YOGYAKARTA, HarianBernas.com– Badan Lingkungan Hidup Kota Yogyakarta dibantu pasangan Russell Maier dan Ani Himawati, serta Jejaring Pengelola Sampah Mandiri kembangkan “ecobricks” atau batu bata ramah lingkungan untuk membantu penanganan sampah plastik, Rabu (1/6).
“Selama ini, sampah plastik sulit ditangani. Jumlahnya mencapai 14 persen dari total sampah yang dihasilkan Kota Yogyakarta. Sebesar 240 ton per hari,” jelas Faizah, Kepala Sub Bidang Daur Ulang Sampah Badan Lingkungan Hidup (BLH) Kota Yogyakarta di Yogyakarta.
Sampah plastik memerlukan 10 sampai 80 tahun untuk mengurai plastik secara alami. Jika dibakar, sampah plastik akan menghasilkan racun molekul dioxin. Selain itu, dapat mempengaruhi kesehatan manusia karena plastik yang terkena pancaran sinar matahari langsung akan mengeluarkan zat racun berbahaya untuk makanan atau minuman.
Untuk mengurangi sampah plastik, banyak diperlukan inovasi baru. Salah satunya, membuat “ecobricks” atau batu bata ramah lingkungan dengan sampah plastik sehingga dapat dimanfaatkan untuk kegunaan yang lain. Pembuatannya sangat mudah. Masyarakat pasti bisa membuatnya, jelas Faizah.
Caranya, batu bata ramah lingkungan dibuat dengan memasukkan dan memadatkan sampah plastik ke dalam botol plastik asal sampah yang dimasukkan harus dalam kondisi bersih dan kering. Sebuah botol plastik berukuran 600 mililiter dapat diisi 250 gram sampah plastik (setara dengan 2.500 bungkus plastik mi instan).
Sejak Maret, BLH Kota Yogyakarta menggencarkan sosialisasi ke masyarakat tentang “ecobricks”. Kini sudah ada hampir 6.000 “ecobricks” yang diproduksi masyarakat. “Ecobricks” dapat dimanfaatkan untuk berbagai hal, misal disusun menjadi bangku, meja, atau permainan edukatif untuk anak-anak. Penggunaannya tinggal ditempel menggunakan lem silikon menjadi bentuk yang diinginkan, imbuh Faizah.
BLH Kota Yogyakarta akan mencanangkan gerakan pembuatan “ecobricks” pada Jumat (3/6) di Gajahwong Educational Park.
