HarianBernas.com – Depresi klinis adalah salah satu gangguan mental yang paling umum dihadapi, dengan gejala-gejala seperti kelelahan, pergeseran hormon, dan perasaan tertekan. Kenali lima kondisi yang bisa salah ketika kalian mengalami depresi, seperti:
1. ADHD
ADHD, terkait dengan kondisi anak yang energik dan tidak bisa duduk diam. Tapi ADHD tidak terbatas hanya pada masa kanak-kanak. Studi oleh American Journal of Psychiatry memperkirakan bahwa sekitar satu dari setiap 20 orang Amerika berusia 18 sampai 44 memiliki kondisi ADHD. Salah satunya Perempuan dewasa dengan ADHD biasanya tidak hiperaktif.
Penderita berfikir mereka mengembara, dan mereka tidak bisa cukup lama untuk menyelesaikan sebuah tugas. Kurangnya fokus dapat menyebabkan rasa malu yang berlebihan sehingga mereka tidak dapat menyelesaikan sesuatu, dan rasa malu itu dapat menyebabkan depresi.
Perempuan dewasa yang mengalami gejala ADHD ringan dan tidak terdiagnosis selama masa kanak-kanak terkadang mengalami banyak tekanan dan tuntutan, terutama sejak melahirkan. Terapi perilaku kognitif dan manajemen stres juga dapat membantu perempuan mendapatkan kontrol atas gejala ADHD.
2. Hipotiroidisme
Penyebab umum gejala depresi pada perempuan dapat ditelusuri pada kelenjar di leher yang menghasilkan hormon yang mempengaruhi setiap organ dalam tubuh. Salah satunya gangguan kelenjar tiroid. Tiroid ibaratnya seperti pedal gas untuk tubuh, termasuk otak.
Jika tiroid memproduksi terlalu banyak hormon (disebut hipertiroidisme), itu bisa membuat Ibu merasa gelisah dan cemas. Tapi, jika menghasilkan terlalu sedikit hormon (dikenal sebagai hipotiroidisme), sistem kerja tubuh akan melambat, membuat Ibu lelah, tidak dapat berkonsentrasi, dan tertekan.
Penyebab paling umum dari kurangnya tiroid aktif adalah penyakit Hashimoto, di mana sistem kekebalan tubuh menyerang kelenjar, mencegahnya untuk membuat hormon. Tiroiditis pascamelahirkan, kondisi yang mirip dengan Hashimoto, menyerang hingga 10 persen perempuan setelah kehamilan.
Jika kalian memiliki energi rendah dan merasa tertekan saat menjalani pemeriksaan pascapartum, mintalah dokter memberikan tes darah sederhana untuk memeriksa kadar tiroid. Pada kebanyakan perempuan, kondisinya dapat sembuh sendiri dalam waktu satu tahun sampai 18 bulan, namun bagi beberapa ibu, hal itu bisa menjadi masalah seumur hidup. Hipotiroidisme dapat dikelola dengan menggunakan hormon sintetis (levothyroxine) untuk menggantikan tiroid yang telah berhenti dibuat.
3. Fibromyalgia dan Chronic Fatigue Syndrome
Insomnia juga merupakan salah satu gejala dari dua gangguan yaitu fibromyalgia dan chronic fatigue syndrome(CFS). Gejala dapat terlihat ketika kita sering terbangun sepanjang malam dan juga menderita brain fog, sakit, dan kelelahan otak. Jika memang teras ciri-ciri seperti disebutkan tadi ada kemungkinan kalian menderita sindrom kelelahan kronis (CFS) atau fibromyalgia.
Salah satu perbedaan besarnya adalah depresi, kalian akan kehilangan minat pada aktivitas yang biasa dilakukan seperti Hong yang mulai ditinggalkan, tetapi kondisi dengan CFS atau fibromyalgia, kalian masih berharap bisa melakukannya.
Meskipun tidak ada yang yakin tentang penyebab kondisi ini, tekanan fisik dan emosional mungkin berperan. Sejumlah infeksi yang tidak diobati atau masalah hormonal juga bisa memicunya. Perawatan untuk kedua kondisi tersebut meliputi obat antidepresan, obat tidur, penghilang rasa sakit, dan perubahan gaya hidup seperti olahraga sedang.
4. Penyakit Lyme
Penyakit yang berpotensi melemahkan ini disebarkan oleh kutu yang membawa bakteri Borrelia burgdorferi. Adapun gejala neuropsikiatrik, termasuk brain fog, kebingungan, gangguan obsesif-kompulsif, psikosis, panik, dan depresi berat. “Lyme dikenal sebagai 'The Great Imitator', karena meniru begitu banyak kondisi lainnya.
Infeksi Lyme melepaskan molekul inflamasi yang disebut sitokin yang berjalan ke otak, membuat jalur arus listrik menjadi kacau. Saat Lyme didiagnosis lebih awal dan diobati dengan antibiotik, dengan obat penyakit ini dapat disembuhkan kira-kira 75 persen.
