HarianBernas.com – Merokok merupakan perilaku buruk yang merugikan kesehatan tubuh. Kebiasaan merokok dapat mengakibatkan kanker di berbagai bagian tubuh, kerusakan paru-paru, kematian dini, dan banyak hal mengerikan lain.
Berbagai alasan ini membuat para ilmuwan mencari tahu efek yang terjadi apabila mengurangi bahkan berhenti rokok. Mereka menemukan bahwa pengurangan jumlah perokok berperan dalam perkembangan epidemi obesitas atau ?wabah? kelebihan berat badan.
Huffingtonpost.com menyebutkan, menurut laporan Surgeon General pada tahun 1964, diketahui bahwa merokok menyebabkan kanker. Ini menyebabkan penurunan drastis jumlah orang Amerika yang merokok tembakau. Data tahun 2014 menyebutkan, siswa SMA dan orang dewasa yang merokok hanya 16 persen, turun dibanding jumlah tahun 1964 yang sebanyak 42,4 persen.
Sementara itu obesitas memiliki jumlah penderita lebih dari dua kali lipat dalam periode waktu yang sama. Diketahui, pada tahun 2012, dua-pertiga orang Amerika dewasa menderita kelebihan berat badan.
Hubungan ini tidak selalu menunjukkan sebab-akibat. Charles Baum, profesor ekonomi di Middle Tennessee State University, dan Shin-Yi Chou, peneliti di National Bureau of Economic Research, tertarik meneliti apakah penurunan jumlah perokok berdampak pada kenaikan penderita obesitas.
Baum dan Chou meneliti bagaimana perubahan perilaku manusia dapat meningkatkan obesitas. Fokus penelitian pada berbagai faktor sosial-lingkungan, seperti kenaikan harga pangan, perbedaan tuntutan fisik di tempat kerja, komposisi rasial, serta distribusi usia dan penurunan konsumsi rokok. Penelitian ini disusun selama hampir 30 tahun berdasar data National Longitudinal Survey of Youth.
Hasilnya ditemukan bahwa penurunan jumlah perokok mengakibatkan 4 persen dari total peningkatan obesitas di Amerika pada kurun waktu lebih dari 30 tahun. Memang bukan angka yang tinggi, namun berkurangnya perokok tentunya masih menjadi faktor pendorong yang signifikan untuk munculnya penderita obesitas.
Hasil riset tersebut tak terlalu disetujui Direktur Loss Pusat Bariatrik dan Metabolik Berat di Stony Brook Medicine, Dr Aurora Pryor. Menurutnya bahwa sifat adiktif dari makanan olahan memiliki pengaruh jauh lebih signifikan pada munculnya obesitas.
“Orang-orang mengganti rokok dengan makanan,” ujarnya. Pryor juga mengutarakan bahwa faktor lain yang berpengaruh adalah banyaknya waktu yang dihabiskan di luar rumah serta banyaknya waktu yang dihabiskan untuk teknologi. Keberadaan restoran drive-thru menurutnya adalah faktor lain yang berpengaruh.
“Manfaat kesehatan berhenti merokok melebihi dari hal positif apa pun,” tegas Pryor. Dirinya menganalogikan perilaku berhenti merokok yang dapat menyebabkan obesitas hanya seperti sebuah kerikil kecil dalam sekumpulan bebatuan.
