HarianBernas.com – Ada sebuah eksperimen psikologi yang sangat menarik yang biasanya disebut dengan eksperimen kue. Eksperimen ini sebenarnya sangat menjelaskan bagaimana sifat manusia yang keluar saat mendapatkan kekuasaan atau kewenangan.
Beginilah eksperimen kue tersebut dilakukan. Perisetnya mendapatkan para relawan dan membaginya ke dalam kelompok berisi 3 orang. Masing-masing kelompok mendapat tugas kecil dan harus menuliskan laporan, sedangkan anggota ke 3 ditugaskan memeriksa untuk memastikan kedua temannya menulis laporan dengan benar.
Sederhananya, si orang ke 3 berada di posisi pengawas, posisi yg berkuasa, posisi yang lebih berwenang. Nah, bagian yang seru dari esperimen ini adalah ketika periset membawakan sepiring kue kering dan kopi karena pekerjaan mereka yang berat. Di piring tersebut sengaja diberikan 4 potong kue, yang artinya ada 1 kue lebih untuk kelompok itu.
Yang menjadi pertanyaannya adalah siapa yang mengambil 1 potong kue yang tersisa di piring tersebut ?
Ternyata dalam eksperimen tersebut menunjukkan bahwa yang mengambil kue ke 4 selalu orang yang ditugaskan sebagai pengawas. Para pengawas tanpa sadar selalu berpikir bahwa mereka layak untuk mendapatkan 1 potong kue yang tersisa tersebut.
Hal menarik lainnya adalah, ketika si pengawas yang telah memakan 2 kue atau lebih banyak dari yg lain, mereka tampak mencecerkan remah kuenya kemana-mana. Mereka menjadi kurang memiliki etika yg baik, sebab mereka menganggap ketika berada di posisi yg berwenang, peraturan tidak berlaku untuk mereka dan mereka merasa lebih pantas mendapatkan lebih dibanding lain.
Dari eksperimen itu kita menemukan bahwa saat orang berada di posisi berwenang tiba-tiba egonya meninggi, tiba-tiba saja dia merasa lebih hebat dari lain, tiba-tiba saja dia merasa lebih tau dari yang lain dalam segala hal.
Kalau sudah begini ya susah, kadang mata kita dibutakan oleh kewenangan kita sendiri. Kita merasa kita yang benar dan orang lain yang salah.
Maka tak jarang kita melihat orang yg mendapatkan kekuasaan tiba-tiba saja seperti berubah menjadi sosok orang lain.
Hal itu tidak akan terjadi kalau dalam suatu komunitas setiap orang mempunyai kewenangan yang sama. Sama seperti organisasi Teal dimana setiap orang punya kewenangan yang sama, semua orang sederajat, tidak ada yg di atas dan tidak ada yang di bawah.
Di organisasi Teal, orang orang tidak sibuk berpolitik lagi, tidak saling tusuk-tusukan lagi. Kok bisa ? Ya bisa saja, wong tidak ada posisi atasan yang mau direbutkan kok. Semua orang sejajar kok.
Dengan demikian orang akan mengurangi untuk memikirkan diri sendiri, orang-orang mulai terdorong untuk memikirkan “Kita”, “kelompok kita”, dan sudah pasti bisa maju lebih cepat.
Bagaimana dampak kewenangan menurut anda ?
Salam Dahsyat !!
Jansen Frank | Service Excellence Trainer
Bila Anda ingin mendapatkan pelajaran yang saya pelajari setiap hari gratis dan langsung saya kirimkan via WhatsApp ke Anda,silakan hubungi/SMS/WA ke: 0818 0856 5478 atau e-mail: jansen.franks@gmail.com
