Bernas.id – Setiap pagi pasti selalu terdengar bunyi khas mesin penggiling mi dari dapur rumah Zuhriyah. Dua orang pekerja tampak sibuk membuat adonan mi. Pekerja lain menggiling adonan yang sudah padat dan kenyal dengan menggunakan mesin khusus pembuatan mi. Begitulah sedikit aktivitas rutin di dapur produksi Zuhriyah yang berlokasi di Jalan Gotong Royong TR 2 No. 276, Karangwaru Lor, kelurahan Karangwaru, kecamatan Tegalrejo, kota Yogyakarta.
Lokasi produksi Mi Nikmat agak tersembunyi di tengah-tengah perkampungan utara kota Yogyakarta. Rute termudah dari pusat kota Yogyakarta ke arah utara melewati jalan Magelang. Sebelum perbatasan kota Yogyakarta di sisi kanan atau timur jalan ada papan petunjuk arah menuju SMA N 4 Yogyakarta dan tembus jalan kecil lain yaitu Jalan Gotong Royong. Posisi tempat produksi Mi Nikmat tepat berada di belakang warung Mi Ayam Bakar Nikmat.
Selain diproduksi untuk warungnya sendiri, mi yang diproduksi Zuhriyah juga dipasarkan kepada para pedagang mi ayam lain. Untuk produksi Mi Nikmat, ibu lima orang anak itu mengaku lebih berdasarkan pesanan. ?Jadi, waktu pertama kali kita buka usaha, sudah kita ikuti dengan menyewakan gerobak-gerobak. Jadi, yang menyewa gerobak dari kita juga ambil mi dari kita,? akunya.
Selain dari para penyewa gerobak, Zuhriyah juga mencari pelanggan-pelanggan lain yang kiranya berpotensi untuk mengambil mi di tempatnya. Sampai saat ini, terhitung ada delapan konsumen tetap di luar penyewa gerobak yang mengambil mi di tempatnya.
Dalam sehari, rata-rata Zuhriyah memproduksi mi sebanyak 50 kg dengan harga Rp11.000 per kg. ?Kalau di kami, 1 kilo nya 11 ons bukan 10 ons. Kalau digulung ada yang sekilonya menjadi 13 ons sampai 15 ons. Tergantung pesanan konsumen,? rincinya.
Untuk ketebalan mi tergantung permintaan konsumen. Terkadang ada konsumen yang suka dengan mi yang agak besar ketebalannya. Ada juga yang suka dengan mi pipih.
Zuhriyah mengklaim kelebihan produk minya adalah lembut, enak, mudah meresap, dan tanpa bahan pengawet.
Memulai Usaha Sejak Kuliah
Usaha produksi Mi Nikmat dimulai Zuhriyah pada 1989, tepatnya saat dia masih kuliah semester akhir. Usaha produksi Mi Nikmat mendapat dukungan dari orang tua. Waktu pertama buka, sudah diikuti dengan menyewakan sekitar empat puluhan gerobak untuk berjualan mi ayam.
Zuhriyah sempat meninggalkan usahanya pada 1996 karena harus pindah ke Malaysia. Usaha produksi Mi Nikmat akhirnya diteruskan oleh adiknya. Sempat juga berpindah tangan ke keponakannya. Pada tahun 2003, Zuhriyah yang pulang dari Malaysia mengambil alih lagi usaha produksi Mi Nikmat sampai sekarang.
Selama menjalani usaha produksi mi, dia mengaku sering mengalami pasang surut. Salah satu penyebabnya adalah sering bergantinya manajemen yang mengambil alih dari mulai adik hingga keponakannya yang membutuhkan penyesuaian dalam pengelolaan usaha tersebut.
Selain itu, munculnya isu-isu tentang boraks dan formalin juga menyebabkan penurunan jumlah pesanan, tapi tidak terlalu lama. ?Isu-isu itu hilang dengan sendirinya karena hampir semua orang mengonsumsi dan menyukai mi,? katanya.
Berbeda dengan warung Mi Ayam Bakar Nikmat yang sudah gencar melakukan promosi di sosial media dan menjalin kerjasama dengan aplikasi ojek daring, untuk promosi produksi Mi Nikmat Zuhriyah mengaku masih dari mulut ke mulut.
Saat ini yang menyewa gerobak di Zuhriyah ada 6 orang. Di luar itu yang menjadi konsumen tetap mengambil mi di sana ada 8 orang. Para konsumen biasanya yang datang sendiri untuk mengambil mi di tempat Zuhriyah.
?Dulu untuk pemasaran kita sempat delivery order, tapi karena dulu manajemennya belum terlalu kuat dan sempat mengalami pasang surut, jadi itu tidak bertahan lama. Kalau sekarang, konsumen yang mengambil sendiri ke tempat kami,? terang Zuhriyah.
Zuhriyah mengatakan jika dia siap membantu dan memfasilitasi jika ada orang yang mau membuka usaha. Pihaknya siap menyewakan gerobak untuk berjualan.
?Jadi nanti kami siap menyewakan gerobak, tapi dia yang nyari tempatnya. Terus kami ajari cara membuat mi ayam juga,? pungkasnya.
Saat ditanya apa salah satu kiat yang membuat usahanya bisa terus bertahan bahkan berkembang hingga saat ini, Zuhriyah menjawab, ?Dalam menjalankan usaha yang penting itu istikamah. Jika terjadi pasang surut, jangan mudah menyerah. Kita lakukan evaluasi, lalu cari solusinya.?
