HarianBernas.com – Perayaan Hari Raya Nyepi tidak bisa dilepaskan dari kegiatan Catur Brata. Yakni empat pedoman pengendalian diri yang terdiri dari Amati Geni, Amati Lelanguan, Amati Karya, dan Amati Lelungaan. Catur Brata dimaksudkan untuk mawas diri pribadi dan melakukan perenungan (mulat sarira) akan perilaku baik dan buruk selama setahun perjalanan hidup umat. Makna dari keempat “Amati” itu sebagai berikut :
Amati Geni, yang memiliki dua makna. Pertama, tidak melakukan aktivitas yang berkaitan dengan menyalakan api. Seperti memasak, menyalakan lampu dan sebagainya. Kedua, tidak melakukan aktivitas yang berkaitan dengan api dalam jiwa manusia. Semisal amarah (kroda) dan ketamakan atau serakah (loba). Pengetahuan tentang jiwa menjadi penting untuk memahami perilaku manusia. Maka dalam Amati Geni, upaya perenungan tentang etika baik dan buruk, salah dan benar sangatlah utama. Disebutkan dalam Pustaka Suci Hindu bahwa ?Keunggulan manusia sebagai mahiuk ciptaan Tuhan, terletak pada proses pemikiran seseorang yang dapat membedakan sikap prilaku yang baik dan buruk (Sarasamuscaya, sloka 82). Alat kendali proses berpikir yang paling utama menurut ajaran Hindu adalah keyakinan terhadap karma phala (Sarasamuscaya, sloka 74).
Amati Lelanguan, yakni aktivitas mulat sarira atau mawas diri yang berkaitan dengan wacika. Wacika adalah perkataan yang benar dalam interaksi dengan Tuhan dan sesama. Menurut tattwa Hindu dalam pustaka suci terungkap Sarasamuscaya dan Kekawin nitisastra yang mengajarkan bahwa :
(1) kata-kata menyebabkan sukses dalam hidup;
(2) kata-kata menyebabkan orang gagal dalam hidup;
(3) kata-kata menyebabkan orang mendapat hasil sebagai sumbu kehidupan; dan
(4) kata-kata menyebabkan orang memiliki hubungan dengan sesama.
Umat Hindu dengan demikian diajarkan agar tetap melaksanakan wacika yang diparisudha. Yaitu tidak boleh berkata kasar, mencaci maki dan menyebabkan orang tersinggung serta menderita (Sarasamuscaya; Sloka 75).
Amati Karya, juga memiliki dua makna. Yaitu tidak bekerja atau juga mengevaluasi kerja. Umat Hindu bekerja harus berlandaskan dharma (kebaikan dan pengabdian). Kerja yang baik (subha karma) dapat menolong manusia untuk menolong dirinya dari penderitaan. Kerja juga menyebabkan terjadinya Jagadhita dan sebagai yadnya serta titah Hyang Widhi. Kerja juga menentukan identitas diri. Aku bekerja, maka aku ada.
Amati Lelungaan, yang berarti tidak melakukan perjalanan atau pergi keluar rumah. Selain dalam rangka pengendalian diri, juga menjadi saat untuk mengevaluasi segala perjalanan langkah kaki yang telah dilakukan.
Catur Brata tersebut dimuka menunjukkan bahwa perayaan Nyepi adalah totalitas perenungan dan pengendalian nafsu diri umat Hindu untuk berkaca dari masa lalu, guna melangkah di masa kini dan ke depan agar melakukan perbuatan yang semakin bermanfaat bagi sesama dalam rangka pengabdian kepada Sang Hyang Widhi.
