HarianBernas.com ? Usaha keras tak akan pernah mengkhianati hasil, katanya. Ini telah dibuktikan oleh seorang ibu di Tiongkok yang mengasuh bayinya yang difabel sampai sekarang berhasil masuk universitas Harvard.
Kisah itu berawal pada tahun 1988, saat sang ibu melahirkan anak pertamanya laki-laki yang dinamai Ding Ding.
Sayang, bayi itu mengidap kelainan di kepala, cerebral palsy. Dokter rumah sakit di Hubei mengatakan jika bayi ini akan tetap diselamatkan, dia akan tumbuh dengan kecerdasan yang rendah, cacat seumur hidup dan hanya akan menjadi beban.
Mendengar penjelasan dokter ini, suaminya sependapat. Namun ibu anak ini menentang keras. Ia akan menyelamatkan hidup anaknya bagaimanapun caranya.
Perbedaan pendapat ini menyebabkan keduanya bercerai. Sejak itu Zou, nama ibu itu menjadi orang tua tunggal. Ia harus bekerja lebih keras untuk membiayai keluarga, terutama untuk membayar perawatan Ding Ding.
Selain bekerja di universitas di Wuhan, ia bekerja paruh waktu sebagai pelatih protokol dan sebagai penjual polis asuransi.
Di tengah kesibukannya itu, Zou secara teratur membawa anak semata wayangnya ke sesi rehabilitasi dan mempelajari pijat terapeutik untuk mengatasi otot kaku anaknya.
Zou juga melakukan terapi pada anaknya untuk merangsang otak dan meningkatkan kecerdasannya.
Ia gigih mengajari anaknya agar bisa mandiri, misalnya bagaimana cara memegang sumpit, sebab Ding memiliki masalah dalam mengendalikan tangannya.
“Saya tidak ingin dia merasa malu dengan masalah fisiknya,” katanya.
“Karena dia memiliki kelemahan di beberapa bidang, saya bekerja keras mengajarinya untuk mengejar ketinggalannya, ” ujarnya seperti dilansir Straitstimes, Rabu (17/5/2017)
Kini Ding telah berusia 29 tahun. Ia berterimakasih akan cinta dan pengabdian ibunya yang membantunya berhasil walau fisiknya tidak sempurna. Dia mengatakan, melalui bimbingan ibunya ia berhasil mengatasi banyak tantangan dan bahkan unggul dalam studi akademisnya.
Pada tahun 2011, Ding lulus dari Sekolah Ilmu Pengetahuan dan Teknik Lingkungan Universitas Peking. Kemudian dia mendaftarkan diri untuk mendapatkan gelar master di Sekolah Hukum Internasional. Setelah itu, Ding mendapat pekerjaan selama dua tahun untuk membantu ibunya.
Namun, ibunya terus mendorong agar Ding melanjutkan studinya di Harvard. Di tengah kesulitan dan rintangan yang ia hadapi dalam hidupnya akhirnya dia diterima.
Ding Ding lalu meninggalkan ibunya di Jingzhou, Provinsi Hubei tahun lalu untuk melanjutkan studinya di Universitas Harvard. Dia mengatakan sering merindukan ibunya yang juga menjadi mentor spiritualnya.
