HarianBernas.com – Edisi Idul Fitri 1 Syawal 1437H/2016 ini menjadi terasa istimewa bagi penulis. Kenapa demikian? Di hari lebaran tersebut, selepas mengikuti sholat Ied dan silaturahmi serta bermaaf-maafan dengan semua keluarga besar penulis, ada salah satu anggota keluarga menyampaikan ide untuk nonton bersama film Rudy Habibie di bioskop. Berangkatlah kami satu keluarga besar menuju bioskop di kawasan Taman Mini.
Baca juga: Jurusan IT: Pengertian, Mata Kuliah, dan Prospek Kerja Terbaru
Seperti Rudy Habibie yang berani bermimpi besar, seorang pemimpin SDM harus mampu membimbing tim menuju kesuksesan. Sertifikasi Manajer SDM membekali Anda dengan keterampilan manajemen strategis untuk menciptakan lingkungan kerja yang inspiratif.
Sejujurnya, ketika dalam perjalanan menuju bioskop untuk nonton film Rudy Habibie (Habibie & Ainun 2), penulis masih bertanya-tanya apa keistimewaan film tersebut. Biasanya, kalau mau nonton, penulis pasti browsing dulu untuk mengetahui setidaknya ringkasan singkat ceritanya atau minimal mendapat referensi dari rekan penulis.
Jadi, bisa dibilang, nonton film garapan Hanung Bramantyo ini tanpa beban ataupun ekspektasi tinggi. Terpikir saat itu, film ini paling sengaja dibuat karena ingin mengulangi kesuksesan yang pertama. Just like sekuel sebuah film fenomenal yang terbilang sukses menyedot penonton dan mungkin sedikit hanya mengejar kepentingan komersil.
Salah Satu Film yang Rekomended
Ternyata, dugaan penulis meleset. Film Rudy Habibie ini bagusnya melebihi ekspektasi. Hal-hal teknis seperti artistik, sound, dialog, kostum, makeup, soundtrack, berpadu harmonis dengan kekuatan akting yang diperankan oleh Reza Rahadian, Chelsea Islan, Panji Pragiwaksono, Dian Nitami, Dony Damara, Indah Permatasari, Ernest Prakasa, Boris Bokir, dan kawan-kawan serta beberapa filosofi hidup yang begitu menginspirasi.
Bicara soal akting Reza Rahadian, penulis benar-benar terhipnotis hingga hati bergumam, Reza memang “sakit jiwa”. Aktingnya makin lama semakin dahsyat luar biasa. Ia diberi karunia oleh Tuhan berupa talenta bisa memerankan beragam karakter. Sekalipun tidak memiliki garis wajah yang mirip dengan Habibie, kemampuan akting mengalahkan segalanya. Seperti sedang ‘kesurupan’, Reza bahkan bisa menirukan gerak-gerik Habibie dengan sempurna. Soal bahasa Jerman? Jangan ditanya! Reza terlihat begitu fasih menghapalkan dialog berbahasa Jerman. Lidahnya terdengar lebih lancar melafalkan bahasa negaranya Hitler ketimbang di film pertama dulu. Reza memang aktor yang jenius!
Baca juga: 14 Universitas Jurusan Teknik Informatika Terbaik di Indonesia
Terkait kualitas sound, ternyata penggarapan film ini melibatkan Sound Designer andalan film Hollywood, Chris David (American Pie, The Expendables, Donnie Darko), kualitas suara di film ini terdengar sangat jernih. Bisa diadu deh, dengan film-film berskala internasional. Soundtrack-nya pun melibatkan musikus kenamaan seperti, Melly Goeslaw, Anto Hoed, Tya Subiakto, Cakra Khan.
Melanjutkan Kesuksesan Film Pertama
Melanjutkan seri pertama Habibie Ainun, film ini sebenarnya merupakan prekuel yang menyoroti kehidupan tokoh jenius asal Indonesia dan idola penulis juga: Prof. Dr. Ing. H. Bacharuddin Jusuf Habibie (diperankan oleh Reza Rahadian) di masa muda. Saat itu, sekitar tahun 50-an, Presiden ke-3 RI ini semasa remaja kuliah di kota Aachen, Jerman.
Meski tema besarnya Habibie-Ainun, kisah percintaan yang lebih banyak dieksplor di sini adalah antara Habibie dan Ilona (diperankan oleh Chelsea Islan), wanita cantik dan cerdas asal Polandia. Berdasarkan kisah nyata Habibie sendiri, sebelum menikahi Ainun, ia memang pernah menjalin kasih dengan Ilona (seperti penuturan Pak Habibie dalam acara Mata Najwa).
Sayangnya, kisah cinta antara dua manusia jenius itu harus berakhir karena perbedaan kultur dan prinsip. Selain itu, Ibu Habibie (diperankan oleh Dian Nitami) juga terlihat kurang suka bila putranya itu menjalin asmara dengan wanita berkebangsaan asing. Meski akhirnya kandas, jalinan asmara Habibie-Ilona terbilang penting karena Ilona turut memberikan jasa dan semangat untuk Habibie dalam mewujudkan mimpi membangun industri penerbangan di Indonesia.
Baca juga: Inilah 10 Prospek Kerja Lulusan Akuntansi di Berbagai Profesi
Kepiawaian Sutradara
Dalam film ini, terlihat jelas bahwa Hanung selaku sutradara semakin piawai ‘bertutur’ di layar lebar. Penyutradaraan film berdurasi 2,5 jam ini sangat detail, rapi, dan artistik. Skrip garapan Gina S. Noer yang humanis menjadikan film ini terlihat lebih hidup. Tak seperti kebanyakan film Indonesia, film Rudy Habibie tidak terlalu banyak menyelipkan pesan sponsor. Kalaupun ada, hal itu ditampilkan dengan sangat realistis, bukannya hal yang dipaksakan. Pengambilan gambarnya pun dahsyat luar biasa. Alam Jerman yang indah, gereja tua yang eksotis, dan masyarakatnya yang dikenal arogan namun baik hati di masa itu tervisualisasi sempurna.
Sampai di adegan Bapak Habibie (diperankan Dony Damara) yang meninggal dunia saat sholat, saya tak kuasa menahan tangis. Emosi penulis juga teraduk-aduk menyaksikan Habibie, ibu, adik, dan kakaknya menangisi kepergian Ayah mereka. Walaupun penulis belum pernah merasakan belaian kasih sayang secara fisik dari Ayah karena ditinggal Ayah pergi 2 (dua) pekan sebelum penulis terlahir di dunia ini. Air mata pun tumpah secara diam-diam, dada pun terasa sesak menyaksikan adegan menyentuh itu. Untung saja scene tersebut segera berganti. Penulis jadi bisa mencuri waktu untuk menyeka air mata.
Emosional penonton dalam menonton film ini betul teraduk-aduk, penonton dibuat sedih ketika Rudy menangis saat sedang menelpon ibunya di Indonesia kemudian setelah itu penonton malah dibuat tegang ketika Rudy dibully. Penonton bisa saja dibuat tertawa oleh dialog dan adegan yang ada kemudian tiba-tiba penonton kembali dibuat sedih
Skrip yang ditulis oleh Gina S. Noer menjadi salah satu kekuatan film ini. I love all the dialogs in this movie: cerdas, tidak basa-basi, informatif, dan nampol banget(kata anak muda sekarang). Semua kalimat dibuat sesuai porsi dan sangat berbobot. Scene menegangkan, misalnya, disertai dialog yang berisi. Adegan menyedihkan disertai dialog penuh makna. Begitu pun dengan adegan lucu yang dibalut dalam dialog kocak nan cerdas.
Adegan yang Menginspirasi
Dalam salah satu dialog adegan antara Ayah Habibie dan Rudy Habibie yang menginspirasi penulis yaitu kurang lebih yang berbunyi seperti ini:
“Jadilah mata air. Kalau mata air itu kotor maka akan mengeluarkan air yang tidak bersih. Kalau kamu baik, di sekelilingmu akan baik. Tapi kalau kamu tak baik, di sekitarmu pasti kotor.”
“Mata air selalu muncul di tanah yang bergolak.”
“Jadi mata air itu susah. Air keruh kalau diaduk-aduk malah makin keruh. Makanya, kamu harus sabar menjalani (cobaan) hidup.”
Itulah quote inspiratif yang selalu diingat oleh rudy habibie dimana pun ia berada termasuk ketika kuliah di Jerman. Kalimat inspiratif ini mengingatkan penulis akan pesan yang disampaikan oleh guru agama penulis. “Sebaik-baiknya manusia di antara kalian adalah manusia yang bermanfaat bagi orang lain.” (HR. Thabrani)
Film ini juga seolah menyerukan kepada kita menjadi manusia yang berguna dan bermanfaat bagi orang lain. Sebab betapapun diri menginginkan sesuatu hal, dengan mengikuti hawa nafsu untuk meraih keinginan tersebut, pada kenyataannya akan selalu terasa tidak pernah cukup dan puas meski keinginan itu telah terpenuhi. Sehingga hawa nafsu terus memperbudak diri bila tak dapat dikendalikan lagi. Berbeda halnya, ketika kita melakukan kebaikan dan banyak hal yang bermanfaat bagi orang lain, maka perlahan-lahan hawa nafsu akan tunduk dan akan memberi kebahagiaan serta mengalirkan rejeki dengan atau tanpa kita sadari.
Baca juga: 11 Jurusan Di Universitas Mahakarya Asia dan Peluang Karirnya
Hal yang Bisa DiPelajari dari Film Rudy Habibie
Berbuat baik dan melakukan hal yang bermanfaat bagi orang lain bukan untuk pamer; ditunjukkan pada orang-orang disekitar, pada khalayak umum, bukan untuk maksud yang berujung pamrih atau tujuan yang tidak baik. Sebab bukankah akan hilang nilai pahalanya bila kebaikan digenangi oleh maksud dan tujuan tertentu, selain ikhlas dan “sembunyi-sembunyi” untuk mengindari riya.
Sebab tak sedikit dari mereka melakukan kebaikan yang bermanfaat bagi orang lain, hanya untuk mengejar pujian dan sanjungan, hanya ingin nampak selalu menjadi orang yang baik budinya di mata orang lain, hanya untuk melancarkan siasatnya, hanya untuk membungkam mulut-mulut yang dikhawatirkan kontra dengan tindakkannya, hanya ingin “mengambil hati” seseorang saja, hanya supaya sepaham dengannya, hanya agar selalu diingat dan dikenang, hanya agar mudah mengurus sesuatu, hanya agar banyak pendukungnya, hanya agar bisa ditutupi kesalahannya, hanya agar menuruti kemauannya, hanya agar orang-orang hormat dan sungkan terhadapnya, dan maksud serta tujuan buruk lainnya yang tidak semestinya mendasari niat kebaikan diri agar bermanfaat bagi orang lain.
“Dan tolong-menolonglah kamu dalam (mengerjakan) kebajikan dan takwa, dan jangan tolong-menolong dalam berbuat dosa dan pelanggaran. Dan bertakwalah kamu kepada Allah, sesungguhnya Allah amat berat siksa-Nya.” (QS. Al-Maidah (5): 2)
Sangat banyak kebaikan yang berguna dan bermanfaat bagi orang lain yang dapat kita lakukan. Saling mendoakan dan bersikap ramah terhadap siapapun juga sangat dianjurkan, agar diri menjadi pribadi yang jauh lebih baik lagi bak seperti mata air yang jernih (kalimat istimewa ayah Habibie kepada Rudy Habibie).
Apresiasi yang Tinggi
Pada akhir tulisan ini penulis ingin menyampaikan apresiasi setinggi-tingginya dan Salut untuk Manoj Punjabi dan MD Entertainment, Hanum Bramantyo sang sutradara, para pemain dan seluruh kru film ini yang kembali mengangkat kisah hidup tokoh sejenius dan sehebat Habibie. Sebuah keputusan tepat menyajikan kisah Habibie yang memang sarat inspirasi. Perjalanan hidup Habibie memang inspiratif. Jasa mendirikan industri pesawat terbang dan prestasinya mengharumkan nama Indonesia di mata dunia patut diketahui banyak orang. Ada banyak falsafah hidup, nilai moral, dan inspirasi yang terkandung dalam film ini. Terutama, gairah nasionalisme pemuda Indonesia di masa lampau yang patut dicontoh.
Film ini benar-benar story from zero to hero, mengajarkan kita bahwa untuk mencapai kesuksesan perlu kerja keras dan perjalanan yang panjang. Kisah film ini telah menginspirasi hidup banyak orang termasuk penulis, dan diharapkan juga akan menginspirasi para pemimpin bangsa, aamiin.
Seperti Rudy Habibie yang terus berinovasi, bisnis modern perlu strategi digital yang efektif. AI Powered SEO membantu bisnis Anda lebih mudah ditemukan di mesin pencari, meningkatkan visibilitas dan potensi keuntungan.
Belajar Teknik Industri, Ilmu di Balik Inovasi Teknologi
Seperti Rudy Habibie yang menggabungkan visi dan keahlian teknis, pendidikan yang tepat membantu menciptakan inovasi. Universitas Mahakarya Asia (UNMAHA) menawarkan program studi Teknik Industri yang membekali mahasiswa dengan keterampilan analitis dan teknologi untuk industri modern.
Seperti Rudy Habibie yang tak menyerah menghadapi tantangan, mahasiswa juga bisa mendapatkan akses pendidikan berkualitas. Beasiswa PBL memberikan kesempatan kuliah gratis sambil mengasah keterampilan kerja secara nyata.
Menjadi mahasiswa bukan sekadar belajar, tetapi juga tentang menemukan tempat yang tepat untuk berkembang. PMB UNMAHA menawarkan lingkungan akademik yang mendorong inovasi dan prestasi. Jangan ragu, segera daftar melalui WhatsApp PMB dan raih masa depan gemilang!
Bangun Bisnis Sukses dengan Menjadi Reseller Adolo
Seperti Rudy Habibie yang gigih menciptakan perubahan, Anda juga bisa memulai bisnis sendiri dengan produk berkualitas. Adolo menyediakan laptop, gadget, dan barang elektronik yang mendukung produktivitas sehari-hari.
Menjadi reseller Adolo memungkinkan Anda berbisnis tanpa modal besar. Dengan produk unggulan dan sistem terpercaya, Anda bisa meraih keuntungan sekaligus membantu orang mendapatkan teknologi terbaik! (4)
Muhammad Fahmi, ST, MSi
Pemerhati masalah Sumber Daya Manusia dan masalah Tematik Bangsa, Kandidat Doktor Program Studi Manajemen Sumber Daya Manusia Universitas Negeri Jakarta (UNJ), Master of Ceremony (MC), Trainer Publik Speaking/Kehumasan. Salam Merah Mempesona Menggelitik Hati.
fahmizidane2003@yahoo.com | WA: 08158228009
