Bernas.id – Selain harta, tahta dan wanita, masih ada satu lagi hal yang dapat menggoda laki-laki sehingga tak jarang berakhir dengan hancurnya keluarga. Melimpahnya harta dan tingginya jabatan menjadi ukuran kesuksesan seorang lelaki, yang dengan keduanya, mereka pun menjadi mudah mendapatkan wanita cantik untuk dijadikannya istri.
Tapi seorang lelaki pun sulit menolak pemberian harta, maka sering terjadilah korupsi. Seorang lelaki pun sulit menolak jabatan dan kekuasaan, maka sering terjadilah kebenaran yang ditutup-tutupi demi sebuah jabatan. Dan apabila seorang lelaki tidak bisa digoda dengan harta dan jabatan, maka ada satu lagi yang sangat sulit untuk ditolak mereka, yaitu wanita, maka berapa banyak lelaki sukses kemudian hancur karena godaan wanita.
Namun, fenomena terbaru di lapangan saat ini menunjukkan bahwa ada satu hal lagi yang dapat menggoda lelaki, yaitu kemalasan.
Semakin banyaknya kesempatan kerja yang disediakan untuk wanita, membuat permasalahan baru yaitu semakin menjamurnya lelaki yang malas dalam mencari nafkah. Walau tidak semua wanita yang bekerja memiliki suami yang malas dalam mencari nafkah, namun dalam kenyataannya, cerita ini didapati dalam keseharian.
Cerita di mana seorang suami yang malas dalam mencari nafkah, maka sang istri dipaksa oleh keadaan untuk bekerja dan menjadi tulang punggung keluarga. Ketika seorang wanita dipaksa menjadi pemegang kendali dalam keuangan keluarga, maka kasih sayangnya tak lagi untuk buah hati dan keluarga semata, yang bahkan tak jarang menjadi penyebab terjadinya pertengkaran demi pertengkaran dalam keluarga.
Setan menggoda lelaki dalam wujud kemalasan, seperti asyik bermain game, asyik chat di grup pertemanan, menuruti keinginannya untuk terlelap dalam tidur, atau bahkan asyik di warung kopi hingga tidak menjadikan mereka bekerja, padahal mereka sangat mampu untuk bekerja.
Kemalasan yang timbul dari dirinya sendiri ini harusnya mampu dia atasi sendiri, karena tidak akan ada yang dapat merubah kemalasan seseorang, kecuali orang itu sendiri yang berkeinginan untuk memerangi rasa malas dalam dirinya.
Lelaki tersebut harus sadar, bahwa kewajiban bekerja dalam keluarga adalah milik suami, dan kewajiban ini diberikan kepada mereka untuk meninggikan derajat dan martabat mereka bukan hanya di hadapan keluarganya, tapi juga di hadapan masyarakat.
Dengan kata lain, apabila mereka menuruti rasa malas mereka hingga lalai dalam bekerja dan menafkahi keluarga, maka ia pun akan kehilangan martabatnya dalam keluarga dan masyarakat sedikit demi sedikit.
Hal ini sangat berbeda dengan keadaan seorang laki-laki yang mendapatkan Pemutusan Hubungan Kerja (PHK) dari tempat kerjanya, kemudian sang istri yang bekerja, namun lelaki tersebut bekerja serabutan walau gajinya lebih kecil dari istrinya. Kerja serabutan ini menunjukkan adanya sungguh-sungguh dalam mencari nafkah walau berbeda jauh dengan istrinya.
Maka, para suami, bekerjalah dengan sungguh-sungguh dan carilah rizeki di bumi Allah SWT yang luas, agar tidak menelantarkan istri dan anak-anak yang seharusnya menjadi tanggunganmu. Perangilah rasa malas dalam dirimu dengan sekuat tenaga dibarengi dengan doa dan jangan lupa untuk banyak menghadiri kajian-kajian keagamaan agar sering mendapatkan masukan ilmu agama yang akan melembutkan hati, serta menjauhkan diri dari godaan kemalasan yang senantiasa dibisikkan setan.
