HarianBernas.com – Selepas sahur bersama keluarga, saya sebisa mungkin mengajak anak-anak untuk bersama-sama pergi untuk shalat subuh di Masjid. Lebih-lebih jika pas tidak ada jatah mengisi ceramah subuh. Pagi itu, udara di Sleman terasa dingin sehingga otak malas mulai merangsek masuk ke pikiran anak-anak untuk tidak pergi ke Masjid.
Dengan cepat saya ambil inisiatif bahwa pagi ini kami ke masjid sambil berjalan kaki biar badan lebih segar. Alhamdulillah akhirnya setelah berdialog kami pun sepakat untuk jalan kaki bersama. Sesampai di Masjid seperti biasa jika Imam utama berhalangan hadir maka secara otomatis sebagai anggota takmir, saya didaulat untuk menjadi Imam shalat subuh dan memimpin dzikir seusai shalat.
Sejurus kemudian setelah rangkaian shalat subuh dan dzikir selesai saya bergegas hendak pulang. Tetapi ada yang aneh. Tidak biasanya anak-anak sudah tidak ada di Masjid. Ternyata mereka bertemu dengan teman-temannya sehingga pulang lebih dulu untuk bermain petasan bersama. Melihat itu, sejenak ingatan saya pun melayang kembali ke tahun 89-90an, saat saya menjadi pedagang mercon atau petasan.
Ya, petasan hasil buah karya sendiri bersama teman-teman sepermainan saya dulu. Katakanlah, ini adalah ide nakal membuat industri kecil petasan. Setiap hari saya membuat petasan dibantu oleh teman-teman sepermainan dengan upah obat petasan atau mereka bisa membawa pulang sebagian petasan yang berhasil dibuat. Teman-teman sangat senang karena bisa bermain petasan tanpa harus mengganggu uang orang tua atau uang jatah jajan.
Seperti biasanya, jika sekolah libur dan kebetulan bertepatan dengan hari pasar Kliwon atau Pon saya selalu menjajakan dagangan hasil karya saya dan teman-teman ke pasar. Selesai kumandang adzan dan shalat subuh, saya selalu berjalan kaki menempuh jarak sekitar 7 Km dari rumah menuju pasar Sirebot. Pasar yang terletak di sebelah barat desa saya, termasuk wilayah desa Cepedak.
Hutan Silambur adalah satu-satunya akses menuju pasar Kliwon (Sirebot orang desa menyebutnya). Suasana hutan yang sebagian masih perawan semakin menambah sejuk dan terasa hening sedikit mencekam. Perjalanan saya selalu ditemani dengan obor klari yang bahannya terbuat dari daun pelepah kelapa kering. Kami dengan penuh semangat menerobos hutan tanpa rasa takut walau kadang suara tangis bayi terdengar melengking ditengah hutan. Entah anak siapa, yang jelas itu bukan manusia, warga desa pun sering mendengarnya.
Saya harus bergegas untuk tidak didahului pedagang lain. Di pasar, siapa cepat maka dia dapat memilih lokasi yang hendak dipilih. Saya sudah punya analisis tersendiri tentang lokasi mana yang paling strategis dan paling laris untuk berjualan. Saya juga yakin karena petasan produk saya selalu diminati banyak langganan mulai dari pedagang reseller di kampung sampai end user. Di samping itu, saya dikenal juga sebagai sosok badan kecil pendek dan lucu yang selalu ceria menghibur masyarakat yang datang ke pasar.
Satu senjata andalan saya adalah saya selalu menawarkan dengan penuh senyum dan dengan bahasa yang renyah dan akrab ?Monggo Ibu-ibu dan Bapak-bapak. sayang anak sayang anak, niki obat ipun, pentilan, mercon, kembang api, sayang anak-sayang anak, monggo Bu murah meriah? Itu kata-kata yang selalu saya ucapkan dengan servis sepenuh hati. Bahasa kerennya, kita mesti memberi service excellence.
Alhamdulillah, dagangan saya selalu laris manis. Teman-teman lain yang berjualan ada yang dapat Rp.3.000,- ada juga yang dapat Rp.1.000,- bahkan ada juga yang tidak laku sama sekali. Sedangkan saya selalu mencatatkan omzet setiap jualan mulai pukul 06.00-07.30, sekitar Rp. 20.000-Rp.25.000,-. Berarti sudah dipastikan minimal setengahnya dari omzet yang berhasil dikumpulkan adalah laba saya. Selama satu bulan walau hanya dilakukan pada saat libur di akhir Ramadhan, paling tidak sudah bisa mengantongi uang minimal 120-an ribu rupiah.
Namun bisnis, kalau tidak mendapat ujian namanya bukan bisnis. Suatu pagi saya membawa dagangan yang cukup banyak karena selalu laris. Selain membawa petasan yang sudah siap jual, saya juga membawa beberapa yang masih kosong untuk di-finishing, buat jaga-jaga apabila kehabisan dagangan sebelum waktunya (manajemen stock). Suatu saat ada seorang bapak-bapak yang agak usil katanya mau beli tapi mau uji dulu, tetapi dia tidak mencoba mercon yang sudah jadi tapi membuat sendiri dengan cara finishing barang persediaan yang saya bawa (un-finished good).
Hasilnya sungguh sangat memalukan. Setelah di sulut korek api, petasan yang di-finishing oleh Bapak itu, petasan tidak meletus tapi hanya ?ngobos?. Serentak sorak sorai warga di pasar bilang ?Ngapusi?! Ngapusi..! Nagusi?!, kata mereka saya menipu. Melihat gelagat itu dengan sigap saya harus mencari akal karena itu bukanlah petasan buatan saya sepenuhnya. Akhirnya saya mengambil tempat di ketinggian dan dengan suara lantang saya berteriak ?Bapak-Bapak, Ibu-Ibu, Niku dudu nyong sing nggawe, tapi iki buktine sing nyong gawe tak sumete?!? Saya hendak menegaskan bahwa itu bukan produk saya, tetapi itu milik orang lain alias palsu. Saya hendak buktikan bahwa petasan milik dan buatan saya pasti meledak.
Alhamdulilah, petasan saya meledak dengan keras dan nyaring. Bapak-bapak dan Ibu-Ibu serta mas-mas yang ada di pasar pun gembira dan menghabiskan dagangan saya dalam sekejap. Dari situ sejak dini saya mengambil pelajaran bahwa dalam berbisnis kita harus menjaga kualitas produk dan mampu memastikan bahwa produk kita berbeda dengan yang lain.
Sering kita akan menemui produk yang banyak beredar mirip dengan milik kita sehingga orang mengira produk kita sekelas dengan yang ada. Seorang pebisnis harus punya cara jitu untuk selalu meyakinkan kepada customer bahwa produknya selalu terjaga kualitasnya. Alhamdulillah pengalaman tersebut hingga kini selalu saya terapkan dalam bisnis saya sebagai pengusaha di bidang konsultan manajemen dan software developer dibidang IT berbasis Spasial.
Ir. Suhada, MBA, IPM
(muhammadsuhada@yahoo.co.id)
