JAKARTA, HarianBernas.com – Sejumlah fasilitas umum seperti halte bus Trans Jakarta, bus Trans Jakarta, dan pos security KPK, rusak akibat dipecahkan oleh ratusan massa yang melakukan aksi unjuk rasa anarkis di halaman gedung KPK.
Selain itu, beberapa anggota kepolisian dan massa aksi juga turut menjadi korban pelemparan batu. Tak hanya itu, sebuah motor yang dikendarai petugas kepolisian, juga ikut menjadi sasaran amukan massa.
Terkait aksi unjuk rasa tersebut, Kapolsek Setiabudi Jakarta Selatan, AKBP Tri Yulianto mengatakan, aksi unjuk rasa damai yang berujung kericuhan tersebut, di picu massa aksi lain yang datang belakangan.
“Ini kan sebenarnya beda-beda, campur pertama sebenarnya HMS tidak rusuh, yang kedua yang masih kita dalami (sebagai pemicu rusuh),” kata Tri Yulianto, di Jakarta Jumat (20/5/16) petang.
Sementara itu, dari hasil penyisiran, pihaknya berhasil menemukan anak busur panash yang diduga di bawa massa aksi.
Untuk mencegah aksi unjuk rasa anarkis terulang, pihaknya akan melakukan koordinasi dengan pihak KPK terkait SOP penanganan aksi unjuk rasa.
“Nanti akan koordinasi khusus dengan KPK,” jelas Yulianto.
Dilain pihak ketika ditanya lebih lanjut apakah ada massa aksi yang ditangkap, Yuli mengaku belum mendapat laporan yang lengkap, sehingga tidak bisa mengungkapkan kepada media.
“Masih diidentifikasi, masih check (pihak yang ditangkap),” tukasnya.
Sebelumnya aksi unjuk rasa yang dilakukan ratusan massa aksi dari berbagai elemen masyarakat di kantor KPK berakhir ricuh. Awalnya, aksi unjuk rasa yang dimulai sekitar pukul 14.00 WIB oleh sekelompok elemen massa dari Hidupkan Masyarakat Sejahtera (FMS) berlangsung secara tertib.
Namun, sekitar pukul 15.00 WIB, usai kedatangan ratusan massa dari elemen lain seperti masyarakat luar batang Jakarta Utara, FBR, dan berbagai eleman lain tiba-tiba massa mulai menerobos pintu masuk gedung KPK.
Atas tindakan tersebut, pihak kepolisian pun tak tinggal diam, dan meminta agar massa berlaku tertib. Namun bukannnya menurut, massa aksi justru bertindak brutal dengan melempari polisi dengan sejumlah batu dan kayu.
Padahal di dalam gedung KPK, sejumlah perwakilan massa aksi seperti anak kandung mendiang Presiden Soekarno, Rahmawati Soekaro Putri, dan adik kandung mendiang Presiden Abdurahman Wahid (Gusdur) sedang melakukan audiensi dengan perwakilan dari pihak KPK.
Selain melempari polisi, secara ratusan massa aksi juga melempari semua orang yang berada di lobi gedung KPK serta bus Trans Jakarta yang melewati jalan di depan KPK, tak terkecuali dengan wartawan yang sehari-hari melakukan peliputan di lembaga anti rasuah tersebut.
Atas tindakan anarkis tersebut, pihak kepolisian pun memukul mundur massa, dengan menembakan gas air mata, serta menyemprotkan air dari mobil water cannon.
Tak ayal, perang batu dan gas air mata antara kedua belah pihak pun berlangsung hingga sekitar 30 menit. Namun, setelah kedua belah pihak bernegoisasi, akhirnya sekitar pukul 15.45 WIB, massa berhasil dipukul mundur.
Namun, tak lama berselang, massa kembali melempari mobil polisi yang lewat, sehingga gas air mata pun kembali dikeluarkan oleh aparat kepolisian. Setelah perwakilan massa dan pihak kepolisian bernegosiasi, akhirnya massa aksi membubarkan diri.
