Bernas.id – Jepang merupakan negara maju, produk-produk Jepang sering bertebaran di jalan perkampungan maupun jalan perkotaan. Negara yang bangkit dari keganasan perang ini menampakkan taringnya, tidak pernah layu untuk membuat suatu produk. Perfilman merupakan kegiatan yang paling menonjol dalam abad milenia ini, baik dari segi serial, komedi, dan lain-lain.
Dalam perfilman Jepang biasanya banyak yang mengangkat dari serial manga atau komik, tahun lalu sempat booming film yang berlatar gangster, peran yang sangat efik membuat diminati oleh kids zaman now. Ada yang menarik dari perfilman di Jepang yaitu adanya yang bergenre jav (japan adult video), film ini dikategorikan legal tentunya dengan syarat dan ketentuan berlaku.
Kids zaman now banyak sekali yang tahu tentang kosa kata film dari jav, baik nama aktornya bahkan artisnya sekalipun. Apakah mereka menonton jav? Tentu tidak, karena artis-artis jav ini sangat populer, lantas siapa yang membuat mereka naik daun? Media sosial. Secara mendasar media sosial kurang memerhatikan apa yang mereka publish. Karena setiap yang berbau pornografi pasti akan membuat penasaran para pembaca. Tak ayal mereka tahu Kakek Sugiono dan yang lainnya. Bahkan media sosial sering sekali memborbardirkan artis-artis jav tersebut. Elektabilitas sebuah media eletronik harus lah mencakup dasar pensensoran umur pada tahap pembaca, mereka harus bisa mengupgrade sistem supaya bisa memilih mana yang harus dibaca oleh orang dewasa dan remaja. Kesalahan pemikiran inilah yang harus diubah, supaya mereka bisa maju dan mempunyai ahklak yang baik.
Pembuatan sistem yang nyeleneh terletak dari akun Instagram dan media sosial lainnya yang membuat meme lucu namun goblok dari isi, keegoisan untuk menambah love dan komentar membuat mereka buta akan ahklak bagi pembaca. Kesadaran diri yang kurang serta iman yang tidak menyadarkan membuat mereka terjerumus dengan bahasa-bahasa yang ada di jav. Pihak pembuat media sosial seakan-akan buta terhadap kejadian ini, lembaga sensor terlalu lemah dengan keadaan ini. Pasrahnya dalam sebuah sistem yang tidak relevan membuat semua bungkam.
Sudi kiranya sistem sensor media sosial lebih diperketat untuk membangun bangsa Indonesia menjadi lebih baik, jangan sampai kids zaman now melayang-layang tak tentu arah. Kefokusan orang tua sangat efektif untuk menjaga mereka, jangan sampai mereka asik dengan konten-kontek yang tidak sewajarnya mereka tahu. Kidz zaman now boleh melek digital tapi tidak untuk melakukan atau membaca dan mengingat hal yang merugikan.
