Bernas.id – Jika kita memaknai makna dambaan maka tentu yang dimasukkan di sini adalah harapan ataupun potret dari apa yang kita cita-citakan. Pemuda bagaimanapun merupakan aset penting dalam setiap perdaban manusia. Bayangkan dalam kacamata kapitalisme saja pemuda dipandang sebagai usia produktif yang mampu diberdayakan dan bernilai rupiah dalam pembangunan bangsa.
Dalam kacamata Sosialis, pemuda adalah kekuatan negara yang bisa direkrut secara besar-besaran untuk kemakmuran merata dalam negara. Islam pun dalam kacamata ideologinya memandang pemuda sebagai generasi yang di pundaknya bergantung sejumlah nasib umat di masa datang, termasuk nasib para orangtua di akhirat kelak-sebuah dimensi keimanan seorang Muslim yang religius tak memisahkan kehidupan bermasyarakat dari pengaruh agama sehingga terdedikasikan lah pemuda sebagai harapan umat.
Pemuda diharapkan untuk mampu berkarya, maka untuk output demikian tidak bisa lahir dari proses karbitan atau sekedar dipoles pencitraan saja. Lagi-lagi pemuda harus dipersiapkan dengan usaha yang maksimal oleh para orangtua. Pepatah mengatakan buah jatuh tak jauh dari pohonnya setidaknya sebagai satu pelajaran bahwa peran orangtua adalah mengajarkan keteladanan, membiasakan kebermanfaatan bagi lingkungan. Apa yang terjadi hari ini adalah potret kekeliruan kebanyakan para orangtua dalam menpersiapkan anak-anaknya untuk mengisi peradaban di masa akan datang.
Kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi tidak diimbangi dengan kemajuan mentalitas pejuang dikalangan orangtua. Maksudnya, orang tua seringkali mengejar target tanpa memperhatikan proses yang seharusnya dilalui anak-anaknya secara alamiah sebagaimana dulu mereka para orangtua melewatinya. Sebut saja kepekaan sosial, hari ini tengah mengalami degadrasi. Kepekaan sosial yang dulu ditandai dengan aksi cepat tanggap menolong sesama. Faktanya kepekaan dan kepedulian pada hari ini justru berubah ke dalam wujud 'dokumenter' pemuda doyan selfie.
Ada kejadian ada gambar, mirisnya belum tentu ada tindakan. Tentunya ada yang keliru dari perubahan sense sosial ini, ketika kepedulian diterjemahkan keliru oleh para pemuda sekedar menurut referensi yang ada di zamannya hari ini. Ya wajar, karena mereka sangat dekat gadget dan jejaring sosial. Sudah saatnya para pemuda disiapkan para orangtua dengan segala daya upaya, berawal dari pembiasaan dan keteladanan untuk menjadi insan yang layak didambakan umat.
