JOGJA, HarianBernas.com — Pendidikan karakter sudah saatnya menjadi gerakan moral dan intelektual di Indonesia, selain hilirisasi hasil riset, perumusan haluan negara, dan posisi Indonesia sebagai poros maritim.
“Saatnya pendidikan agraris-tradisional kita berbalik menuju maritim-rasional,” ajak Gubernur Daerah Istimewa Yogyakarta Sultan HB X dalam pidato penutupan Konferensi Nasional Forum Rektor Indonesia, di Pagelaran Keraton Yogyakarta, Sabtu (30/1). Di hadapan 433 rektor perguruan tinggi se-Indonesia, Sultan menegaskan peran penting pendidikan dalam pembangunan jati diri bangsa. Mengutip Mahatma Gandhi, Sultan mengingatkan jangan sampai ada pendidikan tanpa penanaman karakter.
Menurut Sultan, seturut revolusi mental yang digagas Presiden Joko Widodo, karakter yang harus dibangun sekarang adalah kesadaran maritim. “Balik arus, dari among tani menuju dagang layar,” ajaknya.
Sembari mengingatkan kembali tentang Pancasila dan Bhinneka Tunggal Ika, Sultan menyodorkan gagasan menciptakan negeri “maritim paradise”. “Kita balik arus. (Ciptakan) imajinasi membayangkan surga,” cetusnya.
Sementara itu, sebagai tuan rumah konferensi, Rektor Universitas Negeri Yogyakarta Rochmat Wahab melaporkan hasil dari konferensi, yakni di antaranya menjalin kerja sama dengan KPK (Komisi Pemberantasan Korupsi) dan BNN (Badan Narkotika Nasional) dalam rangka menempatkan pendidikan karakter sebagai gerakan moral dan intelektual.
