BEIJING, HarianBernas.com – Komitmen Indonesia dalam pembangunan pariwisata berkelanjutan, khususnya aspek lingkungan menempati posisi 130 dari 144 negara, ungkap Menteri Pariwisata Arif Yahya, Sabtu (21/5).
“Itulah penilaian dunia. Sangat memalukan. Kita dinilai tidak peka terhadap lingkungan dalam pembangunan pariwisata yang berkelanjutan,” komentarnya usai rangkaian kunjungan kerjanya di Beijing tanggal 19-20 Mei 2016.
Kementerian Pariwisata (Kemenpar) telah bekerjasama dengan organisasi pariwisata dunia (UNWTO) untuk mewujudkan pembangunan pariwisata berkelanjutan yang lebih ramah lingkungan, termasuk bekerja sama dengan Global Sustainable Tourism Council (GSTC), yang menerbitkan Sustainable Tourism Certificate (STC), jelas Menteri Arif.
Kemenpar telah menetapkan tiga wilayah untuk proyek percontohan pembangunan pariwisata berkelanjutan, yakni 1.Pangandaran (Jawa Barat), 2.Kulon Progo (Yogyakarta), dan 3. Mandalika (Lombok).
Tim UNWTO sudah datang ke tiga lokasi tersebut. Harapannya, pada tahun 2016 ini, Indonesia telah memipunyai sertifikat pembangunan pariwisata berkelanjutan berpijak dari kriteria atau standar GSTC.
?Kalau mau maju, ya standar kita juga harus standar global,” jelas Kemenpar.
Menteri Arif menambahkan sertifikasi tersebut selanjutnya akan diterapkan di sepuluh destinasi utama yang telah ditentukan. Secara bertahap akan diberlakukan secara menyeluruh di seluruh destinasi wisata lain di Indonesia.
Goal-nya, Indonesia dapat memperbaiki performa pembangunan pariwisata berkelanjutan yang ramah lingkungan, ramah secara sosial dan mensejahterakan masyarakat secara ekonomi, imbuh Menteri Arif.
GSTC menentukan empat kriteria untuk pembangunan pariwisata berkelanjutan, yaitu manajemen berkelanjutan, dampak sosial ekonomi, dampak budaya, dan dampak lingkungan yang mencakup konsumsi sumber daya alam, polusi, konservasi keragaman hayati dan lanskap.
Sebelumnya, Menteri Arif Yahya menghadiri Konferensi Pertama Dunia Pariwisata untuk Pembangunan dalam kunjungan kerjanya di Beijing. Dihadiri 600 perwakilan pejabat dan pelaku industri pariwisata dari 107 negara.
Pariwisata merupakan industri yang melibatkan seluruh aspek sosial ekonomi, pelestarian budaya, dan mampu menciptakan lapangan kerja, sekaligus jembatan untuk saling pengertian antarmasyarakat dunia dalam sambutan Sekjen PBB Ban Ki Moon yang dibacakan.
Pada tahun 2019, kontribusi pariwisata terhadap PDB ditargetkan sampai 15 persen dengan nilai Rp275 triliun dan berkontribusi terhadap kesempatan kerja 13 juta orang.
