HarianBernas.com – Dalam film Rudy Habibie kata integritas tiba-tiba menggelitik penulis dan semoga juga menggelitik warga bangsa ini. Mengapa demikian! Di beberapa scene dialog film tersebut, diceritakan situasi Indonesia yang penuh gejolak di masa itu.
Nasionalisme mahasiswa, kondisi labil negara yang baru merdeka, hinaan negara lain, diskriminasi masyarakat berdasarkan warna paspor (biru vs hijau), hingga pidato Presiden Soekarno yang magis dan berapi-api disuguhkan dalam porsi yang pas, tak berlebihan.
Baca Juga: Inilah 10 Sertifikasi di Bidang SDM yang Ada di Universitas Mahakarya Asia
Obsesi Rudy Habibie
Film ini berkisah mulai dari masa kecil sang tokoh utama, Rudy Habibie (Reza Rahardian) di Sulawesi hingga kisah dramatis kehidupannya ketika menempuh pendidikan di Aachen, Jerman Barat.
Sejak kecil rupanya Rudy sudah terobsesi dengan pesawat, dan memang Rudy kecil sudah sangat jenius, Rudy sering bertanya dan berdiskusi dengan sang ayah (Doni Damara) tentang pesawat dan makna kehidupan. Memang tergambar jelas bahwa Rudy dibesarkan dalam keluarga yang bahagia dan religius.
Film ini juga menyuguhkan keseruan masa kecil Rudy seperti ketika ia mengajak teman-temannya mencari balon di kampungnya, namun bukan balon yang ditemukan, Rudy dan teman-temannya yang belum tahu balon yang sebenarnya itu seperti apa, justru malah menemukan kondom yang dikiranya sebagai balon, hingga akhirnya Rudy pun dihukum oleh Mami (Dian Nitami).
Kisah yang lebih menarik diceritakan ketika Rudy hidup di Jerman, sekitar tahun 50an. Rudy menempuh pendidikan di RWTH kota Aachen di Jerman bagian barat. Rudy bertemu dengan teman-temannya sesama Indonesia.
Ketika di Jerman, kehidupan Rudy tidak hanya dihabiskan dengan belajar di kampus saja, ia pun aktif dalam organisasi PPI (Perhimpunan Pelajar Indonesia) Aachen. Tidak hanya terkenal karena kejeniusannya saja, dalam film ini juga digambarkan bahwa Rudy sangat termotivasi dan percaya diri. Ia mencalonkan diri sebagai ketua pertama PPI Aachen hingga akhirnya ia pun terpilih.
Kisah Cinta Rudy Habibie
Dalam film ini, selain kisah cinta yang dramatis, diceritakan pula Rudy pun memiliki musuh ketika belajar di Jerman. Beberapa pelajar dari Indonesia yang lebih senior darinya rupanya tidak menyukai Rudy. Pelajar itu merupakan pelajar ikatan dinas atau Laskar Pelajar, mereka sering membully Rudy, mendiskriminasi Rudy karena perbedaan warna paspor, menyuruh Rudy untuk memesankan makanan dan minuman hinga mengeroyok Rudy yang dianggap telah menjelekkan image orang Indonesia. Tidak cukup dengan membully, mereka juga menentang visi Rudy ketika menjadi ketua PPI Aachen.
Penonton bisa mengetahui betapa besar nasionalisme para pelajar Indonesia saat itu ketika mereka belajar di negara orang. Dari organisasi PPI itu lah mereka turut memikirkan nasib negara Indonesia yang pada saat itu masih baru merdeka, walaupun ada beberapa perbedaan pendapat diantara anggota PPI Aachen.
Selain nasionalisme, ada hal lain yang bisa dicontoh dari film besutan sutradara Hanung Bramantyo ini, yaitu falsafah hidup, religiutas sang tokoh utama yang hidup di negeri Hitler hingga inspirasi untuk tetap memberikan yang terbaik dan mencintai tanah air, juga untuk memperjuangkan impian yang dimiliki.
Dalam film ini terlihat betapa pelajar Indonesia yang tergabung dalam organisasi Perhimpunan Pelajar Indonesia (PPI) di Eropa memiliki jiwa nasionalisme tinggi. Mereka di masa itu disibukkan dengan berbagai kegiatan kepemudaan, membahas masa depan Indonesia yang ada di pundak mereka. Pada scene rapat mahasiswa, misalnya, terucaplah kalimat bermakna dalam dalam dialog Rudy Habibie dengan sang Duta Besar Indonesia untuk Jerman:
“Buat apa merdeka jika negara tak memiliki integritas? “
“Moslem doesn’t belong to your country. Moslems are one family.”
“Bahasa adalah jendela untuk melihat dunia.”
Ada sebuah kebanggaan tersendiri melihat semangat dan spirit pemuda Indonesia yang begitu bangga dengan negaranya. Jiwa nasinoalisme dalam diri saya pun tiba-tiba menyeruak dalam jiwa karena kutipan inspiratif di film tersebut.
Baca Juga: Ingin SPP Kuliah Gratis? Ini Strategi Kerja Remote di Universitas Mahakarya Asia
Ironisnya, di saat yang sama, ada mbak-mbak di barisan kursi belakang penulis malah nyeletuk berbisik kepada kawannya, “Perasaan, temen gue yang kuliah di Jerman dan gabung di PPI, kerjaannya clubing dan mabok melulu, hari gini ngomongin integritas, basi kali” katanya.
Dalam gumam hati, penulis merasa geli sekaligus miris. Memang sih, Zaman berbeda, attitude-pun tak sama. Tapi biarlah, selepas menonton film tersebut penulis tetap tergerak untuk mencoba mencari tau tentang makna integritas. Izinkanlah penulis sekilas memaknai integritas dari referensi yang dimiliki.
Pengertian Integritas
Menurut Stanford Encyclopedia of Philosophy, inti dari pengertian integritas itu adalah kalau orang konsisten terhadap nilai- nilai pribadi; lalu komitmen terhadap nilai-nilai tersebut, termasuk nilai-nilai masyarakat, dan nilai-nilai moral, itulah dia orang yang memiliki integritas.
Integritas juga diartikan sebagai pengetahuan, kesadaran, penghayatan dan memegang teguh kepada nilai-nilai tersebut dalam setiap perkataan dan tindakan untuk mencapai kecemerlangan diri dan organisasi (Jamiah Manap).
Secara umum, integritas merujuk kepada kesatuan di antara nilai dan tingkah laku. Pellegrino, Roberts, dan Musschenga melihat integritas sebagai keselarasan nilai dengan tindakan seseorang. Dengan kata lain, ada satu kesatuan antara ucapan dan tindakan seseorang. Tapi rujukannya adalah nilai-nilai yang memang diakui baik. Dan menurut Syed Othman Alhabshi, sikap yang baik terbentuk apabila individu dapat mengendalikan emosinya dengan menggunakan nilai-nilai positif.
Integritas juga kemampuan untuk menepati janji. Dr. Henry Cloud dalam bukunya, integritas: Keberanian Memenuhi Tuntutan Kenyataan menekankan, bahwa integritas lebih dari sekadar kejujuran. “Ini kunci menuju kesuksesan,” katanya yakin.
Cloud mengatakan, bahwa seseorang dengan integritas memiliki kemampuan yang jarang ada untuk menyatukan semuanya, mewujudkan semuanya, sesulit apapun keadaannya. Ada sebuah kisah menarik yang mungkin pernah kita baca.
Saat George Washington masih kecil, ia tinggal di Virginia bersama orang tuanya. Ayahnya adalah seorang penggemar tanaman. Ayahnya menanam berbagai pohon. Di antara seluruh pohon, ayahnya sangat menyayangi sebuah pohon ceri bibit unggul dari seberang lautan yang sebentar lagi akan berbuah.
Pada suatu hari, George kecil bermain dengan kapak barunya.George dengan gembira bermain dan membelah potongan-potongan kayu dengan mengayunkan kapaknya. Beberapa saat kemudian, tanpa sadar ia mengayunkan kapaknya dan mengenai pohon ceri kecil kesayangan ayahnya. Pohon ceri tersebut terbelah dari atas ke bawah.
George kecil sangat terkejut. Sore hari saat ayahnya kembali, ia terkejut dan sangat marah.
“George!!!” teriak ayahnya,”Siapa yang menebang pohon ceriku?”
George terdiam sesaat, kemudian menjawab, “Aku tidak dapat berbohong Ayah, pohon itu terkena kapakku.”
Ayahnya menatap tajam, wajah George pucat pasi. Ayahnya berkata dengan tegas, “Kenapa kau menebang pohon itu?”
“Aku sedang bermain dan aku tidak sengaja,” jawab George terbata-bata.
Lalu ayahnya berkata, “Dan sekarang pohon itu akan mati. Kita tidak akan pernah mendapat buah ceri dari pohon itu.
Tetapi yang lebih buruk lagi, kau gagal mengurus pohon itu seperti yang kuharapkan.”
Kepala George kecil tertunduk menyesal dan berkata, “Maafkan aku Ayah.”
Tuan Washington lalu meletakkan tangannya di bahu anaknya,
“Pandang aku,” katanya,”Aku menyesal kehilangan pohon ceriku, tetapi aku senang bahwa kau cukup berani untuk berkata jujur. Aku lebih suka kau berkata jujur dan berani daripada memiliki seluruh kebun ceri yang paling unggul. Jangan lupaakan hal itu anakku.”
George Washington tidak pernah lupa, dan sampai akhir hayatnya ia tetap berani dan dihormati orang. Pengalaman masa kecil inilah yang menjadi bekal dan membawa George menuju kursi presiden AS pertama.
Apa pelajaran yang bisa kita petik dari kisah sederhana ini ? Integritas. Itulah kata yang tepat yang bisa mewakili kisah diatas. Semakin hari kita semakin sulit menemukan figur pemimpin yang berintegritas. Krisis integritas ini melanda kesemua kalangan.Termasuk pertanyaan seorang Rudy Habibie puluhan tahun lalu dalam scene film tersebut.
Orang yang kehilangan integritas justru dimulai dengan menurunnya standar integritas secara perlahan hingga sulit disadari, sukar dihentikan sampai akhirnya mencapai kondisi yang mematikan. Bersikap jujur, tulus, apa adanya, transparan, berani mengakui kesalahan, bertanggung jawab adalah sebagian kecil contoh yang harus dilakukan dalam keseharian kita.
Jadi, teringat almarhum Nurcholish Madjid pernah mengkhawatirkan bahwa bangsa Indonesia saat ini tengah menghadapi zaman yang penuh dengan masalah-masalah berat. Beberapa permasalahan aktual bangsa adalah salah satunya ketika terjadi krisis integritas pemimpin Negara.
Menurutnya, “Yang kita butuhkan adalah kepemimpinan kolektif (collective leadership) yang jujur, kreatif, dan inovatif. Perlu pemimpin yang berani membuat terobosan-terobosan baru untuk kebaikan bersama.” Pemimpin tersebut, tidak kaku atau terpenjara oleh aturan-aturan birokratis baku yang kini telah terbukti menyuburkan praktek-praktek korupsi dan manipulasi.Integritas itu seperti yang dicontohkan oleh Rasulullah SAW, konsisten, jujur dan satunya kata dengan perbuatan.
Imam B. Prasojo pernah menyampaikan bahwa untuk dapat mewujudkan itu, para pemimpin yang kita butuhkan adalah yang memiliki track record kejujuran dan kesungguhan kuat untuk melakukan perubahan mendasar.
Semoga melalui pertanyaan integritas dalam film Rudy Habibie ini, kembali dapat menghentak jiwa, pikiran dan hati kita sebagai warga bangsa untuk kembali melakukan kontemplasi seperti apa integritas yang kini kita miliki.
Jadilah Bagian dari Inovasi! Bangun Bisnis dengan Integritas ala Rudy Habibie
Seperti Rudy Habibie yang membangun mimpi dengan penuh dedikasi dan integritas, Anda pun bisa memulai bisnis yang berlandaskan kejujuran dan inovasi. Bergabunglah sebagai reseller laptop di Adolo, platform reseller inovatif yang memberi Anda peluang bisnis tanpa harus memiliki modal besar.
Di Adolo, Anda bisa mendapatkan keuntungan dari sistem arisan laptop yang transparan dan berbasis digital. Keuntungan besar menanti, mulai dari bonus referral hingga potensi penghasilan jutaan rupiah! Dengan konsep bisnis yang jujur dan sistem pemasaran yang terbuka, Anda bisa memiliki usaha sampingan sendiri dengan prinsip yang kuat, seperti yang diajarkan oleh Rudy Habibie dalam perjalanannya.
Strategi Cerdas Omnichannel: Bangun Bisnis yang Tumbuh Secepat Rudy Habibie Mewujudkan Mimpinya
Rudy Habibie tidak hanya bermimpi, tetapi juga bertindak dengan strategi yang tepat untuk mencapai kesuksesan. Dalam dunia bisnis digital saat ini, Anda pun bisa melakukan hal yang sama dengan menerapkan Omnichannel Sales Growth berbasis teknologi AI.
Dengan strategi omnichannel, Anda dapat meningkatkan pertumbuhan penjualan secara signifikan, menghubungkan berbagai platform pemasaran, dan memberikan pengalaman pelanggan yang lebih baik. Bisnis Anda tidak hanya menjangkau lebih banyak pelanggan, tetapi juga membangun loyalitas dengan pendekatan yang lebih personal dan efektif.***2
Muhammad Fahmi, ST, MSi
Pemerhati masalah Sumber Daya Manusia dan masalah Tematik Bangsa
Kandidat Doktor Program Studi Manajemen Sumber Daya Manusia
(Universitas Negeri Jakarta UNJ)
Master of Ceremony (MC), Trainer Publik Speaking/Kehumasan
Salam Merah Mempesona Menggelitik Hati
fahmizidane2003@yahoo.com atau WA: 08158228009
