Bernas.id ? Nazo Dharejo sepintas terlihat seperti wanita biasa yang sudah lanjut usia. Namun siapa yang menyangka kalau wanita berusia kepala empat ini ternyata memiliki kisah hidup yang dramatis. Sampai-sampai ia menyandang julukan sebagai ?wanita terkuat Pakistan?.
Insiden yang melambungkan nama Dharejo sendiri terjadi pada tahun 2005 silam. Saat itu sebanyak 200 orang yang dilengkapi dengan senjata terlihat berkumpul di sekitar rumah Dharejo. Mereka adalah orang suruhan kerabat Dharejo yang hendak menyita paksa properti milik Dharejo dan keluarganya.
Namun alih-alih menurut, Dharejo memilih untuk melawan. Dengan bersenjatakan senapan Kalashnikov, Dharejo nekat memanjat naik ke atap untuk melindungi rumah yang sudah ditempati oleh keluarganya selama bertahun-tahun. Aksi pengepungan tersebut baru berakhir pada keesokan harinya.
Masalah sengketa atas lahan yang ditempati rumah Dharejo akhirnya berlanjut ke meja hijau. Sesudah melalui proses peradilan selama lima tahun, kerabat Dharejo diharuskan membayar uang ganti rugi sebesar 500 ribu rupee (lebih dari 60 juta rupiah). Mereka juga diharuskan membuat permintaan maaf secara terbuka.
Jika ditelusuri, konflik antara Dharejo dan kerabatnya sendiri bukan hanya disebabkan masalah lahan semata. Di perkampungan Sindh tempatnya tinggal, kaum wanita tidak diperbolehkan mengenyam pendidikan tinggi di luar rumah.
Namun Dharejo berhasil membujuk ayahnya untuk mengizinkan dirinya melanjutkan pendidikan hingga jenjang kuliah. Ketika ayah Dharejo wafat di tahun 1992, kerabat Dharejo mencoba mengambil paksa lahan yang ditempati oleh keluarga Dharejo. Namun Dharejo yang tidak ingin kembali menjadi burung di dalam sangkar memilih untuk melawan.
?Semakin lama (konfliknya) semakin panas. Lima, enam pembunuhan terjadi, dan di tahun 1992 saudara laki-laki saya juga terbunuh,? kata Dharejo saat mengenang masa-masa mencekam tersebut.
Berkat kegigihan yang ditunjukannya, sutradara Inggris kelahiran Pakistan yang bernama Sarmad Masud merasa tertarik untuk memfilmkan kisah hidup Dharejo. Hasilnya, terciptalah film berbahasa Urdu yang berjudul My Pure Land. Film tersebut rencananya bakal ikut dinominasikan dalam ajang Academy Award tahun depan untuk kategori film berbahasa asing.
