HarianBernas.com – Terdapat banyak tempat wisata di kawasan Yogyakarta yang cukup populer belakangan ini. Salah satunya adalah Candi Ratu Boko. Candi bercorak Buddha ini cukup populer karena menjadi salah satu tempat syuting film Ada Apa Dengan Cinta 2. Di tempat inilah karakter Rangga dan Cinta berkencan dan ngobrol banyak hal terkait keluarga masing-masing.
Candi Ratu Boko terletak di Desa Dawung dan Desa Sambireja, Sleman, 19 Km di sebelah timur Kota Yogyakarta. Letaknya tiga kilometer di sebelah selatan Candi Prambanan dan dekat dengan beberapa candi lain seperti Candi Kalasan, Candi Sewu, Candi Plaosan, dan Candi Sojiwan.
Sejarah terkait candi ini terungkap lewat prasasti kuno yang dibuat tahun 792 M yaitu Prasasti Abhayagirivihara. Prasasti ini menyebutkan tentang Tejahpurnapane Panamkarana atau yang dikenal dengan nama Rakai Panangkaran. Ia adalah raja Mataram Kuno yang hidup di tahun 746-784 Masehi. Ratu Boko adalah istana yang awalnya bernama Abhayagiri Vihara, berarti biara di bukit penuh kedamaian. Istana ini didirikan untuk tempat menyepi dan melakukan praktek spiritual. Selain Prasasti Abhayagiriwihara yang ditemukan di area Candi Ratu Boko, ada beberapa prasasti lain yang menyebutkan juga bangunan Abhayagirivihara ini. Beberapa diantaranya Prasasti Kalasan (tahun 779 M), Prasati Mantyasih (tahun 907 M), dan Prasasti Wanua Tengah III (tahun 908 M).
Usai masa pemerintahan Rakai Panangkaran, penguasa berikutnya adalah Rakai Walaing Pu Kombayoni yang berkuasa di tahun 898 hingga 908 Masehi. Pada masa kekuasaannya, istana ini berubah nama menjadi Keraton Walaing dan juga berubah fungsi menjadi benteng pertahanan di masa peperangan, dan dilengkapi dengan tumpukan batu-batu besar layaknya benteng.
Istana Ratu Boko memiliki luas 250.000 m2 dan terletak 196 meter di atas permukaan laut. Keseluruhan area terbagi menjadi empat bagian, yaitu tengah, barat, tenggara, dan timur. Bagian tengah terdiri dari bangunan gapura utama, lapangan, Candi Pembakaran, kolam, batu berumpak, dan paseban. Sementara, bagian tenggara meliputi pendopo, balai-balai, tiga candi, kolam, dan kompleks Keputren. Di bagian timur terdapat kompleks gua, stupa Buddha, dan kolam. Sedangkan bagian barat hanya terdiri atas perbukitan.
Bila pengunjung masuk dari pintu gerbang istana, akan menemui dua buah gapura yang menyambut. Gapura pertama memiliki 3 pintu sementara gapura kedua memiliki 5 pintu. Pada gapura pertama terdapat tulisan ?Panabwara?. Kata itu, berdasarkan prasasti Wanua Tengah III, dituliskan oleh Rakai Panabwara, keturunan Rakai Panangkaran yang mengambil alih istana. Tujuan penulisan namanya adalah untuk melegitimasi kekuasaan, dan sebagai penanda bahwa itu adalah bangunan utama. Sekitar 45 meter dari gapura kedua, akan ditemui bangungan candi yang berbahan dasar batu putih sehingga disebut Candi Batu Putih. Tak jauh dari situ juga akan ditemukan Candi Pembakaran yang berbentuk bujur sangkar (26 meter x 26 meter) dan memiliki 2 teras. Sesuai dengan namanya, candi itu digunakan untuk pembakaran mayat. Selain kedua candi tersebut, di areal Candi Pembakaran juga terdapat sebuah batu berumpak dan kolam yang akan ditemui jika kalian berjalan kurang lebih 10 meter dari Candi Pembakaran.
Di area Ratu Boko terdapat juga sebuah sumur yang berada tidak jauh dari Candi Pembakaran. Konon, sumur tersebut bernama Amerta Mantana yang berarti air suci yang diberikan mantra. Air dari sumur ini masih digunakan untuk ritual umat Hindu (Tawur Agung di Prambanan) dan Buddha (Waisak di Candi Sewu).
Bangunan candi ini sendiri memperlihatkan adanya perpaduan antara unsur-unsur Hindu dan Buddha. Ini terlihat dari adanya patung Lingga dan Yoni, Arca Ganesha, serta lempengan emas yang bertuliskan Om Rudra Ya Namah Swaha. Ini adalah satu mantra pemujaan terhadap Rudra, nama lain dari Dewa Shiwa.
Tiket masuk ke candi ini Rp. 35.000,- untuk wisatawan domestik. Selain bisa merasakan sensasi kencan ala Rangga dan Cinta di AADC, wisatawan juga bisa melihat sunrise dan sunset dengan indah di candi yang berdiri agung di atas bukit ini.
