Bernas.id – Ayah dan Bunda pasti sering menemukan anaknya yang berusia balita suka bermain tanah, pasir, batu, daun dan mainan-mainan unik lainnya. Padahal, mainan-mainan yang sudah dibelikan dengan harga mahal, menumpuk di kamarnya. Tahukah Ayah, Bunda, anak kita sedang mengikuti kemauan dan ketertarikannya?
“Ikuti kemauan dan ketertarikan si kecil, dan jadikan kemauannya sebagai panduan untuk membimbing.”
-Maria Montessori-
Sejalan dengan pendapat tersebut, sebenarnya anak kita sedang menunjukkan ketertarikannya. Selama ini, para orangtua mengabaikan ketertarikan anaknya. Sebenarnya sejak bayi pun, anak kita sudah menunjukkannya, hanya kita yang kurang peka.
Follow the child, ikuti kemauan dalam pernyataan Montessori bukan bermaksud memanjakan anak. Ditekankan di sini bahwa kita sebagai orang tua sekaligus pendidik perlu melakukan tugas dalam mengamati anak saat bermain. Dalam buku 'Rumah Main Anak', Julia Sarah menyatakan bahwa anak memiliki periode sensitif. Periode ini membimbing kita mengetahui apa saja ketertarikan anak saat bermain. Kabar baiknya, kita bisa memakai ketertarikan anak tersebut untuk menstimulasinya dengan aktivitas-aktivitas yang sesuai.
Seorang Ibu membelikan anaknya mainan plastisin sepaket dengan perlengkapannya. Ada cetakan plastisin, alat giling, tweezer, dan kertas-kertas aktivitas menyortir. Saat bermain, Ibu tersebut membiarkan anaknya mengenal mainan itu tanpa menginterupsi. Sang anak ternyata mengacak-acak alat cetakan plastisin dan menumpuknya ke atas. Apakah anak tersebut salah? 'Tidak' jawabannya.
Bagi Ibu tersebut, penting mengetahui ketertarikan anak. Setelah diamati, ternyata anak cenderung suka bermain metode susunan. Kemudian Ibu mencatat ketertarikan tersebut dan mulai merencanakan aktivitas yang sesuai. Misalnya menyusun balok warna setinggi mungkin. Nah, di sinilah maksud dari periode sensitif anak. Anak tersebut memasuki periode suka menyusun dan ibu dengan tepat menstimulasinya.
Apakah mainan plastisin tadi menjadi mubazir? Tentu saja tidak. Mainan tersebut bisa dikeluarkan sewaktu-waktu saat aktivitas bebas. Mungkin saja anak memainkannya dengan cara yang berbeda dan ibunya akan memiliki catatan lain sesuai periodenya.
Apakah saat bermain dengan anak, orang tua harus terus mengawasi tanpa melakukan pekerjaan rumah? Tak harus. Orang tua bisa melibatkan anak dalam kegiatan sehari-hari. Tidak hanya soal bermain mainan sang anak, mencuci pun bisa jadi aktivitas asik. Metode pembelajaran lewat cara yang konkret, memungkinkan anak usia dini berinteraksi langsung dengan dunianya (Santrock, 2004). Melalui kegiatan mencuci, anak mengenal air, memegangnya, mengetahui bentuknya, merasakan bahwa air membuat tangannya basah dan sebagainya. Jadi, tak usah bingung-bingung mencari alternatif mainan anak saat kita sedang sibuk-sibuknya mencuci. Biarlah ia 'membantu' sesuai kemampuannya.
Ketertarikan anak pun berbeda sesuai gendernya, laki-laki dan perempuan. Anak lelaki lebih suka permainan menantang. Dalam suatu penelitian, para ibu yang memiliki anak laki-laki dan perempuan dikumpulkan. Anak-anak mereka masing-masing diberikan satu meja tinggi dan terdapat mainan menarik di atasnya. Masing-masing ibu mencoba memberi larangan terhadap anaknya dengan ekspresi wajah yang mengindikasikan bahwa anaknya tidak boleh mengambil mainan di atas meja. Para anak perempuan mematuhi perintah ibunya, tetapi anak laki-laki tampak tidak peduli. Mereka bertindak seolah-olah mereka tertarik oleh 'magnet' mainan tersebut. Ya, mereka mengambilnya setelah ibunya memancarkan ekspresi takut dan bahaya. Penelitian lain menyebutkan hasil bahwa anak laki-laki usia 12 bulan, membangun 'pertahanan' terhadap ekspresi ibu dan mudah mengabaikannya (Brizendine, 2010).
Sebagai orang tua, kita jangan terlarut dalam kebingungan akan permainan anak. Anak-anak memiliki masa bermainnya sendiri. Kita boleh saja membelikannya mainan untuk merangsang anak mencapai milestone-nya. Namun perlu diingat, anak sudah, memiliki keunikannya sendiri sejak lahir. Setiap anak punya kecenderungan ketertarikan. Bisa dari lingkungan, usia dan jenis kelaminnya. Tidak usah terburu-buru mengajarkan anak calistung, misalnya, saat anak belum memasuki periode sensitive menghitung.
Yuk, Ayah Bunda lebih peka lagi ya! Selamat bermain!
