HarianBernas.com ? Tentu kita masih ingat tentang kampanye sewa pasangan yang dilakukan oleh MatahariMall pada saat April Mop beberapa waktu yang lalu. Kampanye ini telah menjadi viral oleh para netizen. Efeknya ialah trafik MatahariMall pada hari itu meningkat hingga 5 kali lipat. Bahkan kampanye ini menghiasi berbagai pemberitaan di media nasional.
Apakah Anda tahu jika salah satu dari tiga budaya kerja yang dianut oleh MatahariMall adalah bold. CEO MatahariMall.com, Hadi Wenas menyampaikan jika seluruh pegawai MatahariMall harus berani untuk melakukan hal-hal yang inovatif serta kreatif dan belum pernah terpikirkan sebelumnya.
Ide inovatif dan cenderung gila ini ternyata berhasil diterapkan oleh MatahariMall melalui kampanye ?Nyeleneh? mereka untuk menyambut 1 April, atau dikenal dengan nama April Mop. Pada tanggal tersebut, MatahariMall melalui situsnya berkampanye menawarkan jasa penyewaan pasangan secara online. Bahkan MatahariMall berani mengklaim sebagai situs pertama kali di Indonesia yang menyediakan jasa sewa pasangan tersebut.
Jasa sewa pasangan ini berlaku untuk pria maupun wanita. Bahkan, konsumen dapat memilih sendiri katalog pria dan wanita yang nantinya akan dipilih. Uniknya, setelah konsumen memilih dan juga meng-klik tombol Ok, halaman tersebut segera berganti dan terdapat tulisan yang mencantumkan tanda ?Stop Human Trafficking, Manusia Bukan Barang Jualan.?
Ternyata layanan sewa pasangan di MatahariMall adalah sebuah kampanye anti perdagangan manusia.
Hadi kemudian menuturkan jika ide ini bermula dari salah satu pegawainya yang berusia 23 tahun. Tanpa berpikir panjang, Hadi pun menyetujui rencana tersebut walaupun memiliki risiko yang amat besar.
“Bahkan saya tidak minta izin kepada Pak John Riady (Direktur Lippo Group). Saya hanya mengirimkan pesan singkat untuk meminta maaf kalau besok terjadi sesuatu pada MatahariMall. Ia hanya membalas 'Apa yang akan terjadi?', saya hanya tertawa membalas pesan Pak John. Pak John hanya berpesan 'Kamu CEO-nya, pastikan baik-baik saja,” lanjut Hadi dilansir dari marketeers.com.
Tetapi jika kampanye tersebut malah berubah menjadi sebuah bencana, Hadi mengaku akan siap bertanggung jawab dan juga meminta maaf dihadapan seluruh media.
“Tapi, yang perlu diingat adalah keberanian dalam mengambil risiko terhadap ide-ide yang gila,” tegas Hadi.
