Bantul, HarianBernas.com — Badan Lingkungan Hidup (BLH), Kabupaten Bantul, Yogyakarta, mengubah sampah sisa sayuran di pasar tradisional menjadi pupuk kompos untuk dibagikan kepada masyarakat yang memerlukan, Senin (29/8).
“Saat ini, pengelolaan sampah sisa sayuran dari pasar untuk dibuat kompos dilakukan di lima pasar tradisional,” jelas Sri Rahayu, Kepala Subbidang Pengembangan Kapasitas BLH Bantul.
Sejumlah tenaga diturunkan instansinya di masing-masing pasar untuk mengoperasikan mesin pencacah sampah organik dan upahnya berasal dari APBD Bantul setiap bulan. Untuk produksi pupuk komposnya di Piyungan dan Niten. Kompos dari lima pasar itu, total produksinya sekitar empat sampai lima ton per bulan dalam bentuk kompos kering.
Pengolahan sampah organik atau sisa sayuran pasar sudah dikerjakan sejak lima tahun lalu. Mulanya, dirintis di Pasar Imogiri karena melihat potensi sampah dan bertambah setiap tahunnya sampai menyasar lima pasar dari 29 pasar se-Bantul.
Pupuk kompos tersebut dibagikan kepada kelompok masyarakat, petani, sampai sekolah yang membutuhkan. Namun, harus mengajukan terlebih dulu ke BLH Bantul agar pemanfaatannya jelas dan terpantau.
?Kompos yang dihasilkan ini juga sudah diuji laboratorium dan hasilnya bagus untuk pertumbuhan tanaman,” katanya.
Lima pasar tradisional di Bantul yang sudah mengolah sampah sisa sayuran itu, yaitu Pasar Pijenen di wilayah Pandak, Pasar Imogiri, Pasar Piyungan, Pasar Niten Kecamatan Sewon, dan Pasar Jejeran di wilayah Kecamatan Pleret karena produksi sampah sisa sayurannya lebih banyak.
