyah juga sering mengoreksi ayat, hadis, dan hukum yang keliru diberlakukan, untuk kemudian dijelaskan kembali kebenarannya.
Salah satu contohnya adalah perkataan Abu Hurairah, ketika itu Abu Hurairah merujuk hadis yang diriwayatkan Fadhi Ibnu Abbas, bahwa barang siapa yang masih dalam keadaan junub pada terbit fajar, maka ia dilarang berpuasa. Namun, ketika Abu Hurairah bertanya mengenai hal tersebut kepada Aisyah, lalu Aisyah menceritakan, bahwa Rasulullah pernah junub pada waktu fajar, dan bukan karena bermimpi, tetapi beliau tetap melanjutkan puasanya. Setelah mengetahui hal itu Abu Hurairah berkata bahwa ?Aisyah lebih mengetahui tentang keluarnya hadis tersebut.?
Kamar Aisyah lebih banyak berfungsi menjadi sekolah. Di mana murid-muridnya berdatangan dari berbagai penjuru. Untuk murid yang bukan mahramnya, Aisyah membentangkan hijab di antara mereka. Aisyah tidak pernah mempermudah hukum kecuali hal tersebut sudah jelas dalilnya dari Alquran dan sunah.
Aisyah adalah orang yang paling dekat dengan Rasulullah, sehingga sering menyaksikan wahyu yang diturunkan kepada beliau, sebagaimana dalam perkataanya,
?Aku pernah melihat wahyu turun kepada Rasulullah pada suatu hari yang sangat dingin, sehingga beliau tidak sadarkan diri, sementara keringat bercucuran dari dahi beliau.?
(HR. Bukhari)
Aisyah juga memiliki kesempatan untuk bertanya langsung kepada Rasulullah mengenai ayat yang belum dipahami olehnya. Sebagaimana ungkapannya ini:
?Aku bertanya kepada Rasulullah tentang ayat ?Dan orang-orang yang memberikan dengan hati yang takut? (QS. Al-Mu?minun:60) Apakah maksud ayat di atas adalah para peminum khamr dan pencuri?? Beliau menjawab, ?Bukan putri Ash-Shiddiq! Mereka adalah orang yang berpuasa, salat, dan bersedekah. Tetapi mereka takut jika amal mereka tidak diterima. Mereka menyegerakan diri dalam berbuat kebaikan, tetapi mendahului (menentukan sendiri) kebaikan tersebut.?
(HR. Ibnu Majah dan Tirmidzi)
Aisyah termasuk wanita yang banyak menghafalkan hadis-hadis Rasulullahu shalallahu alaihi wa sallam, sehingga para ahli hadis menempatkan Aisyah pada urutan kelima dari para penghafal hadis setelah Ibnu Abbas. Aisyah memiliki keistimewaan yang tidak dimiliki oleh siapapun, yaitu meriwayatkan hadis yang langsung diterimanya dari Rasulullah shalallahu alaihi wa sallam, karena itu sering ia meriwayatkan hadis yang tidak pernah diriwayatkan oleh perawi hadist lain.
Jika sahabat ingin menghafal hadis, maka mereka pergi ke rumah Aisyah untuk langsung memperoleh hadis yang kualitas kebenarannya terjamin. Jika terjadi selisih pendapat tentang suatu masalah, maka tidak segan-segan mereka bertanya kepada Aisyah. Qasim bin Muhammad bin Abu Bakar, anak dari saudara laki-laki Aisyah berkata, bahwa pada masa kekhalifahan Abu Bakar, Umar, dan Utsman, Aisyah menjadi penasihat pemerintahan hingga ia wafat.
Aisyah dikenal sebagai perawi hadis yang meng-istinbath-kan hukum sendiri, ketika kejelasan hukumnya tidak ditemukan dalam Alquran dan hadist lain. Dalam hal ini Abu Salamah mengatakan bahwa ?Aku tidak pernah melihat orang yang lebih mengetahui sunah Rasulullah, lebih benar pendapatnya jika ia berpendapat, lebih mengetahui bagaimana Alquran, serta lebih mengenal kewajibannya, selain Aisyah radhiyallahu anha.
Urwah bin Zuber, salah seorang murid Aisyah, sangat mengagumi keluarbiasaan penguasaan ilmu yang dimiliki Aisyah. Dia berkata, ?Aku berpikir tentang urusanmu, sungguh aku mengagumimu, menurutku engkau adalah manusia yang paling banyak mengetahui sesuatu. Engkau mengetahui hari-hari Rasulullah, nasab, syair orang-orang Arab, dan kepandaianmu mengenai ilmu medis. Dari manakah engkau mempelajari ilmu medis tersebut?? Aisyah menjawab ?Rasulullah shalallahu alaihi wa sallam sering sakit, sehingga dokter-dokter Arab dan bukan Arab datang untuk mengobati beliau. Dari merekalah aku belajar.
Urwah kembali berkomentar, mengenai kekagumannya akan penguasaan Aisyah terhadap bahasa dan sastra. ?Demi Allah, aku belum pernah melihat seorang pun yang lebih fasih daripada Aisyah, selain Rasulullah sendiri. Hingga sampai saat ini aku belum pernah mendengar satu perkataan pun dari makhluk Tuhan yang lebih berisi dan lebih baik daripada perkataan Aisyah radhiyallahu anha.
