Bernas.id – Dari hasil penelitian Pusat Penelitian Kemasyarakatan dan Kebudayaan bahwa 748 bahasa etnis yang dimiliki Indonesia sewaktu-waktu dapat punah. Dan ini diakui oleh Kementrian Pendidikan dan Kebudayaan.
Hal ini, merupakan konsekuensi zaman yang semakin homogen. Di mana bahasa daerah di seluruh dunia, sedikit demi sedikit akan punah. Terutama penduduknya yang kurang dari 500 ribu akan lebih cepat punah. Secara alami mereka akan beralih ke bahasa yang penduduknya lebih banyak.
Dengan ditetapkannya bahasa Indonesia sebagai bahasa pemersatu maka otomatis penggunaan bahasa daerah, sedikit demi sedikit terkikis.
Menurut Asim Gunarwan, seorang guru besar yang mengambil M.Sc, Ph.D, dari Georgetown University bahwa punahnya bahasa daerah, disebabkan oleh beberapa faktor yaitu:
1. Penuturnya berjumlah sedikit
Sebagai contoh bahasa daerah di provinsi Jambi seperti bahasa Suku Kubu, Batin, Serampas, Kerinci, Orang Laut, Talangmamak, dan lain-lain. Dari sekian banyak bahasa daerah tersebut yang masih eksis adalah bahasa Kerinci. Namun penuturnya sekarang tinggal segelintir saja. Itupun mereka sudah berumur 60 tahun. Kemungkinan besar 20 tahun lagi, bahasa tersebut akan hilang.
2. Tidak ada estafet penggunaan bahasa terutama dari kelompok sosial terkecil yaitu keluarga
Estafet penggunaan bahasa dari masyarakat terkecil pun tidak dijalankan dengan baik. Terutama komunikasi sehari-hari orang tua tidak menggunakan bahasa ibunya. Di samping itu, anak-anak saat bergaul, jarang menggunakan bahasa daerah setempat. Lebih sering menggunakan bahasa Indonesia.
3. Pemerintah kurang berperan untuk melestarikannya.
Sebenarnya usaha pemerintah sudah mencoba melestarikannya. Terutama kebijakan dari pemerintah daerah tingkat I dan tingkat II. Mereka memasukan pelajaran bahasa daerah di sekolah dasar maupun sekolah menengah pertama.
Dan pimpinan daerah pun mencoba melestarikan bahasa daerah melalui penulisan nama jalan dengan tulisan bahasa daerah. Selain itu, mewajibkan pegawainya menggunakan bahasa daerah pada hari tertentu. Contoh di Bogor dihimbau setiap hari Rabu menggunakan bahasa Sunda. Biasa disebut Rebo Nyunda.
4. Biaya yang dikeluarkan lebih besar dibandingkan manfaat yang diperoleh
Berapa besar keuntungan belajar bahasa daerah bila dibandingkan dengan belajar bahasa Indonesia atau bahasa asing. Dengan kata lain, penggunaan bahasa daerah tidak ada untungnya. Oleh karena itu, kalangan keluarga saat ini cenderung meninggalkan penggunaan bahasa daerah
Bagaimana cara penanggulangannya?
Himbauan dalam rangka mempertahankan bahasa daerah atau minimal dapat memperpanjang bahasa daerah dengan cara :
- Pemerintah pusat melalui pemerintah daerah tingkat I dan tingkat II, melakukan kegiatan-kegiatan yang mengikutsertakan bahasa daerah dapat digunakan seperti rebo nyunda (setiap hari rabu, wajib karyawan pemerintah daerah memakai bahasa Sunda), menulis nama-nama jalan menggunakan huruf bahasa daerah, penggunaan bahasa daerah di sekolah dasar dan sekolah tingkat menengah lebih berperan lagi.
- Pemerintah membuat program dokumentasi atas pedoman penggunaan bahasa daerah. Minimal bila sudah punah pun, bahasa daerah tersebut masih terdapat jejaknya dalam bentuk dokumentasi.
- Penggunaan bahasa daerah di setiap keluarga harus lebih sering. Cara ini yang paling efektif. Karena dengan diajarkan bahasa daerah sejak dini, biasanya daya ingat anak akan lebih tahan lama.
Bagaimana dengan keluarga kita? Apakah masih dapat menggunakan bahasa daerah dalam komunikasi sehari-hari? Apabila masih dapat bicara dalam bahasa daerah, pergunakanlah sesering mungkin dan tidak perlu malu.
