Bernas.id ? Banyak orang yang jijik dengan air liur. Bahkan air liurnya sendiri. Baru saja bangun tidur lantas sebagian dari kita akan segera berkumur-kumur lalu membuangnya. Dalam dunia pertanian sesuatu yang terbuang justru menyimpan manfaat yang bisa digali. Sudah banyak tersebar pula teknik canggih pertanian yang berguna dalam keseharian kita. Bisa diaplikasi sendiri di rumah dengan cara yang sederhana. Inovasi pertanian baru-baru ini muncul dengan memanfaatkan air liur.
Air liur dalam ilmu kesehatan diartikan sebagai cairan yang muncul dari rongga mulut. Jumlahnya hampir menyamai jumlah urin yang dikeluarkan dari tubuh. Yakni mencapai setengah liter dalam sehari. Dilansir dari laman GoodNews From Indonesia seorang Kyai berhasil membuat inovasi terbarunya dalam bidang pertanian. Menggunakan air liur basi sebagai salah satu bahan membuat pupuk.
Fuad Effendi, kyai kelahiran Ciwidey, Bandung, ini sebelumnya sudah terbiasa memproduksi pupuk bermodalkan kotoran ternak. Fuad mendapatkan kotoran ini dari hewan ternak yang dipelihara di penginapan santrinya. Normalnya kotoran ternak harus diperam selama 2-4 bulan agar berubah menjadi pupuk siap pakai.
Fuad berhasil menemukan inovasi yang dia namai MFA (Mikroorganisme Fermentasi Alami). MFA ini mampu mempercepat ketersediaan nutrisi pada tanaman, membantu terikatnya unsur hara dengan pupuk dan mencegah erosi tanah.
Berdasarkan penelitian di Laboratorium Mikrobiologi Universitas Padjajaran Bandung ada berbagai macam bakteri penghancur dan pembusuk makanan di lambung. Bakteri-bakteri ini akan naik ke rongga mulut berkumpul ketika tak ada makanan yang masuk ke lambung. Dengan dasar penelitian inilah Fuad memutuskan menjadikan air liur sebagai salah satu cara untuk mempercepat proses peleburan kotoran ternak. Asumsi awal bermula dengan pemahamannya tentang cepatnya pembusukan makanan berupa feses sehari setelah melahap makanan.
Fuad mengumpulkan air liur para santri dengan membiarkan santri menampung hasil kumur-kumur pertama saat baru bangun pagi. Kemudian cairan ini akan ditambah molase (gula), dedak dan pepaya. Beberapa hari setelahnya cairan berubah keruh dan tidak berbau lagi. Tercium aroma coklat. Dengan tidak adanya lagi bau kotoran, ini berarti bakteri sudah berkembang biak di dalamnya. Cairan keruh ini nantinya akan disiramkan pada jerami dan kotoran ternak yang sedang diperam. Hanya menunggu tiga hari, kotoran ini akan membusuk melebur sempurna. Pupuk pun telah siap dipakai.
