Gunung Kidul, HarianBernas.com — Nelayan di Pantai Drini, Gunung Kidul, Yogyakarta mengeluh dengan banyaknya kepiting pengkok sejak sepekan terakhir karena tidak laku dijual dan merusak jaring, Kamis (25/8).
“Setiap melaut nelayan mendapatkan 40-50 kg (kepiting pengkok) yang tidak mempunyai nilai ekonomis dan merusak jaring,” jelas Eko Widiyanto, salah seorang nelayan Pantai Drini.
Sejak sepekan terakhir, kepiting pengkok banyak tertangkap di jaring nelayan. Kepiting pengkok tidak bisa dijual dan dimanfaatkan karena bercangkang keras dan tidak memiliki daging. Selain itu, kepiting pengkok merusak jaring nelayan Pantai Drini.
“Ini yang terbesar sejak beberapa tahun terakhir,” ucapnya.
Nelayan setempat biasanya hanya mengubur kepiting pengkok agar tidak berkembang biak kembali. “Kalau tidak dibuang, dapat kembali ke laut,” imbuhnya.
Sementara itu, Sarno, nelayan lain mengeluhkan minimnya tangkapan ikan di Pantai Drini sehingga sebagian nelayan memilih tidak melaut. Kalau nekad, hasilnya sedikit.
“Apalagi saat ini, tidak boleh membeli premium menggunakan jerigen. Selisih harga mencapai Rp300 mengakibatkan pengeluaran kami membengkak,” jelasnya.
Selain itu, dengan tidak adanya SPBU khusus nelayan di wilayah pantai selatan Gunung Kidul mengakibatkan nelayan harus mencari BBM hingga ke Kecamatan Wonosari karena paling dekat. Harapannya, Pemkab bisa mengeluarkan kebijakan khusus mengenai permasalahan yang dialami nelayan Gunung Kidul.
“Harapan saya, ada surat dispensasi,” pinta Sarno.
