Close Menu
BERNAS.id
    Berita Terbaru

    Kado HUT ke-499, Produk Kreatif Jakarta Siap Tembus Pasar Eropa Lewat Milan

    May 14, 2026

    Pimpinan DPRD DKI Ingatkan Jakarta Tak Bisa Jadi Kota Global Jika Pendidikan Masih Bermasalah

    May 14, 2026

    Green Building Initiative Mengumumkan Pengunduran Diri CEO Vicki Worden

    May 13, 2026

    Pansus: Pembangunan Daerah di DIY Belum Sepenuhnya Optimal dan Inklusif

    May 13, 2026

    Aplikasi Simetris Berbasis AI Siap Cegah Kasus Keracunan MBG di Yogyakarta

    May 13, 2026
    Facebook Instagram Threads X (Twitter) YouTube TikTok LinkedIn RSS
    • Google News BERNAS
    • Tentang BERNAS
    • Redaksi BERNAS
    • Pedoman Media Siber
    Facebook Instagram Threads X (Twitter) YouTube TikTok LinkedIn RSS
    BERNAS.id
    • Home
    • Regional
      • Internasional
      • Nasional
      • Daerah
        • DK Jakarta
        • DI Yogyakarta
        • Jawa Tengah
        • Jawa Timur
    • Finance

      DIY Jadi Tuan Rumah Pembukaan Seleksi Calon Anggota Industri Kreatif Syariah (IKRA) Tahun 2026

      April 30, 2026

      Ninja Xpress Luncurkan Ninja Cross Border: Dari Indonesia ke Dunia

      April 26, 2026

      XPORIA 2026, Dorong Peran Bank Daerah sebagai Penggerak Ekonomi Ibu Kota

      April 22, 2026

      Bazar XPORIA 2026 Hidupkan Transaksi dan Dongkrak Omzet UMKM

      April 21, 2026

      Bidik ASN Pemprov DKI, Bank Jakarta Gelar XPORIA 2026

      April 20, 2026
    • Teknologi
    • Pendidikan
    • Karir
    • Lifestyle
    • Politik
    • Hukum
    • Other
      • Travel
      • Entertainment
      • Opini
      • Tokoh
      • Budaya
      • Religi
      • Lingkungan
      • Kesehatan
      • Olahraga
      • Desa
      • Beragam
        • Bernas TV
        • Citizen Journalism
        • Editorial
        • Highlight
        • Inspirasi
        • Press Release
        • GlobeNewswire
    • Channel Jakarta
    BERNAS.id
    Home»Finance»Ekonomi Indonesia Turun Kelas, Penyebabnya Pandemi atau Oligarki?
    Finance

    Ekonomi Indonesia Turun Kelas, Penyebabnya Pandemi atau Oligarki?

    Veronika YasintaBy Veronika YasintaJuly 13, 2021No Comments
    Telegram WhatsApp Facebook Twitter LinkedIn Email
    Share
    Telegram WhatsApp Facebook Twitter LinkedIn Email

    BERNAS.ID – Indonesia hanya bisa mempertahankan status negara berpendapatan menengah atas atau upper middle income country dalam waktu setahun.

    Bank Dunia menurunkan kembali kelas Indonesia menjadi negara berpendapatan menengah bawah atau lower middle income country pada 2020, berdasarkan laporan yang diperbarui setiap 1 Juli. Pendapatan nasional bruto per kapita pada 2020 tercatat hanya 3.870 dollar AS, sementara pada 2019 mencapai 4.050 dollar AS.

    Kementerian Keuangan meyakini penurunan tersebut akibat dampak dari pandemi Covid-19. Seperti diketahui, hampir semua negara di dunia mengalami tekanan akibat wabah virus corona.

    Baca Juga: Kasus Covid-19 Melonjak, Sri Mulyani Ungkap Skenario Berat Pemulihan Ekonomi

    Tapi benarkah kondisi perekonomian Indonesia saat ini hanya dipengaruhi oleh pandemi?

    Menurut Ekonom Senior Institute for Development of Economist and Finance (INDEF) Didin S. Damanhuri mengatakan perekonomian Indonesia sudah mengalami masalah, bahkan sebelum pandemi.

    Dia berpendapat, masalah struktural yang membuat Indonesia tertinggal dan terancam dengan jebakan negara berpendapatan menengah. Salah satunya adalah tidak ada peta jalan untuk industrialisasi di era reformasi sehingga berdampak pada perekonomian hingga saat ini.

    Kehadiran para rent seeker atau pemburu rente sebagai pelaku ekonomi lebih condong untuk mengakumulasi kapital tanpa melakukan upaya inovasi, teknologi, dan entrepreneurship.

    “Sekarang ini pelaku ekonomi itu (rent seeker) dibiarkan menjadi pemain di pasar modal, kemudian main lobi untuk dilindungi bisnisnya agar tetap mengakumulasi kapital,” katanya dalam Diskusi Publik bertajuk Pandemi Tak Tuntas, Indonesia Turun Kelas, Selasa (13/7/2019).

    Masalah selanjutnya adalah struktur politik dalam negeri. Setiap penyelenggaraan acara besar politik seperti pemilihan presiden dan kepala daerah selalu dibiayai oleh rent seeker.

    Keberadaan mereka dalam event politik menimbulkan terjadinya oligarki baik bisnis, ekonomi, dan politik. Hal tersebut bisa mengganggu keseriusan pelaku ekonomi lain dalam industrialisasi, merebut teknologi, dan pengembangan kewirausahaan.

    “Ini yang menghalangi Indonesia akan sulit merebut teknologi dengan kapasitas inovasi dan entrepreneurship,” ujarnya.

    Berikutnya terkait masalah ketimpangan. Saat ini orang-orang yang masuk golongan sangat kaya dan super kaya malah mengalami peningkatan kekayaan.

    Baca Juga: Pakar Ekonomi: Pemerintah Perlu Antisipasi PHK Massal Akibat PPKM Darurat

    Sementara masyarakat ekonomi ke bawah terus mengalami penurunan pendapatan. Didin menyebutkan, sebuah studi bahkan menunjukkan daya beli mereka menurun 70%.

    “Boleh saja pertumbuhan ekonomi bisa 5%, tapi ketimpangan makin besar,” tuturnya.

    “Industri tidak terjangkau kemajuannya baik teknologi dalam pertumbuhan ekonomi, entrepreneurship, dan sumbangannya mengatasi ketimpangan,” imbuhnya.

    Reformasi Politik dan Ekonomi

    Ada beberapa hal yang bisa dilakukan untuk membalikkan keadaan Indonesia saat ini. Hal itu bisa dimulai dengan melakukan revisi undang-undang terkait politik.

    Sementara secara ekonomi, menurut Didin, Indonesia juga butuh reformasi berupa ketegasan pemerintah agar pelaku bisnis fokus pada industrialisasi, bukan pada sistem politik.

    “Misalnya partai dibiayai APBN sehingga tidak ada sumbanagan dari pelaku bisnis. Pelaku bisnis fokus pada hilirisasi industrialisasi dengan merebut teknologi dan bangkitnya entrepreneurship,” ucapnya.

    Dia menilai ide partai politik dibiayai oleh APBN tidak akan membebankan. Apabila hanya 7 partai yang masuk parliamentary threshold, maka biayanya masih memadai. Jumlahnya juga tidak sebanding dengan kerugian negara akibat dugaan korupsi di BPJS Ketenagakerjaan yang mencapai Rp20 triliun.

    Baca Juga: Upaya Pemulihan Ekonomi Bisa Terhambat oleh Lonjakan Kasus Covid-19

    Di sisi lain, pemerintah juga perlu menyiapkan peta jalan sehingga kemajuan dari industrialisasi bisa dievaluasi dari waktu ke waktu. 

    Reformasi bersama secara politik dan ekonomi bisa mengejar kembali ketertinggalan dan menghindari middle income trap atau jebakan negara berpendapatan menengah.

    Middle income trap adalah stagnasi pertumbuhan suatu negara yang berada di status pendapatan menengah sehingga gagal untuk menjadi negara berpendapatan tinggi.

    bank dunia middle income trap negara berpendapatan menengah oligarki oligarki di indonesia Pandemi perekonomian indonesia saat ini world bank
    Share. Telegram WhatsApp Facebook Twitter LinkedIn Tumblr Email
    Veronika Yasinta

      Related Posts

      Sulteng Siap Percepat Penegasan Batas Desa Lewat Dukungan Bank Dunia

      May 10, 2026

      DIY Jadi Tuan Rumah Pembukaan Seleksi Calon Anggota Industri Kreatif Syariah (IKRA) Tahun 2026

      April 30, 2026

      Ninja Xpress Luncurkan Ninja Cross Border: Dari Indonesia ke Dunia

      April 26, 2026

      XPORIA 2026, Dorong Peran Bank Daerah sebagai Penggerak Ekonomi Ibu Kota

      April 22, 2026

      Bazar XPORIA 2026 Hidupkan Transaksi dan Dongkrak Omzet UMKM

      April 21, 2026

      Bidik ASN Pemprov DKI, Bank Jakarta Gelar XPORIA 2026

      April 20, 2026
      Leave A Reply Cancel Reply

      Berita Internasional Terbaru

      Green Building Initiative Mengumumkan Pengunduran Diri CEO Vicki Worden

      May 13, 2026

      Persona AI Bekerja Sama dengan Under Armour untuk Mengkaji Berbagai Material Berkinerja Tinggi untuk Robotika Humanoid

      May 13, 2026
      Berita Nasional Terbaru

      Janabadra Club Dorong Sinergisitas Alumni Nasional untuk Kontribusi Almamater dan Bangsa

      April 13, 2026

      Era Yuldi, Imigrasi Raup PNBP Rp10,4 Triliun

      April 2, 2026
      Berita Daerah Terbaru

      Kado HUT ke-499, Produk Kreatif Jakarta Siap Tembus Pasar Eropa Lewat Milan

      May 14, 2026

      Pimpinan DPRD DKI Ingatkan Jakarta Tak Bisa Jadi Kota Global Jika Pendidikan Masih Bermasalah

      May 14, 2026
      BERNAS.id

      Office Address :
      Jakarta
      Menara Cakrawala 12th Floor Unit 05A
      Jl. MH Tamrin Kav. 9 Menteng, Jakarta Pusat, 10340

      Yogyakarta
      Kawasan Kampus Universitas Mahakarya Asia,
      Jl. Magelang KM 8, Sendangadi, Mlati, Sleman, Daerah Istimewa Yogyakarta, 55281

      Email :
      info@bernas.id
      redaksi@bernas.id

      Advertisement & Placement :
      +62 812-1523-4545

      Link
      • Google News BERNAS.id
      • Tentang BERNAS
      • Redaksi BERNAS
      • Pedoman Media Siber
      • Kode Etik
      • Verifikasi Dewan Pers BERNAS.id
      BERNAS.id
      Facebook Instagram Threads X (Twitter) YouTube TikTok LinkedIn RSS
      • Google News BERNAS
      • Tentang BERNAS
      • Redaksi BERNAS
      • Pedoman Media Siber
      © 2015 - 2026 BERNAS.id All Rights Reserved.

      Type above and press Enter to search. Press Esc to cancel.