Bernas.id – Sekarang ini sudah banyak sekolah asrama dengan kualitas yang baik di berbagai daerah. Sekolah ini bukan berbentuk pondok pesantren, tetapi lebih ke model boarding school yang menyediakan fasilitas asrama untuk menunjang pendidikan non akademis siswanya. Sekolah seperti ini menawarkan fasilitas asrama bagi para siswanya, dengan peraturan siswa boleh pulang ke rumah setiap akhir pekan.
Untuk kegiatan sehari-harinya, pagi hingga sore hari para siswa belajar berbagai mata pelajaran umum di sekolah. Malamnya, siswa yang berasrama akan belajar Bahasa Arab dan pemahaman agama lebih dalam. Selain itu, diajarkan pula tahfidz dan tajwid. Akan ada banyak keuntungan ketika mengambil program asrama dibandingkan dengan siswa yang hanya sekolah saja dan sorenya pulang ke rumah. Selain mendapat ilmu agama tambahan, tentunya berasrama membuat para siswa berlatih untuk berinteraksi lebih intens dengan teman sebayanya.
Tujuan diadakannya asrama untuk mendidik dan membentuk karakter siswa yang mandiri tentunya tidak dengan mudah tercapai. Hal ini disebabkan oleh cara pandang anak dalam menyikapi sekolah berasrama itu sendiri. Beberapa siswa menganggap asrama merupakan ajang kebebasan dari aturan-aturan orang tua di rumah, sehingga anak berpikir bahwa asrama adalah tempat yang tepat untuk mengekspresikan diri mereka yang dirasa tidak bebas sebelumnya. Dengan mengesampingkan aturan yang ada di sekolah dan asrama, siswa-siswa yang memiliki cara pandang yang sama akan bekerjasama untuk mengekspresikan kebebasan mereka. Hal tersebut dapat tercermin di antaranya dari sikap yang ingin menang sendiri di asrama, membolos sekolah dengan alasan sakit, hingga bersikap menantang terhadap guru di sekolah maupun di asrama. Perbuatan tersebut tentunya merupakan contoh kecil dari luapan kebebasan mereka yang tidak didapatkan di rumah.
Untuk menyikapi hal tersebut, tentunya bukan hanya menjadi tanggung jawab pihak sekolah dan pembina asrama saja. Perlu peran aktif dari orang tua untuk mengarahkan anaknya supaya cara pandang mereka mengenai asrama menjadi lebih positif lagi untuk diri mereka sendiri.
Sebagai orang tua, sudah menjadi sebuah keharusan untuk memberi pengertian kepada anak mengenai perihal asrama. Anak harus dijelaskan bahwa asrama bukan perihal kebebasan yang ada di luar rumah, melainkan sebuah sarana untuk membentuk pribadi yang mandiri dan bertanggung jawab sebagai seorang yang telah menginjak remaja. Sebelum masuk asrama, sebaiknya anak mulai dikenalkan tanggung jawabnya di rumah dengan hal-hal kecil beserta konsekuensi yang akan didapat ketika tidak menyelesaikan tanggung jawabnya. Orang tua tidak bisa serta merta memasukkan anak ke sekolah berasrama tanpa membekalinya dengan hal-hal tersebut, lantas menyerahkan semuanya kepada pihak sekolah dan berharap sekolah akan mengubah pribadi sang anak.
Setelah diberi gambaran tentang tanggung jawab yang dimilki, anak akan memandang asrama sebagai tempat untuk melatih kedisiplinannya. Dengan kesadaran tersebut, diharapkan anak dapat menjadi siswa berpestasi di sekolah dengan dukungan dari karakter yang terbentuk di asrama. Selain menjadi mandiri dan bertanggung jawab, bersekolah dengan tinggal di asrama membentuk mental anak menjadi kuat, sehingga bisa menjadi pribadi yang baik dan lebih bijak ke depannya. Pola pikir anak dituntun untuk lebih dewasa dengan pemahaman bahwa kebebasan juga merupakan sesuatu yang harus dapat dipertanggungjawabkan, sehingga anak juga sudah terlatih untuk memilih mana yang baik dan buruk bagi dirinya, berbekal dengan ilmu agama yang ditanamkan di asrama juga tentunya.
