Bernas.id – Survei yang dilakukan oleh Asosiasi Penyedia Jasa Internet Indonesia atau APJII pada tahun 2016 menyatakan bahwa terdapat 132,7 juta pengguna internet di Indonesia atau sekitar 51,45% dari total penduduk Indonesia telah menjadi pengguna internet. Dunia maya pun menjadi tempat bagi para netizen untuk mengekspresikan diri secara bebas. Sayangnya, kebebasan berkespresi di dunia maya sering kali jauh berbeda dengan perilaku netizen di dunia nyata. Kebebasan inilah yang akhirnya membuat seseorang ingin menampilkan yang terbaik dari apa yang dimilikinya, termasuk dalam mengungkapkan pendapat. Netizen akan berusaha menampilkan pendapat yang terbaik saat mengomentari suatu peristiwa yang sedang viral, seakan-akan merekalah yang paling memahami peristiwa tersebut. Sehingga tanpa disadari, mereka sebenarnya telah terkena efek Dunning-Kruger. Apa itu efek Dunning-Krugger, yuk kita simak bersama uraiannya.
Psikolog Universitas Cornell, David Dunning dan Justin Kruger pada tahun 1999 mempublikasikan hasil penelitian mereka yang akhirnya dikenal dengan efek Dunning-Krugger. Profesor Dunning melakukan studi dengan meminta mahasiswa untuk mengerjakan 20 soal mengenai grammar. Setelah menyelesaikan soal, mereka diminta untuk membandingkan kemampuannya mengenai grammar dengan teman-temannya yang lain. Hasilnya, mahasiswa yang merasa paling menguasai grammar ternyata memiliki kemampuan tata bahasa yang buruk jika dilihat dari soal yang telah mereka kerjakan sebelumnya. Peristiwa itu tidak hanya terjadi di tingkat mahasiswa namun hampir menyeluruh pada setiap orang.
Peristiwa tersebut akhirnya dinamakan dengan efek Dunning-Kruger, yaitu terjadinya bias kognisi keadaan di mana seseorang keliru menilai kemampuan yang mereka miliki. Efek Dunning-Kruger akan menyebabkan seseorang menderita superioritas ilusi, mereka menilai bahwa kemampuan yang dimiliknya melebihi kemampuan orang lain pada umumnya, padahal kenyataanya justru sebaliknya. Jika kita membaca berbagai macam pendapat netizen di dunia maya dalam mengomentari suatu peristiwa, tentu akan banyak menemui efek Dunning-Kruger ini. Orang akan berlomba-lomba memberikan pendapat terbaik mereka, seakan-akan mereka ahlinya, padahal kenyataannya sebaliknya.
Individu yang terkena efek Dunning-Kruger ini cenderung bersifat keras kepala dalam mempertahankan pendapatnya, karena merasa bahwa dirinyalah yang paling tahu. Selain itu, pengidap Dunning-Kruger lebih kebal terhadap masukan, yang berarti tidak mau mendengarkan dan menerima kritikan serta saran dari orang lain. Ciri-ciri lain pengidap Dunning-Kruger meliputi berlebihan dalam menilai tingkat keahliannya, tidak mampu melihat keahlian orang lain, gagal mengakui ketidakmampuannya. Jika mereka diminta berlatih untuk mendapatkan kemampuan tersebut, barulah mereka akan menyadari dan mengakui ketidakmampuan mereka sebelumnya.
Efek Dunning-Kruger ini tentu membuat kita ingat dengan sebuah nasihat Umar bin Khatab,
?Ilmu ada tiga tahapan. Jika seseorang memasuki tahap pertama, dia akan sombong. Jika dia memasuki tahapan kedua maka dia akan rendah hari. Jika dia memasuki tahapan ketiga maka dirinya akan merasa bahwa dirinya tidak ada apa-apanya?.
Nah, nasihat tersebut bisa menjadi pengingat supaya kita tidak terkena efek Dunning-Kruger serta mampu bersikap rendah hari dalam setiap kemampuan yang kita miliki.
