HarianBernas.com – Minyak sisa menggoreng, biasa langsung dibuang demikian saja. Tunggu dulu, ternyata minyak jelantah (minyak goreng bekas) ini sanggup digunakan jadi sumber energi.
Apabila ditinjau dari komposisi kimia, minyak jelantah mengandung senyawa-senyawa bersifat karsinogenik, yang berlangsung tatkala proses penggorengan. Penggunaan minyak jelantah sanggup merusak kesehatan manusia, memunculkan kanker. Kemudian, mengurangi kecerdasan generasi muda. Untuk itu, butuh penanganan sesuai biar minyak jelantah berguna dan tidak memunculkan kerugian dari factor kesehatan manusia dan lingkungan.
Berawal dari situ, tiga mahasiswa Universitas Gajah Mada (UGM) Yogyakarta, mengembangkan biogasoline berbahan minyak jelantah. Biogasoline ini terbukti menghidupkan mesin kendaraan bermotor.
Ketiganya, Abdul Afif Almuflih dan Khoir Eko Pamudi dari Departemen Kimia FMIPA juga Endri Geovani dari Departemen Sosial Ekonomi Pertanian, Fakultas Pertanian. Dari penelitian pengembangan biogasoline minyak jelantah (Jeco gasoline) itu mereka berhasil menyabet empat penghargaan internasional.
Penghargaan ini, antara lain gold medal dari World Invetion Intellectual Property Association (WIIPA) , gold medal dari Indonesian Invention and Innovation Promotion Association (INNOPA), bronze medal dari Malaysian Technology Expo (MTE) 2016. Lalu spesial award dari Toronto International Society of Innovation dan Advanced Skillis (TISIAS) Kanada. Mereka menyabet banyak penghargaan lain dari turnamen nasional.
Abdul Afif menyampaikan, pemilihan minyak jelantah biar minyak habis gunakan dapat berguna. Sejauh ini cuma terbuang demikian saja.
Pemilihan minyak jelantah yang merupakan biogasoline sebab mereka menyaksikan konsumsi minyak goreng Indonesia lumayan tinggi . Indonesia pula pembuat sawit paling besar dunia. Jadi, kesempatan produksi Jeco gasoline terbuka lebar.
Mereka mencari metode pas buat memproses minyak jelantah jadi biodiesel. Mereka menggunakan rekasi hydrocracking untuk mengonversi minyak jelantah jadi biogasoline.
?Kami pakai tanah liat atau clay yaitu bentonit terpilar alumina, mudah didapat. Tanah liat diaktifkan dengan logam kadium sebagai katalisator,? katanya.
Trick bikin biogasoline mulai sejak pelaksanaan katalis yang merupakan fasilitas konversi minyak jelantah. Dulu proses hydrocracking. Panaskan minyak jelantah dalam tanur listrik selanjutnya bakal menguap mengalir melintasi katalis. Sesudah itu, akhirnya bakal menetes jadi campuran biogasoline dan biodiesel yang selanjutnya dipisahkan memanfaatkan metode destilasi.
?Hasilnya bisa memproduksi sekitar 42% biogasoline (bensin) dan 29% biodiesel (biosolar). Dengan begitu, satu liter minyak bisa jadi sekitar 420 ml, terdiri dari 240 ml biogasoline dan 180 ml biodiesel,?kata Afif.
Endri Geovani menyambung, untuk katalis mereka memanfaatkan tanah liat bahkan bisa digunakan berulangkali. Dengan metode sederhana ini, penduduk sanggup menciptakan sendiri biogasoline atau biodiesel dari minyak jelantah.
?Pembuatan lebih sederhana, produksi lebih cepat, hanya melalui dua tahap, yakni katalis dan produksi dengan metode hydrocracking.?
