Pernahkah kalian begitu gemas dengan suatu yang tidak sesuai dengan keinginanmu? Saat, tidak ada alat yang bisa digunakan untuk melakukan aktivitas atau hobimu?
Jika, Ya. Mari simak kisahku.
Aku berbeda dengan teman-temanku. Bila mereka ingin sekolah, maka aku sebaliknya. Aku tidak ingin sekolah. Padahal, orang tuaku bisa saja menyekolahkanku. Aku hanya ingin mengikuti jejak Ayah.
Aku lahir dari keluarga yang berkecukupan, pada 5 Januari 1855 di Amerika Serikat. Ayah merupakan seorang yang kreatif. Mereka selalu memiliki ide untuk membuat barang baru. Dan Ibuku jago memasak. Ayahku membuka usaha baru di Chicago, hal ini membuat aku dan keluarga harus ikut pindah pula.
Tahun 1871, keluargaku harus menerima beban baru. Perusahaan ayahku ikut terbakar. Api itu tidak hanya melahap toko ayah, tapi juga melahap bangunan yang ada disekitar toko ayah. Kebakaran ini meninggakan luka mendalam bagi keluargaku. Kami berniat untuk menyembuhkan luka itu dengan pindah ke New York.
Kepindahanku ini membuatku tak ingin melanjutkan sekolah. Aku ingin mengikuti jejak ayah. Aku ingin menciptakan hal baru seperti ayah. Aku mulai bekerja sebagai salesman saat usiaku masih 18 tahun. Aku mulai memahami bahwa barang dapat diganti dan diisi ulang dengan mudah.
Ketika itu aku mencukur janggutku. Sebelumnya, aku harus mengasah pisau cukurnya dulu. Dan daguku memerah karena iritasi. Aku ingin menciptakan alat cukur baru yang tidak seribet ini! Aku sudah mengatakan hal ini kepada teknisi di institut teknologi, namun tidak membuahkan hasil sama sekali.
Akhirnya, aku mencari teknisi baru, Mr. William Emery. Ia berjanji akan membantuku. Alat ini kukerjakan selama 5 tahun lamanya. Setelah pisau cukur yang lebih efisien sudah kuhasilkan, aku membuat pisau cukur bermata dua yang bisa diganti. Barang ini ku patenkan pada tahun 1901, dan kuberi merk seperti namaku, Gillete. Nama lengkapku King Camp Gillette. Sayangnya pisau cukurku tidak laku. Aku harus mengurangi biaya produksi agar aku tidak rugi. Dan benar saja, setelah 3 tahun aku berjuang, kerja kerasku berhasil. Pisau cukurku laku keras, dan diakui oleh masyarakat.
