Bernas.id – Masyarakat Inggris mengenal istilah man flu. Istilah ini merujuk pada kondisi ketika para pria cenderung membesar-besarkan penderitaan yang mereka alami saat terkena penyakit ringan, misalnya flu. Siapa sangka, istilah yang selama ini dianggap hanya olok-olok belaka itu ternyata ada benarnya. Pasalnya, sebuah penelitian yang baru-baru ini dilakukan menunjukkan bahwa laki-laki memang mengalami rasa sakit yang lebih hebat saat terserang flu daripada perempuan.
Dalam penelitian yang dipublikasikan pada jurnal kesehatan The BJM itu diketahui bahwa laki-laki pada dasarnya memiliki respon imun terhadap virus yang menyebab flu relatif lebih rendah daripada perempuan. Oleh karena itu, laki-laki cenderung merasakan gejala flu yang lebih serius. Sebagai contoh, sebuah penelitian yang dilakukan tahun 2008 menemukan bahwa perempuan memiliki respons yang lebih kuat terhadap vaksin flu. Itu berarti mereka memproduksi antibodi dalam jumlah yang lebih banyak jika dibandingkan laki-laki, untuk melawan virus yang terdapat di dalam vaksin.
Sementara studi lain yang dilakukan di Hong Kong dan Amerika Serikat menemukan bahwa jika dibandingkan dengan perempuan, laki-laki memiliki peluang lebih besar dirawat di rumah sakit dan berisiko lebih besar mengalami kematian akibat flu.
Dr. Kyle Sue, penulis penelitian tersebut, mengemukakan bahwa temuannya membuat olok-olok ?man flu? yang selama ini dikenal publik menjadi tidak sesuai lagi. ?Laki-laki tidak melebih-lebihkan rasa sakit yang mereka alami akibat gejala flu. Mereka hanya memiliki sistem imun yang lebih lemah untuk merespons virus,? kata asisten profesor di Memorial University of Newsoundland Kanada itu sebagaimana dikutip Live Science.
Kendati belum jelas mengapa laki-laki memiliki sistem imun yang lebih lemah dalam merespons virus. Sue menduga, hal itu ada kaitannya dengan hormon. ?Hormon estrogen yang dimiliki perempuan punya efek perlindungan dalam melawan virus,? tambah Sue.
Sebagai contoh, pada tahun 2016 para peneliti pernah menguji kerja hormon estrogen dalam melawan virus. Mereka mengambil sampel sel tubuh dari laki-laki dan perempuan. Sampel sel tubuh tersebut kemudian dipaparkan dengan hormon estrogen dan diinfeksi dengan virus. Hasilnya, hormon estrogen mampu mengurangi jumlah virus pada sel tubuh perempuan, tetapi tidak pada sel tubuh laki-laki.
?Penelitian lain juga menunjukkan bahwa hormon testosteron yang dimiliki laki-laki tidak sekuat estrogen dalam merespons virus,? jelas Sue. Kendati demikian, penelitian tersebut belum memperhitungkan faktor-faktor lain di luar hormon. Misalnya kebiasaan buruk yang mungkin berpengaruh pada kesehatan seperti merokok.
Berdasarkan temuan-temuan tersebut, para peneliti menduga bahwa kemampuan hormon testosteron yang lebih lemah dibanding estrogen dalam merespon virus memiliki penjelasan berkaitan dengan evolusi. ?Kemampuan hormon testosteron dalam merespon imun bisa jadi telah berkurang karena digunakan untuk mengembangkan otot dan menambah massa tulang pada laki-laki,? pungkas Sue.
