HarianBernas.com – Manusia pada umumnya memiliki sifat kecenderungan untuk berbuat baik dan berbuat tidak baik. Kedua sifat tersebut sering tarik-menarik, yang satu ingin mendominasi yang lainnya. Kunci dari menumbuhkan sifat kebaikan dan menekan sifat ketidakbaikan adalah pengendalian diri.
Sedikitnya, ada 2 (dua) sifat tidak baik yang harus dikendalikan, yaitu ego dan kesombongan. Rasa ego sering berdampingan dengan rasa sombong. Seseorang yang memiliki rasa ego yang besar selalu merasa dirinya yang benar dan orang lain yang salah. Seseorang yang egonya besar selalu berpikir menurut perspektifnya sendiri dan tidak mau melihat perspektif orang lain. Mereka, selalu ingin dihargai dan tidak menghargai orang lain. Orang yang demikian, selalu ingin dihormati, tetapi tidak ingin menghormati orang lain.
Serupa dengan ego di atas, orang yang sombong selalu mengagung-agungkan dirinya. Merasa diri paling hebat dan menganggap orang lain rendah. Jika memiliki sedikit kelebihan sudah memamerkan seolah-olah hanya dirinya yang punya kelebihan. Orang lain dianggap kecil di mata mereka.
Gambaran orang yang demikian adalah seperti rumput ilalang. Rumput ilalang selalu menunjuk ke atas, tidak mau menunduk. Hal ini menggambarkan kepada orang yang selalu menyombongkan apa yang dimilikinya, tetapi sesungguhnya apa yang dimilikinya itu tidak seberapa dibandingkan orang lain.
Bagi orang yang memiliki kecenderungan sifat ego dan sombong di atas, ada baiknya merenungkan dan belajar kehidupan dari pohon padi. Lihatlah pohon padi, semakin berisi semakin menunduk. Pohon padi mengajarkan kepada kita bahwa janganlah sombong ketika kita memiliki kelebihan, tetapi sebaliknya tetap rendah hati kepada setiap orang sekalipun mungkin orang lain tidak memiliki kelebihan seperti yang kita miliki.
Ingat bahwa Tuhan menciptakan semua makhluk lengkap dengan kelebihan dan kekurangannya. Di satu sisi kita mempunyai kelebihan, di sisi lain kita juga memiliki kelemahan. Demikian juga dengan orang lain, walaupun orang lain lemah pada bidang yang kita kuasai, tetapi mereka di bidang lain akan punya kelebihan.
Oleh karenanya, sudah selayaknya kita saling menghargai dan menghormati setiap kelebihan dan kekurangan yang ada pada orang lain. Pasanglah cermin yang besar untuk diri sendiri sebelum melihat kelemahan orang lain. Artinya, lihatlah ke dalam bahwa kita punya kelemahan sebelum melihat kelemahan orang lain.
Orang bijaksana di Bali bertutur dalam sebuah karya yang apik pada sebuah kidung pupuh ginada, yaitu: ?De ngaden awak bisa, depang anake ngadanin, geginane buka nyampat, anak sai tumbuh luhu. Ilang luhu ebuke katah. Yadin ririh enu liu peplajahan.”
Terjemahan: jangan merasa diri paling bisa, biarkan orang lain melihat dan menilai diri kita seperti apa sesungguhnya. Seperti orang yang sedang menyapu, sampah akan selalu ada setiap saat. Walaupun sampah sudah tidak ada, maka akan digantikan oleh debu. Walaupun sudah pintar, masih banyak hal yang masih perlu dipelajari.
Pesan yang ingin disampaikan melalui kidung yang berisi kiasan di atas adalah jangan menyombongkan diri terhadap apa yang dimiliki, karena di atas langit masih ada langit, walaupun kita pintar, masih banyak orang yang lebih pintar. Walaupun kita menguasai satu bidang ilmu, tetapi masih banyak bidang ilmu lain yang tidak kita kuasai. Jadi tetaplah rendah hati atas kemampuan yang dimiliki, pada akhirnya orang lain akan memberikan penilaian yang sesungguhnya pada diri kita.
Perlu digaris bawahi bahwa kidung di atas tidak dimaksudkan bahwa kita tetap diam walaupun kita memiliki kemampuan dan keahlian tertentu. Sama sekali bukan demikian artinya. Hal ini perlu ditekankan karena banyak orang yang ?memplintir? makna kidung di atas, sebagai ungkapan orang yang koh ngomong (malas bicara). Tentu kita boleh berbicara, tentu boleh kita menunjukkan apa yang kita punya, tetapi cara kita berbicara dan cara menunjukkan kelebihan kita itulah yang harus diperhatikan. Berbicaralah dan tampilkanlah keahlian kita dengan tetap menjaga kerendahhatian dan sopan santun, itu kuncinya. Dengan demikian, apa yang kita katakan dan tunjukkan di dalamnya tidak ada kesan ego dan sombong.
I Gede Astawan # Penulis Buku Jalan Spiritual Meraih Kebahagiaan
Email: astawan@undiksha.ac.id
